Wall Street Menguat Ditopang Inflasi AS yang Melandai dan Kinerja Bank Besar

Ilustrasi Wall Street. Foto: Xinhua

Wall Street Menguat Ditopang Inflasi AS yang Melandai dan Kinerja Bank Besar

Eko Nordiansyah • 15 July 2026 08:19

New York: Indeks saham Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Selasa, 14 Juli 2026. Sentimen positif datang dari data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah dari perkiraan serta laporan keuangan sejumlah bank besar yang melampaui ekspektasi pasar.

Dikutip dari Investing, Rabu, 15 Juli 2026, indeks S&P 500 naik 0,4 persen ke level 7.544,63. Nasdaq Composite menguat 0,9 persen menjadi 26.107,01, sedangkan Dow Jones Industrial Average naik tipis dan ditutup di level 52.508,66.

Pelaku pasar juga mencermati perkembangan situasi di Timur Tengah, kesaksian Federal Reserve di Kongres, serta laporan keuangan emiten besar seperti Goldman Sachs, JPMorgan, dan IBM.

Inflasi AS melambat

Perhatian investor tertuju pada rilis indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) AS periode Juni.

Berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS, CPI utama turun 0,4 persen secara bulanan (month-to-month/mtm), menjadi penurunan bulanan terbesar sejak April 2020.

Sementara itu, CPI inti yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi tercatat stagnan setelah pada Mei naik 0,2 persen (mtm). Sebelumnya, ekonom memperkirakan CPI utama turun 0,1 persen dan CPI inti naik 0,3 persen.
(Ilustrasi. Foto: Freepik)

Secara tahunan, CPI utama naik 3,5 persen dan CPI inti meningkat 2,6 persen pada Juni. Keduanya lebih rendah dibandingkan perkiraan masing-masing sebesar 3,8 persen dan 2,9 persen, sekaligus menunjukkan perlambatan dibandingkan bulan sebelumnya.

Penurunan inflasi terutama dipicu oleh turunnya harga bensin sebesar 9,7 persen (mtm), menjadi penurunan bulanan terbesar sejak Agustus 2022. Kondisi tersebut mendorong harga energi secara keseluruhan turun 5,7 persen (mtm), penurunan terdalam sejak April 2020.

Penurunan harga energi sebelumnya dipengaruhi oleh penandatanganan nota kesepahaman (MoU) sementara antara AS dan Iran pada pertengahan Juni yang membuka kembali Selat Hormuz. Jalur pelayaran tersebut merupakan rute penting bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia sehingga membantu meredakan kekhawatiran pasokan dan menekan harga minyak mentah Brent lebih dari 20 persen sepanjang bulan lalu.

Namun, kondisi kembali berubah pada Juli seiring meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran. Ketegangan tersebut memicu lonjakan harga minyak Brent lebih dari sembilan persen hanya dalam satu hari perdagangan pada Senin.

Goldman Sachs melonjak, IBM tertekan

Musim laporan keuangan kuartal II juga menjadi perhatian pasar. JPMorgan dan Bank of America mencatatkan pendapatan serta laba bersih yang melampaui ekspektasi, didukung peningkatan aktivitas perdagangan dan transaksi korporasi.

Goldman Sachs, Citigroup, dan Wells Fargo juga membukukan kinerja yang lebih baik dari perkiraan. Kelima bank tersebut turut memperoleh dorongan dari pendapatan yang berasal dari keterlibatan mereka dalam penawaran umum perdana (IPO) SpaceX.

Meski demikian, pergerakan saham bank bervariasi. Saham JPMorgan naik 2,5 persen, Goldman Sachs melonjak 9,1 persen, dan Bank of America menguat 1,9 persen. Sebaliknya, Wells Fargo turun 2,7 persen, sedangkan Citigroup melemah 5,3 persen.

Di sisi lain, saham IBM anjlok lebih dari 25 persen setelah perusahaan melaporkan pendapatan kuartalan awal yang berada di bawah konsensus pasar. IBM menyebut pelemahan tersebut dipengaruhi perubahan prioritas belanja teknologi informasi (TI) perusahaan, banyak klien mengalihkan anggaran dari perangkat lunak dan mainframe ke investasi pada server, penyimpanan data, dan memori.

(Eko Nordiansyah)