Optimisme Investor Global ke Indonesia Disebut Tetap Tinggi

Ilustrasi. Foto: Dok istimewa

Optimisme Investor Global ke Indonesia Disebut Tetap Tinggi

Insi Nantika Jelita • 3 May 2026 13:50

Jakarta: Kepercayaan investor global terhadap Indonesia tetap terjaga meski posisi negara ini dalam pemeringkatan pasar berkembang mengalami penurunan. Temuan terbaru Kearney dalam laporan FDI Confidence Index 2026 menunjukkan Indonesia berada di peringkat ketiga belas dalam emerging market index, turun satu posisi dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, sebanyak 87 persen responden survei menyatakan tetap sama optimisnya atau bahkan lebih optimistis terhadap Indonesia.

Dalam laporan tersebut, kawasan Asia Pasifik mencatat representasi tertinggi secara global dengan 10 negara masuk dalam indeks utama. Amerika Serikat menempati peringkat pertama, disusul Kanada, Jepang, dan Tiongkok, sementara Singapura berada di posisi ke-8 secara global. Secara regional, arus masuk Foreign Direct Investment (FDI) ke pasar ASEAN mencapai rekor USD 225 miliar pada 2024.

Responden survei terdiri dari 507 eksekutif senior perusahaan global dengan pendapatan tahunan minimal USD500 juta yang berkantor pusat di 30 negara. Survei dilakukan pada Januari 2025.

Meski turun peringkat, daya tarik Indonesia dinilai tetap kuat. Investor menyoroti talenta dan keterampilan tenaga kerja (28 persen) serta kekayaan sumber daya alam (28 persen) sebagai faktor utama. Dengan populasi hampir 288 juta jiwa, terbesar keempat di dunia, Indonesia menawarkan pasar domestik dan basis tenaga kerja yang besar. Status sebagai produsen nikel terbesar dunia juga memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global, khususnya industri baterai dan kendaraan listrik.

Pada 2025, sektor logam dasar mencatat realisasi FDI tertinggi sebesar USD14,6 miliar, diikuti sektor pertambangan sebesar USD4,7 miliar. Faktor lain yang memengaruhi persepsi investor adalah kinerja ekonomi (27 persen), kemudahan berusaha (25 persen), serta inovasi teknologi (21 persen). Sementara itu, tata kelola yang transparan dan tingkat korupsi yang rendah (19 persen) menjadi faktor dengan pengaruh relatif lebih rendah dibandingkan negara Asia lainnya.

Data realisasi investasi kuartal I 2026 memperkuat tren tersebut. Investasi mencapai Rp498,79 triliun atau 100,36 persen dari target pemerintah, tumbuh 7,22 persen secara tahunan. Komposisi antara FDI dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) relatif seimbang, masing-masing sekitar 50 persen. Kontributor terbesar FDI berasal dari Singapura (USD4,6 miliar), Hong Kong (USD2,7 miliar), Tiongkok (USD2,2 miliar), Amerika Serikat (USD1,7 miliar), dan Jepang (USD1 miliar).

“Arus modal terus mengalir, namun perusahaan kini semakin selektif dalam menentukan tujuan investasi, seiring mereka mempertimbangkan kapabilitas teknologi, risiko geopolitik, serta semakin besarnya pengaruh kebijakan industri,” ujar Erik R. Peterson, Partner dan Managing Director di Kearney Global Business Policy Council sekaligus co-author laporan tersebut.

Di kawasan Asia Tenggara, Thailand dan Malaysia justru mencatat kenaikan peringkat signifikan. Thailand naik dari posisi ke-10 menjadi ke-6, sementara Malaysia dari ke-11 ke posisi ke-7 dalam emerging market index. Keduanya dinilai berhasil menarik investasi di sektor bernilai tambah tinggi, seperti manufaktur otomotif, semikonduktor, teknologi, dan jasa.




(Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com)

Indonesia menerapkan strategi terkoordinasi

President Director Kearney Indonesia sekaligus co-author laporan, Shirley Santoso, menilai Indonesia telah menerapkan strategi terkoordinasi yang menggabungkan kebijakan industri, reformasi regulasi, insentif yang terarah.

"Serta, target investasi untuk memperdalam hilirisasi industri guna meningkatkan nilai tambah," ujarnya.

Upaya ini, lanjutnya, juga mencakup penyederhanaan berkelanjutan terhadap regulasi dan perizinan investasi untuk mengurangi birokrasi, serta penyaluran modal ke sektor-sektor prioritas seperti kendaraan listrik (EV), energi terbarukan, infrastruktur, dan digital melalui berbagai insentif guna secara aktif mendorong investasi, baik asing maupun domestik.

Namun, tantangan global tetap membayangi. Sebanyak 36 persen responden menilai eskalasi ketegangan geopolitik sebagai risiko paling mungkin terjadi dalam setahun ke depan, disusul kenaikan harga komoditas dan ketidakstabilan politik di pasar negara maju (30 persen).

Selain itu, 84% investor menyatakan kebijakan industri menjadi faktor penting atau sangat penting dalam menentukan lokasi investasi. Sebanyak 57 persen menilai kebijakan tersebut berdampak positif terhadap kinerja bisnis mereka. Namun hampir sembilan dari sepuluh investor juga melaporkan setidaknya risiko bisnis tingkat sedang akibat kebijakan industri nasional yang saling bersaing.

Shirley menambahkan, untuk mempertahankan dan meningkatkan daya tariknya, Indonesia perlu memperkuat kepastian regulasi, mempercepat transisi energi, memperdalam kerja sama regional, serta melanjutkan reformasi struktural guna meningkatkan tata kelola yang transparan, inovasi teknologi, dan pembangunan infrastruktur.

Indeks ini dihitung berdasarkan rata-rata tertimbang respons tinggi, sedang, dan rendah terhadap kemungkinan investasi langsung dalam tiga tahun ke depan, dengan hanya memasukkan penilaian dari perusahaan yang berkantor pusat di luar negara yang dinilai. 

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)