Selat Hormuz Ditutup, Apa Dampaknya Bagi Perekonomian Dunia?

Ilustrasi angkatan laut IRGC di selat Hormuz. (Tasnim)

Selat Hormuz Ditutup, Apa Dampaknya Bagi Perekonomian Dunia?

Riza Aslam Khaeron • 3 March 2026 10:36

Jakarta: Menyusul kematian Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Februari 2026, Iran berupaya mendorong dunia internasional untuk mendesak diakhirinya perang dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel melalui tekanan ekonomi.

Pada 2 Maret 2026, Komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan bahwa mereka akan menyerang kapal mana pun yang mencoba melintasi Selat Hormuz.

“Selat (Hormuz) telah ditutup. Jika ada yang mencoba untuk menyeberang, pahlawan dari garda revolusi dan angkatan laut kami akan membakar kapal-kapal tersebut,” tegas Ebrahim Jabari, penasihat senior dari kepala staf IRGC.

Para analis ekonomi sebelumnya telah memperingatkan dampak sistemik yang akan dihadapi perekonomian global serta krisis energi yang sedang berlangsung jika Selat Hormuz ditutup di tengah eskalasi ketegangan antara Washington dan Teheran.

Lantas, apa sebenarnya signifikansi Selat Hormuz dan dampaknya bagi dunia? Berikut ulasannya.
 

Apa Itu Selat Hormuz?


Foto satelit selat hormuz. (Dok. NASA)

Selat Hormuz merupakan jalur laut sempit yang menjadi pintu keluar masuk utama dari Teluk Persia menuju Teluk Oman dan perairan internasional. Di titik tersempitnya, lebar selat ini hanya sekitar 33 kilometer, terletak di antara Iran di bagian utara serta Oman di bagian selatan.

Secara geografis dan ekonomi, Selat Hormuz merupakan salah satu rute energi paling vital di planet ini.

Melansir data Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat (EIA), volume minyak yang sangat besar mengalir melalui selat ini, pada tahun 2024, aliran minyak melalui selat ini rata-rata mencapai 20 juta barel per hari (b/d), atau setara dengan sekitar 20 persen dari total konsumsi cairan minyak bumi global.

Kapal-kapal tanker yang melintas di jalur ini mengangkut minyak dan gas dari negara-negara produsen utama seperti Arab Saudi, Kuwait, Irak, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Iran.

Diestimasi bahwa 84 persen minyak mentah dan kondensat, serta 83 persen gas alam cair yang bergerak melalui Selat Hormuz, ditujukan ke pasar Asia pada tahun 2024.

Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan merupakan destinasi utama bagi minyak mentah yang melintasi Selat Hormuz ke Asia, dengan total gabungan 69 persen dari seluruh aliran minyak mentah dan kondensat Hormuz pada tahun 2024.


Lokasi Selat Hormuz. (Istimewa)

Pasar-pasar inilah yang kemungkinan besar akan paling terdampak oleh gangguan pasokan di Hormuz.

Meskipun Iran dan Oman memiliki wilayah perairan di kawasan ini, Selat Hormuz secara internasional dianggap sebagai jalur pelayaran yang dapat dilalui kapal-kapal dari berbagai negara sesuai hukum laut internasional.

Namun, gangguan sekecil apa pun terhadap lalu lintas di selat ini dapat berdampak destruktif terhadap perdagangan minyak dunia dan memicu lonjakan harga energi global secara ekstrem.

Selain perannya dalam perdagangan modern, Selat Hormuz memiliki sejarah panjang sebagai jalur perdagangan penting sejak berabad-abad lalu, ketika komoditas seperti keramik, sutra, tekstil, dan gading diperdagangkan melintasi kawasan tersebut.

Hingga kini, perannya tetap strategis karena sebagian besar volume minyak yang transit tidak memiliki alternatif jalur ekspor lain yang memadai secara logistik.
 

Apa Dampaknya Bagi Dunia Jika Selat Hormuz Ditutup?


Ilustrasi barel minyak PERTAMINA. (ANTARA/Yusran Uccang)

Jika Selat Hormuz benar-benar ditutup, dampaknya tidak hanya terbatas pada kawasan Teluk, tetapi akan menjalar ke seluruh sistem energi dan ekonomi global dalam hitungan hari.

Jalur ini merupakan salah satu chokepoint terpenting dunia—titik sempit di rute pelayaran utama yang krusial bagi keamanan energi global.

Ketika minyak tidak dapat melintasi chokepoint, bahkan untuk sementara waktu, hal itu dapat menciptakan keterlambatan pasokan yang masif, meningkatkan biaya pengiriman secara drastis, dan mendorong kenaikan harga energi dunia ke tingkat yang membahayakan stabilitas ekonomi.

Meskipun saat ini kita belum melihat gangguan maritim secara penuh, penutupan Selat Hormuz akan memicu kenaikan premi asuransi kapal tanker, lonjakan biaya logistik, serta ketidakpastian pasokan bagi negara-negara pengimpor utama.

Karena sebagian besar volume yang melewati selat ini tidak memiliki alternatif jalur ekspor yang praktis—meskipun terdapat beberapa pipa yang bisa menghindari Hormuz—kapasitas pengganti tersebut sangat terbatas dan tidak akan mampu menutupi seluruh volume perdagangan yang hilang.

Sensitivitas pasar terhadap ancaman gangguan sudah terlihat jelas bahkan tanpa adanya penutupan penuh. Contohnya adalah perang 12 hari antara Iran-Israel pada bulan Juni tahun lalu, harga minyak jenis Brent sempat melonjak dari 69 USD per barel pada 12 Juni 2025 menjadi 74 USD per barel hanya dalam satu hari pada 13 Juni 2025.

Artinya, hanya dengan adanya risiko gangguan saja, pasar langsung bereaksi secara agresif. Jika penutupan benar-benar terjadi, tekanan harga akan jauh lebih ekstrem.

Melansir CBC News, menurut Hakan Kaya, manajer portofolio senior di Neuberger Berman, skala dampak yang dipertaruhkan sangatlah besar sehingga tidak bisa dianggap remeh.

“Skala dari apa yang dipertaruhkan tidak bisa terlalu dilebih-lebihkan,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa perlambatan parsial selama satu hingga dua minggu mungkin masih dapat diserap oleh cadangan strategis perusahaan minyak.

Namun, penutupan penuh atau hampir penuh selama satu bulan atau lebih dapat mendorong harga minyak mentah—yang saat ini berada di kisaran 70 USD per barel—“jauh ke dalam angka tiga digit”.
 
Baca Juga:
Trump Sebut Tidak Akan Ragu Kirim Pasukan Darat ke Iran
 

Apakah Ada Rute Alternatif?


Ilustrasi pipa East-West Saudi. (EIA)

Sejumlah negara Teluk memang memiliki infrastruktur yang dapat mengalihkan sebagian ekspor minyak tanpa harus melewati Selat Hormuz, namun kapasitasnya sangat terbatas dan tidak mampu menggantikan seluruh volume perdagangan yang biasa melintasi jalur tersebut.

Estimasi menunjukkan hanya sekitar 2,6 juta b/d dari jaringan pipa Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) yang berpotensi tersedia untuk menghindari Hormuz dalam situasi gangguan pasokan, mengingat pipa-pipa tersebut umumnya tidak beroperasi pada kapasitas penuh dalam kondisi normal.

Arab Saudi mengoperasikan pipa East-West berkapasitas 5 juta b/d yang menghubungkan fasilitas pemrosesan minyak Abqaiq di dekat Teluk Persia dengan pelabuhan Yanbu di Laut Merah.

Melansir EIA, pada 2019, kapasitasnya sempat diperluas menjadi 7 juta b/d dengan mengonversi sebagian jalur pipa cairan gas alam agar dapat mengalirkan minyak mentah. Pada 2024, Arab Saudi juga meningkatkan penggunaan pipa ini untuk menghindari gangguan pelayaran di sekitar Bab al-Mandeb.

Uni Emirat Arab juga memiliki pipa berkapasitas sekitar 1,8 juta b/d yang menghubungkan ladang minyak darat ke terminal ekspor Fujairah di Teluk Oman, sehingga secara fisik tidak perlu melewati Hormuz.

Namun, peningkatan penggunaan pipa tersebut untuk operasi harian membatasi kapasitas cadangan yang bisa dimanfaatkan secara mendadak jika terjadi gangguan besar.

Iran sendiri meresmikan pipa Goreh-Jask dan terminal ekspor Jask di Teluk Oman pada 2021, yang secara teori mampu menghindari Selat Hormuz. Meskipun kapasitas efektifnya disebut mencapai 300.000 b/d, realisasi ekspor melalui jalur ini pada 2024 relatif kecil dan bahkan sempat terhenti setelah September tahun itu.

Dengan demikian, meskipun tersedia beberapa jalur alternatif, total kapasitasnya tetap jauh lebih kecil dibandingkan volume minyak yang biasanya melintasi Selat Hormuz setiap harinya.

Artinya, dalam skenario penutupan penuh, rute alternatif tersebut hanya mampu mengurangi sebagian kecil dampak, namun tidak akan mampu menghilangkan krisis energi global sepenuhnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Arga Sumantri)