PMI Manufaktur Positif, RI Punya Modal Hadapi Ketidakpastian Global

Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu. Foto: Dok MI

PMI Manufaktur Positif, RI Punya Modal Hadapi Ketidakpastian Global

Eko Nordiansyah • 3 March 2026 12:08

Jakarta: Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang mencetak rekor tertinggi di level 53,8 pada Februari 2026 menjadi modal penting bagi Indonesia dalam menghadapi situasi global.

"Resiliensi ekonomi domestik menjadi modal penting di tengah situasi global yang dinamis," kata Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu dalam keterangan tertulis dikutip dari Antara, Selasa, 3 Maret 2026.

Febrio menyebut penguatan manufaktur didorong oleh lonjakan permintaan baru yang diimbangi pertumbuhan produksi secara signifikan. Sentimen bisnis secara keseluruhan tetap solid, ditopang ekspektasi penguatan permintaan serta stabilitas harga yang diperkirakan membaik.

PMI Manufaktur sejumlah mitra dagang utama Indonesia juga menunjukkan tren ekspansif, seperti Vietnam (54,3), Thailand (53,5), India (57,5), Jepang (53,0), dan Amerika Serikat (51,2), sehingga mendukung prospek ekspor manufaktur nasional.

Baca Juga :

Kemenkeu Pantau Potensi Risiko Akibat Konflik Iran dan Israel-AS



(Ilustrasi. Foto: Dok istimewa)
 

Permintaan domestik menguat

Sentimen yang positif tersebut juga didukung menguatnya permintaan domestik. Febrio merinci Indeks Penjualan Riil (IPR) tumbuh 7,9 persen (year-on-year/yoy) pada Januari 2026, didorong peningkatan penjualan makanan dan minuman, sandang, dan mobilitas masyarakat.

Penguatan konsumsi juga terlihat dari penjualan kendaraan bermotor yang positif, dengan penjualan sepeda motor naik 3,1 persen dan penjualan mobil tumbuh 7,0 persen.

Selain itu, optimisme masyarakat tetap terjaga, tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Januari 2026 yang berada pada level optimis 127, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya di 123,5.

Untuk menjaga stabilitas dan ketahanan perekonomian domestik, pemerintah bakal fokus menyalurkan stimulus fiskal, memperkuat iklim investasi, dan mendorong penciptaan lapangan kerja.

S&P Global Market mencatat PMI manufaktur Indonesia mencapai 53,8 poin yang merupakan tertinggi dalam waktu hampir dua tahun terakhir sejak Maret 2024.

Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti dalam pernyataan diterima di Jakarta, Senin mengatakan perbaikan kondisi manufaktur Indonesia kembali menguat pada pertengahan triwulan pertama dan memberi prospek positif bagi kinerja sektor industri ke depan.

Capaian tersebut menunjukkan kondisi manufaktur nasional masih berada di zona ekspansif karena indeks berada di atas ambang batas 50 poin, yang menjadi pemisah antara fase ekspansi dan kontraksi.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)