Burhan Tegaskan Tak Akan Ada Perdamaian di Sudan Sebelum RSF Dieliminasi

Ketua Dewan Kedaulatan Sudan Abdel Fattah al Burhan. (Anadolu Agency)

Burhan Tegaskan Tak Akan Ada Perdamaian di Sudan Sebelum RSF Dieliminasi

Willy Haryono • 26 January 2026 07:26

Port Sudan: Ketua Dewan Kedaulatan Sudan Abdel Fattah al Burhan menegaskan bahwa tidak akan ada perdamaian di Sudan sampai Pasukan Dukungan Cepat (RSF) dieliminasi.

Berbicara kepada wartawan di kediamannya di Port Sudan pada Minggu, Burhan mengatakan, “Tidak akan ada perdamaian sampai RSF dieliminasi, dan setiap proposal solusi yang melibatkan RSF tidak lebih dari sekadar menunda krisis."

"Solusi yang berkelanjutan adalah mengeliminasi RSF. Ini tidak berarti mereka semua harus mati; bisa juga berarti mereka meletakkan senjata dan menyerah," ungkapnya, dikutip dari TRT World, Senin, 26 Januari 2026.

Burhan menekankan bahwa konflik tersebut telah menyebabkan kehancuran luas, menimbulkan korban sipil dalam jumlah besar serta kerusakan material di berbagai wilayah negara. Ia menambahkan bahwa tidak ada satu pun warga Sudan yang tidak terdampak perang, dan masyarakat tetap bersatu menentang kelompok pemberontak tersebut.

Menanggapi upaya internasional untuk menengahi gencatan senjata, Burhan menunjuk meningkatnya seruan gencatan senjata setelah jatuhnya kota Al Fasher pada Oktober, yang menurutnya bertepatan dengan upaya memberi ruang bagi RSF untuk memperluas wilayah kekuasaannya.

“Tidak ada usulan gencatan senjata selama pengepungan Al Fasher,” katanya. “Setelah kota itu jatuh, seruan meningkat karena mereka ingin RSF menguasai lebih banyak wilayah.”

RSF menolak mediator

Burhan mengatakan Sudan mengusulkan Turki atau Qatar sebagai mediator, namun RSF menolak gagasan tersebut. Ia menambahkan bahwa negara-negara kawasan seperti Arab Saudi dan Mesir juga dapat memainkan peran.

“Kami percaya kepada Tuhan terlebih dahulu, lalu kepada (Presiden Turki Recep Tayyip) Erdogan,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa RSF dan tentara Sudan bukan kekuatan yang setara. “Dua pihak yang bertempur di sini tidak setara. RSF tidak setara dengan tentara Sudan. Seluruh dunia mengatakan hal ini,” katanya.

Meski ada resolusi PBB, Burhan mengatakan RSF masih terus melakukan serangan dan menyelundupkan senjata ke Sudan, khususnya ke wilayah Darfur, tanpa menghadapi tindakan efektif.

“Kami, sebagai rakyat Sudan dan tentara, bertekad untuk mengeliminasi RSF,” katanya. “Kami terbuka terhadap semua solusi damai.”

Sudan telah dilanda pertempuran sejak April 2023 antara tentara Sudan dan RSF akibat perselisihan terkait penyatuan militer. Konflik ini memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia, dengan puluhan ribu orang tewas dan jutaan lainnya mengungsi.

Baca juga:  Serangan RSF di Sudan Tewaskan Lebih dari 100 Orang, Ribuan Mengungsi ke Chad

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)