Ilustrasi. Foto: Dok istimewa
Memahami Indikator hingga Penyebab Terjadinya Krisis Ekonomi
Richard Alkhalik • 26 May 2026 18:58
Jakarta: Krisis ekonomi merupakan suatu kondisi di mana laju perekonomian sebuah negara atau wilayah mengalami tekanan yang drastis. Sehingga memicu eskalasi kekhawatiran di tengah masyarakat salah satunya terhadap pelemahan nilai tukar mata uang.
Krisis ekonomi umumnya dipicu oleh berbagai faktor makro ekonomi, mulai dari inflasi, deflasi, hingga krisis keuangan. Apabila dibiarkan berlarut, badai krisis ini berpotensi merugikan tatanan negara dan sendi-sendi kesejahteraan rakyat secara masif dan serentak.
Apa itu krisis ekonomi?
Krisis ekonomi adalah salah satu ancaman paling bahaya bagi stabilitas keuangan suatu negara. Fenomena ini akan menjadi beban berat lantaran menghantam langsung pilar-pilar perekonomian masyarakat, yang berujung pada pelemahan daya beli masyarakat yang tinggi.Kamu perlu memahami bahwa level krisis ekonomi jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan resesi. Jika resesi didefinisikan sebagai fase penurunan atau lesunya ekonomi suatu negara pada periode tertentu, krisis ekonomi merujuk pada kejatuhan sistem ekonomi yang jauh lebih buruk dan meluas yang memicu kepanikan karena tidak memiliki batasan durasi pas.
Lantas, kondisi seperti apa yang mengindikasikan terjadinya krisis ekonomi? Mengutip dari laman Sahabat Pegadaian, saat terjadinya krisis ekonomi ditandai dengan penurunan tajam pada beberapa indikator, antara lain:
- Nilai aset.
- Nilai tukar mata uang.
- PDB (Produk Domestik Bruto).
- Kemampuan belanja pemerintah.
- Kekurangan likuiditas di lembaga keuangan.
- Kesulitan untuk memenuhi pembayaran utang oleh bisnis maupun konsumen.
- Penurunan konsumsi karena harga bahan pokok melonjak drastis.
(2).jpeg)
(Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com)
Terjun bebasnya indikator-indikator tersebut ke harga yang tidak wajar menempatkan negara dalam posisi yang sangat rentan. Dalam jangka panjang, negara berpotensi menghadapi kebuntuan dalam penegakan hukum dan pemeliharaan ketertiban masyarakat.
Anjloknya daya beli imbas pelemahan nilai tukar mata uang kerap memantik keresahan massal. Situasi ini dapat berujung pada hilangnya tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah maupun sistem perbankan, yang pada akhirnya meluas menjadi ketidakstabilan ekonomi, krisis politik, hingga kekacauan sosial.
Dalam lanskap moneter, situasi ini berisiko memicu gelombang penarikan dana nasabah secara besar-besaran dari perbankan, dibarengi dengan aksi jual aset secara masif sebagai respons atas kekhawatiran depresiasi nilai yang lebih dalam.
Faktor pemicu krisis ekonomi
Mengutip publikasi dari laman indodax.com, penyebab terjadinya krisis ekonomi ada dua faktor utama yaitu:1. Faktor Internal
- Kebijakan moneter yang tidak tepat seperti suku bunga yang terlalu tinggi atau rendah dapat memperburuk kondisi ekonomi.
- Pengeluaran negara yang melebihi pendapatan mengakibatkan utang membengkak sehingga defisit anggaran terjadi berlebihan.
- Praktik korupsi oleh pemerintah mengurangi kepercayaan investor dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
- Kesenjangan pendapatan yang ekstrem menurunkan daya beli masyarakat.
2. Faktor Eksternal
- Krisis global atau krisis di negara ekonomi besar dapat memicu efek domino ke seluruh dunia.
- Negara eksportir sangat bergantung pada harga komoditas seperti minyak dan gas sehingga terjadinya fluktuasi harga komoditas.
- Gangguan produksi dan rantai pasok akibat pandemi atau bencana alam yang berdampak luas.
- Perang dagang dan konflik politik dapat menghambat perdagangan internasional.