Profil dan Rekam Jejak Ali Larijani, Pejabat Keamanan Tertinggi Iran yang Tewas

Ali Larijani. (X/@alilarijani_ir)

Profil dan Rekam Jejak Ali Larijani, Pejabat Keamanan Tertinggi Iran yang Tewas

Riza Aslam Khaeron • 18 March 2026 11:34

Jakarta: Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (Supreme National Security Council) Iran, Ali Larijani dikonfirmasi gugur akibat serangan yang diklaim dilakukan pihak Israel.

Setelah wafatnya Khamenei, Larijani muncul sebagai wajah perlawanan Teheran melawan serangan Amerika Serikat dan Israel. Kemunculannya terjadi di tengah tanda tanya besar terkait keberadaan Mojtaba Khamenei, yang secara resmi merupakan Rahbar (Pemimpin Tertinggi) yang baru.

Sekitar 24 jam setelah serangan di Teheran yang menewaskan Khamenei, Larijani tampil di televisi nasional dan media sosial untuk mengecam AS dan Israel karena telah membuat "hati bangsa Iran berkobar."

"Kami akan membakar hati mereka," tegasnya. "Kami akan membuat para penjahat Zionis dan warga Amerika yang tidak tahu malu menyesali perbuatan mereka."

Namun, Larijani bukan sekadar simbol perlawanan pascakematian sang Rahbar. Melansir laporan New York Times (NYT), Larijani telah diangkat sebagai pemimpin de facto Iran untuk menindak aksi protes antipemerintah pada bulan Januari, yang menyebabkan ribuan korban jiwa.

Berikut adalah profil mendalam Ali Larijani:
 

Lahir dari Keluarga "Kennedy" Iran


Larijani. (Telegram IRGC)

Ali Larijani lahir pada 3 Juni 1958 di Najaf, Irak, dari keluarga kaya asal Amol, Iran. Ia tumbuh dalam lingkungan elite religius yang sangat kental. Ayahnya, Mirza Hashem Amoli, merupakan seorang ulama terkemuka yang mencapai derajat Grand Ayatollah.

Pengaruh besar keluarga ini terlihat dari saudara-saudara Larijani yang menduduki posisi-posisi kunci di Iran; mulai dari lembaga yudisial, kebijakan luar negeri, hingga Majelis Ahli—lembaga yang berwenang memilih dan mengawasi Pemimpin Tertinggi. 

Hubungan Larijani dengan elite revolusi Iran juga semakin kokoh melalui pernikahannya dengan Farideh Motahari, putri dari Morteza Motahhari, tokoh ideologis penting yang sangat dekat dengan Ayatollah Ruhollah Khomeini pada masa Revolusi 1979. 

Karena pengaruh mereka yang sangat luas dalam politik dan kehidupan keagamaan, majalah Time pada 2009 menjuluki keluarga ini sebagai “the Kennedys of Iran” (Keluarga Kennedy dari Iran).

Berbeda dengan mayoritas elite Republik Islam yang hanya menempuh jalur pendidikan agama, Larijani memiliki latar belakang akademik yang sangat beragam. Meskipun sempat mengenyam pendidikan di seminari agama, ia mengambil studi Matematika dan Ilmu Komputer di Sharif University of Technology dan meraih gelar sarjana pada 1979. 

Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Teheran untuk meraih gelar magister dan doktor dalam bidang filsafat Barat. 

Fokus akademiknya, termasuk disertasi doktoralnya pada 1995, membahas pemikiran filsuf Jerman, Immanuel Kant. Kombinasi unik antara pendidikan agama, sains, dan filsafat inilah yang membuat profil Larijani dipandang berbeda dibanding tokoh konservatif Iran lainnya.

Karier politik Larijani dibangun dari perpaduan latar belakang keluarga, pengalaman tempur, dan kedekatannya dengan struktur kekuasaan. Pasca-Revolusi 1979, ia bergabung dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada awal 1980-an dan sempat menjabat sebagai komandan pada tahun-tahun awal Perang Iran-Irak. 

Dari militer, ia beralih ke pemerintahan dan menanjak dengan cepat. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Kebudayaan di era Presiden Akbar Hashemi Rafsanjani. 

Setelah itu, ia dipilih langsung oleh Ayatollah Ali Khamenei untuk memimpin lembaga penyiaran negara, IRIB.

Larijani sempat kalah dalam pemilihan presiden Iran pada 2005. Namun, ia kemudian dipercaya menjadi Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi sekaligus kepala negosiator nuklir, sebelum akhirnya mengundurkan diri pada 2007 karena disebut-sebut memiliki perbedaan pendapat dengan Presiden Mahmoud Ahmadinejad.

Puncak karier elektoralnya tercapai saat ia menjabat sebagai Ketua Parlemen Iran selama tiga periode berturut-turut, dari tahun 2008 hingga 2020.

Peran Diplomasi dan Tekanan Domestik


Larijani di unjuk rasa hari Quds, 13 Maret 2026. (X/@alilarijani_ir)

Meskipun meninggalkan posisi negosiator nuklir pada 2007, Larijani tidak pernah benar-benar tersingkir dari lingkaran pusat kekuasaan. Keberhasilannya mengamankan posisi Ketua Parlemen selama 12 tahun menjadi buktinya.

Dari kursi legislatif itulah Larijani memainkan peran diplomatik paling krusial dalam kariernya: membantu mengamankan dukungan politik bagi Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) atau kesepakatan nuklir 2015 antara Iran dan enam kekuatan dunia (AS, China, Rusia, Jerman, Inggris, dan Prancis).

Bahkan setelah kesepakatan tersebut dibatalkan secara sepihak oleh Donald Trump pada 2018, posisi Larijani sebagai operator politik tetap tak tergoyahkan. Pada 2020, ia kembali diberi mandat strategis untuk mengawasi kerja sama jangka panjang 25 tahun antara Iran dengan China, yang difinalisasi pada tahun berikutnya.

Namun, kiprah diplomatiknya selalu dibayangi oleh gesekan politik internal. Benturannya dengan kubu garis keras terus mewarnai perjalanan kariernya.

Saat mencoba maju kembali dalam pemilihan presiden 2021, Larijani secara mengejutkan didiskualifikasi oleh Dewan Garda tanpa penjelasan resmi. Berbagai spekulasi pun bermunculan, mulai dari isu hubungan keluarganya dengan pihak Barat hingga dugaan bahwa penyingkirannya dilakukan sengaja untuk memuluskan jalan bagi kandidat pilihan rezim, Ebrahim Raisi. 

Bahkan saudaranya sendiri, Sadeq Larijani, sempat memprotes keras keputusan tersebut dan menyebut adanya campur tangan informasi palsu dari badan intelijen. Tekanan politik ini berlanjut hingga tahun 2024; setelah kematian Ebrahim Raisi, Larijani kembali mencoba peruntungan dalam pilpres, namun ia kembali dilarang ikut serta.
 
Baca Juga:
Iran Pastikan Pejabat Keamanan Tertinggi, Ali Larijani Gugur dalam Serangan AS-Israel
 

Pemimpin De Facto dan Protes Januari 2026


Ali Khamenei (kiri) dan Ali Larijani. (via Iran International)

Pada perang 12 hari di bulan Juni lalu, saat menghadapi rentetan serangan dan potensi pembunuhan oleh Israel, Ali Khamenei memilih Larijani sebagai bagian dari lingkaran kepercayaan utamanya. 

Mengutip laporan NYT, lingkaran ini juga mencakup penasihat militer utama sekaligus mantan panglima Garda Revolusi, Mayjen Yahya Rahim Safavi; Brigjen Mohammad Bagher Ghalibaf (Ketua Parlemen saat itu yang ditunjuk Khamenei sebagai wakil de facto untuk memimpin angkatan bersenjata selama perang); serta kepala stafnya, Ali Asghar Hejazi.

Menurut Nasser Imani, seorang analis konservatif yang dekat dengan pemerintahan, Ayatollah Khamenei memiliki hubungan yang sangat lama dan dekat dengan Larijani. Sang Pemimpin Tertinggi berpaling kepadanya di masa krisis militer dan keamanan yang akut ini.

"Pemimpin Tertinggi sepenuhnya mempercayai Larijani. Beliau meyakini bahwa Larijani adalah orang yang tepat untuk masa-masa sensitif ini karena rekam jejak politiknya, kecerdasannya, dan pengetahuannya," ujar Imani. "Beliau mengandalkannya untuk laporan situasi dan saran-saran praktis. Peran Larijani akan sangat menonjol selama masa perang."

Pada awal Januari 2026, ketika Iran dihantam gelombang protes nasional sekaligus ancaman serangan Amerika Serikat, Ayatollah Ali Khamenei secara resmi beralih kepada Ali Larijani untuk mengendalikan negara. 

Berdasarkan laporan NYT pada periode tersebut, Larijani bukan lagi sekadar pejabat keamanan senior, melainkan sosok yang "secara efektif telah menjalankan pemerintahan negara." Kenaikan pengaruhnya ini disebut NYT membuat posisi Presiden Masoud Pezeshkian semakin terpinggirkan dari pusat pengambilan keputusan.

Ia disebut memimpin langsung penumpasan protes Januari yang menuntut berakhirnya pemerintahan Islam dengan menggunakan kekuatan militer. Berdasarkan laporan HRANA, lebih dari 7.000 orang tewas dalam aksi protes tersebut, sementara lebih dari 11.000 laporan kematian lainnya masih dalam proses peninjauan.

Menyusul tindakan represif tersebut, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadap beberapa pejabat tinggi Iran pada 15 Januari 2026, termasuk Larijani.

"Larijani adalah salah satu pemimpin Iran pertama yang menyerukan kekerasan dalam menanggapi tuntutan sah rakyat Iran," tulis Departemen Keuangan AS dalam pernyataan resmi di laman mereka.

"Larijani bertanggung jawab mengoordinasikan respons terhadap protes atas nama Pemimpin Tertinggi Iran dan secara terbuka telah memerintahkan pasukan keamanan Iran untuk menggunakan kekuatan guna menumpas rakyat," tambahnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Arga Sumantri)