Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Ghofur Maimoen (Gus Ghofur) (tengah). Foto: istimewa.
Kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa Jadi Inspirasi Generasi Muda NU
Anggi Tondi Martaon • 11 July 2026 21:45
Jakarta: Kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa karya Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Zulfa Mustofa dinilai penting. Sebab, menjadi pengingat tentang kejayaan ulama Nusantara dalam khazanah keilmuan Islam dunia.
Hal itu disampaikan Rais Syuriyah PBNU KH Abdul Ghofur Maimoen (Gus Ghofur) saat memberikan catatan dalam bedah kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa karya KH Zulfa Mustofa di Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat, 10 Juli 2026. Menurut Gus Ghofur, kitab tersebut berhasil menggambarkan perjalanan intelektual para ulama Nusantara yang dahulu melakukan pengembaraan ke Makkah untuk menimba ilmu hingga kemudian menjadi ulama besar, pengajar di Masjidil Haram, bahkan dipercaya menjadi khatib di tempat suci tersebut.
“Buku ini menyampaikan dengan baik bahwa ulama-ulama ketika mengembara belajar di Makkah kemudian menjadi ulama besar, menjadi pengajar di Masjidil Haram, bahkan sebagian di antaranya menjadi khatib di Masjidil Haram. Itulah generasi ulama terdahulu,” ujar Gus Ghofur melalui keterangan tertulis, Sabtu, 11 Juli 2026.
Gus Ghofur mengatakan, perjalanan panjang para ulama Nusantara dalam menuntut ilmu di pusat-pusat keilmuan Islam telah melahirkan tokoh-tokoh besar yang memiliki pengaruh luas. “Mereka tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga menghasilkan karya-karya keilmuan yang hingga kini masih menjadi rujukan,” ungkap Gus Ghofur.
“Mereka kemudian menjadi pengarang-pengarang besar. Semangat seperti inilah yang harus kita resapi. Semoga hadirnya buku ini membuat ulama-ulama Nusantara kembali percaya diri bahwa dahulu para ulama kita mampu menjadi tokoh besar di dunia Islam,” sebut Gus Ghofur.
Gus Ghofur berharap hadirnya kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda pesantren dan Nahdlatul Ulama untuk meneruskan tradisi keilmuan para ulama terdahulu. “Semoga terbitnya kitab ini menginspirasi kita semua. Buku ini sangat baik dan memberikan pelajaran penting bagi kita,” tutur Gus Ghofur.
Menurutnya, sejarah telah mencatat lahirnya ulama besar Nusantara seperti Syekh Mahfudz at-Tirmizi dan Syekh Nawawi al-Bantany yang memiliki reputasi internasional. Tradisi keilmuan tersebut diharapkan dapat kembali melahirkan ulama-ulama besar pada masa kini.
“Masa dulu kita pernah memiliki Syekh Mahfudz at-Tirmizi, Syekh Nawawi al-Bantany. Mudah-mudahan dengan hadirnya kitab ini kita kembali terinspirasi untuk melahirkan ulama-ulama besar,” ujar Gus Ghofur.
Diketahui, kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa menghimpun empat karya berbahasa Arab yang membahas metodologi Bahtsul Masail, ushul fikih, fatwa-fatwa kontemporer, serta sejarah intelektual Syekh Nawawi al-Bantani.
Salah satu pembahasan utama dalam kitab tersebut mengulas metodologi pengambilan keputusan hukum di lingkungan NU yang menekankan pentingnya memahami tujuan syariat (maqashid syariah), kondisi sosial, adat istiadat, serta perkembangan zaman sebelum menetapkan sebuah fatwa.
Kitab tersebut dikarang langsung oleh Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa. Ia lahir pada 7 Agustus 1977 di Jakarta dalam lingkungan keluarga ulama. Ayahnya adalah KH Muqarrabin dari Pekalongan, sedangkan ibunya Nyai Hajjah Marhumah Latifah dari Kresek, Tangerang.
Berasal dari keluarga ulama, KH Zulfa Mustofa dikenal sebagai bagian dari keturunan ulama besar Nusantara. Ia juga memiliki hubungan kekerabatan dengan Wakil Presiden Ma’ruf Amin serta disebut sebagai keturunan Syekh Nawawi al-Bantani.
Pendidikan formalnya dimulai di SD Al-Jihad Tanjung Priok hingga kelas tiga, kemudian dilanjutkan di Pekalongan. Pendidikan tingkat tsanawiyah ditempuh di Madrasah Tsanawiyah Salafiyah Simbangkulon dan Pesantren Mathali’ul Falah Kajen, Pati.