Trump Sebut Tidak Akan Ragu Kirim Pasukan Darat ke Iran

Presiden AS Donald Trump menunjuk setelah keluar dari Marine One di South Lawn Gedung Putih di Washington, DC, AS, 13 Juli 2025. (EFE/EPA/BONNIE CASH)

Trump Sebut Tidak Akan Ragu Kirim Pasukan Darat ke Iran

Riza Aslam Khaeron • 3 March 2026 08:54

Washington: Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak akan menutup kemungkinan mengirim pasukan darat Amerika ke Iran "jika diperlukan", seraya mengklaim bahwa Operasi Epic Fury berjalan "jauh lebih cepat dari jadwal" setelah menewaskan puluhan pejabat tinggi Teheran.

Dalam wawancara eksklusif dengan New York Post, Senin, 2 Maret 2026, Trump menegaskan bahwa ia tidak memiliki keengganan untuk mengerahkan tentara ke medan pertempuran, berbeda dengan para pendahulunya yang sering kali memberikan janji sebaliknya.

"Saya tidak merasa ragu terkait pengerahan pasukan darat—seperti yang dikatakan setiap presiden, 'Tidak akan ada pasukan darat.' Saya tidak mengatakan hal itu," ujar Trump pasca serangan hari Sabtu yang menargetkan kepemimpinan militer dan politik Iran

"Saya katakan 'mungkin tidak membutuhkannya,' [atau] 'jika memang diperlukan'," lnjut Trump

Menteri Pertahanan Pete Hegseth dalam konferensi pers di Pentagon pada Senin pagi, mengonfirmasi bahwa saat ini tidak ada tentara Amerika di dalam wilayah Iran, meskipun ia juga tidak menutup kemungkinan tersebut di masa depan.

"Presiden Trump memastikan musuh-musuh kita memahami bahwa kita akan bertindak sejauh yang diperlukan untuk memajukan kepentingan Amerika. Namun, kita tidak akan bertindak bodoh mengenai hal ini," kata Hegseth kepada wartawan.

"Anda tidak perlu mengerahkan 200.000 orang ke sana dan menetap selama 20 tahun," tambahnya.

Trump sebelumnya memperkirakan perang akan berlangsung "empat minggu atau lebih", namun dalam wawancara dengan New York Post ia mengisyaratkan jangka waktu tersebut dapat dipersingkat karena keberhasilan operasi awal.

"Ini akan berjalan cukup cepat," ujarnya.

"Kami sesuai jadwal, bahkan jauh melampaui jadwal dalam hal penumpasan kepemimpinan—49 orang tewas—dan itu, Anda tahu, kami perkirakan akan memakan waktu setidaknya empat minggu, tetapi kami berhasil melakukannya dalam satu hari," tambahnya

Presiden juga mengungkapkan bahwa keputusan akhir untuk menyerang, yang dilakukan bekerja sama dengan Israel, diambil "setelah pembicaraan terakhir" di Jenewa hari Kamis lalu. Hal ini dipicu oleh intelijen yang menyebutkan Iran secara diam-diam melanjutkan proyek nuklir di "situs yang benar-benar berbeda."

"Kami melakukan negosiasi yang sangat serius, dan mereka ada di sana, lalu mereka menarik diri. Mereka akan selalu menarik diri," kata Trump.
 

Baca Juga:
Trump Ingin Tumbangkan Rezim Iran dengan Revolusi Rakyat, Apakah Bisa?

"Dan Anda tahu, Anda tidak akan pernah membuat kesepakatan seperti itu, karena pada akhirnya mereka akan menarik diri setelah kesepakatan dibuat, yang merupakan kebiasaan mereka. Namun, mereka memang tidak bisa mencapainya. Mereka ingin membuat senjata nuklir, jadi kami menghancurkan mereka sepenuhnya," lanjutnya.

Trump menjelaskan lebih lanjut, "Kami menemukan mereka berada di situs yang sama sekali berbeda—benar-benar berbeda—karena situs-situs yang kami hancurkan sebelumnya sudah habis. Mereka mencoba menggunakannya, tetapi situs itu sudah benar-benar musnah, bukan? Lalu kami menemukan mereka bekerja di area yang sama sekali berbeda, situs yang berbeda, untuk membuat senjata nuklir melalui pengayaan—jadi inilah waktunya."

"Saya katakan, 'Ayo laksanakan'."

Di tengah serangan yang terus berlangsung, jajak pendapat Reuters/Ipsos yang dilakukan Sabtu dan Minggu menemukan bahwa hanya 27 persen warga Amerika yang menyetujui serangan tersebut, sementara 43 persen tidak setuju dan 29 persen tidak yakin.

Jajak pendapat CNN/SSRS yang dirilis Senin menunjukkan 41 persen menyetujui serangan terbaru AS, sementara 59 persen tidak setuju.

Trump mengaku tidak mempedulikan hasil jajak pendapat tersebut.

"Saya pikir hasil jajak pendapatnya sangat bagus, tetapi saya tidak peduli dengan jajak pendapat. Saya harus melakukan hal yang benar. Saya harus melakukan hal yang benar. Ini seharusnya sudah dilakukan sejak lama," kata Trump.

"Saya tidak menganggap dukungan jajak pendapat itu rendah," lanjutnya.

"Dengar, apakah jajak pendapat rendah atau tidak, saya pikir jajak pendapat itu mungkin baik-baik saja. Namun ini bukan masalah jajak pendapat. Anda tidak bisa membiarkan Iran, sebuah negara yang dipimpin oleh orang-orang gila, memiliki senjata nuklir," ucapnya.

Setidaknya empat personel militer Amerika dilaporkan tewas setelah serangan balasan Iran terhadap pusat operasi AS di Kuwait. Di antara tokoh Iran yang tewas dalam serangan udara AS dan Israel termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, yang telah memerintah Iran sejak 1989.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Arga Sumantri)