Ilustrasi. Foto: dok Metrotvnews.com
Contek Tiongkok hingga Jepang, Rosan: PSEL Tidak Bau, Bahkan Berdiri di Permukiman Elite
Husen Miftahudin • 8 July 2026 11:27
Bali: Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Perkasa Roeslani menegaskan pengembangan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) merupakan salah satu langkah untuk mempercepat penyelesaian persoalan sampah di Indonesia.
Menurut Rosan, pembangunan PSEL sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar persoalan sampah segera ditangani sehingga tidak menjadi beban pada masa mendatang. Ia menilai pengelolaan sampah tidak hanya berkaitan dengan produksi energi listrik, tetapi juga menyentuh aspek lingkungan, kesehatan masyarakat, keselamatan, dan tata kelola.
"Problem sampah ini adalah problem kita yang harus kita selesaikan secepat mungkin, sesegera mungkin, sehingga tidak akan menjadikan beban di kemudian hari," ujar Rosan dalam acara penandatanganan Power Purchase Agreement (PPA) dan peresmian pembangunan PSEL Denpasar Raya, Bali, Rabu, 8 Juli 2026.
Rosan menjelaskan teknologi yang diterapkan dalam proyek PSEL telah digunakan di sekitar 50 negara. Teknologi tersebut mampu mengolah berbagai jenis sampah, baik sampah baru maupun sampah lama.
| Baca juga: Danantara Bidik PSEL Bali Selesai Lebih Cepat, Rosan Optimistis Tuntas 2027 |
.jpg)
(Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Indonesia Rosan Perkasa Roeslani. Foto: Tangkapan layar)
Contek Tiongkok hingga Jepang
Rosan mengatakan pengalaman mengunjungi sejumlah fasilitas PSEL di Tiongkok, Jepang, dan beberapa negara lain menjadi referensi dalam pengembangan proyek tersebut.
Menurut dia, fasilitas PSEL di sejumlah negara beroperasi dalam kondisi bersih, tidak menimbulkan bau, bahkan dibangun di kawasan permukiman.
Ia mencontohkan salah satu fasilitas PSEL di Tiongkok yang berada di tengah kawasan hunian elite. Di sekitar fasilitas tersebut juga tersedia taman baca dan area rekreasi bagi anak-anak.
Rosan menilai keberadaan fasilitas tersebut mengubah pandangan masyarakat terhadap pengolahan sampah yang selama ini identik dengan kondisi kumuh dan berbau.
"Kesan pengolahan sampah yang kotor, bau, dan harus dijauhkan dari masyarakat diharapkan berubah. Fasilitas seperti ini justru bisa menjadi tempat yang bersih, nyaman, sekaligus sarana edukasi dan ruang publik," jelas Rosan.