Rusia Desak Solusi Politik Akhiri Perang Iran Melawan AS-Israel

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov. Foto: TASS

Rusia Desak Solusi Politik Akhiri Perang Iran Melawan AS-Israel

Dimas Chairullah • 24 March 2026 19:15

Moskow: Pemerintah Rusia secara resmi menyerukan penyelesaian secara "politik dan diplomatik" guna mengakhiri eskalasi perang di Timur Tengah antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Seruan ini muncul di tengah klaim mengejutkan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyebut Washington dan Teheran telah memulai pembicaraan.

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, mendesak adanya penghentian permusuhan segera dalam pembicaraan telepon dengan Menteru luar negeri Iran Abbas Araghchi. Rusia menekankan pentingnya solusi yang mempertimbangkan kepentingan sah semua pihak, terutama Iran.

"Situasi ini harus segera beralih ke penyelesaian politik dan diplomatik. Ini adalah satu-satunya hal yang secara efektif dapat meredakan ketegangan  yang kini berkembang di kawasan tersebut," ujar Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, dikutip dari Channel News Asia, Selasa, 24 Maret 2026.


Klaim Kontradiktif Trump dan Teheran

Di saat Rusia mendorong diplomasi, Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa kedua belah pihak telah mengadakan "percakapan yang sangat baik dan produktif" selama dua hari terakhir mengenai resolusi total atas konflik bersenjata tersebut.

Trump juga menyatakan telah memerintahkan penghentian rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran. Langkah ini diambil setelah sebelumnya ia mengeluarkan ultimatum agar Iran membuka kembali Selat Hormuz, jalur  vital yang lumpuh sejak dimulainya serangan  AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.

Namun, pernyataan Trump dibantah keras oleh pihak Iran. Media lokal Teheran, mengutip sumber di Kementerian Luar Negeri, menegaskan bahwa tidak ada negosiasi apa pun dengan Washington. Mereka menilai pernyataan Trump hanyalah upaya untuk menekan harga energi global yang melonjak.

Peringatan Bahaya Fasilitas Nuklir

Selain mendorong solusi damai, Rusia juga menyuarakan kekhawatiran serius terkait keamanan fasilitas nuklir. Rusia, yang membantu membangun pembangkit listrik nuklir Bushehr di Iran, memperingatkan bahwa serangan terhadap situs-situs tersebut dapat memicu konsekuensi yang tidak dapat dipulihkan.

"Kami menganggap serangan terhadap fasilitas nuklir berpotensi sangat berbahaya. Ini menimbulkan ancaman keamanan yang sangat serius jika tren ini terus berlanjut," tegas Peskov.

Rusia, sebagai salah satu sekutu terdekat Iran, sejauh ini mengecam serangan AS dan Israel terhadap negara tersebut, namun belum menawarkan dukungan militer secara terbuka. Rusia memilih untuk tetap berada di jalur diplomatik guna mencegah pecahnya perang skala penuh di kawasan Timur Tengah.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)