Ilustrasi. Foto: Magnific.
Indonesia Harus 'Siap Tempur' Hadapi Gempuran Teknologi AI
Ade Hapsari Lestarini • 11 May 2026 12:51
Jakarta: Banyak yang menganggap kecerdasan buatan (AI) cuma alat bantu praktis untuk mengerjakan tugas sekolah atau sekadar membuat konten media sosial. Padahal, di balik kemudahan itu, AI diam-diam sedang membentuk ulang tatanan dunia baru. Realitas penting inilah yang dikupas habis dalam panel 'AI. Power. Global Order' dalam konferensi nasional The Cornerstone.
Dalam forum lintas generasi tersebut, dinamika diskusi menyoroti realitas pelajar yang kini hidup berdampingan dengan algoritma. Tampil menyuarakan perspektifnya, perwakilan pelajar memaparkan keresahan tentang bagaimana algoritma media sosial dengan sangat halus mampu menyetir pola konsumsi dan membentuk opini publik. Generasi muda saat ini mulai menyadari selera, opini, dan ketertarikan mereka tidak lagi sepenuhnya mandiri, melainkan banyak dibentuk oleh mesin.
Dari situ, muncul kekhawatiran mendalam, apa yang mereka sukai atau percayai sebenarnya bisa saja dipengaruhi oleh kepentingan global tertentu, hanya saja pengaruh tersebut sering kali beroperasi di balik layar dan sulit terlihat secara kasat mata.
Merespons keresahan mengenai dominasi teknologi tersebut, mantan Menteri Perdagangan RI Tom Lembong menarik isu ini ke dalam konteks makroekonomi dan persaingan global. Ia membedah realitas penguasaan infrastruktur teknologi telah menjadi penentu kekuatan suatu negara. Tom menyoroti pentingnya konsistensi regulasi agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar konsumen, berkaca pada negara-negara tetangga yang telah berhasil mendominasi produksi teknologi karena komitmen jangka panjang mereka.
"Kalau gelombang ini Indonesia sudah ketinggalan kereta, Malaysia sudah mengoperasi 60 persen dari kapasitas data center di Asia Tenggara, 60-80 persen hard drive semua di dunia diproduksi oleh Thailand, dan ini adalah buah dari sebuah kebijakan yang konsisten selama puluhan tahun," papar Tom Lembong, dikutip dalam keterangan tertulis, Senin, 11 Mei 2026.
Mengingat persaingan language model AI nantinya hanya akan berujung menjadi komoditas biasa, ia menegaskan Indonesia harus segera bersiap untuk ikut bertempur di gelombang teknologi selanjutnya.
Tom Lembong. Foto: dok eduall.
Ancaman teknologi AI
Ancaman dari pusaran teknologi ini kemudian ditanggapi oleh Founder Akademi Kader Bangsa, Miftah Sabri, melalui lensa pendidikan. Menurutnya, meskipun AI sangat membantu secara konseptual, teknologi ini juga berisiko membuat anak-anak menjadi malas. Miftah menekankan urgensi untuk tetap memberlakukan aspek belajar manual agar proses memori dan "filter" intelektual terbentuk dengan kokoh di kepala siswa. Hal ini mutlak diperlukan agar calon-calon pemimpin menuju Visi Indonesia Emas 2045 tidak tumbuh menjadi generasi yang mudah dimanipulasi oleh mesin.
"AI tidak lebih dari sebuah alat, dia seperti pisau, dia seperti sempoa. Di tangan orang yang benar dia akan menjadi alat yang powerful, di tangan orang yang kurang ada isi kepalanya, nah kita kembali ke zaman batu. Tidak bisa kita menyerahkan anak-anak penerus bangsa ini secara penuh kepada AI," tegas Miftah Sabri.
Pemandangan unik di mana pelajar belasan tahun duduk setara membahas masa depan dunia ini adalah hasil nyata dari inisiatif EduALL. Selama ini, EduALL dikenal sebagai konsultan pendidikan yang mendampingi persiapan siswa untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri. Melalui forum ini, EduALL membuktikan bahwa fokus mereka bukan hanya soal nilai akademis, tapi juga pembentukan karakter Game Changer.
Melalui The Cornerstone, EduALL memberikan ruang bagi pelajar untuk mempraktikkan growth mindset dan kemandirian intelektual mereka di depan para ahli. Apalagi selama ini, berbagai kebijakan masa depan Indonesia sering kali diputuskan tanpa sungguh-sungguh melibatkan suara anak muda. Karena itulah, EduALL berharap forum ini bisa menjadi fondasi awal di mana perumusan gagasan dan regulasi negara mulai terbiasa merangkul para calon pemimpin bangsa. Hal ini sejalan dengan pernyataan CEO EduALL, Devi Kasih, yang mengapresiasi keberanian para siswa dalam menyampaikan pandangan kritis mereka selama konferensi berlangsung.
"Kita benar-benar nggak menyangka energi anak-anak muda luar biasa banget. Di forum ini, mereka nggak cuma duduk diam mencatat, tapi berani melempar pandangan kritis ke para profesional," ujar CEO EduALL, Devi Kasih.
Di samping memfasilitasi pertukaran gagasan yang kaya wawasan, The Cornerstone juga membuahkan jejak sosial yang nyata. Mengukuhkan komitmen inklusivitasnya, EduALL berkolaborasi dengan Indonesia Mengajar untuk menyalurkan 100 persen dana hasil penjualan tiket dan donasi demi memperluas akses pendidikan berkualitas di berbagai pelosok Nusantara.