Lebaran ilustrasi. Dok Metrotvnews.com.
NU dan Muhammadiyah Berpeluang Lebaran 2026 Bareng? Simak Penjelasannya
Arga Sumantri • 18 March 2026 14:35
Jakarta: Jelang Idulfitri 1447 Hijriah/2026 Masehi, perbincangan soal tanggal lebaran Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah selalu menjadi sorotan. Pertanyaan apakah dua organisasi masyarakat (ormas) Islam terbesar di Indonesia itu akan merayakan idulfitri di hari yang sama menjadi sorotan.
Berdasarkan penjelasan yang sudah dipublikasi masing-masing pihak, ada potensi perbedaan perayaan hari lebaran. Kendati, penetapan resmi soal tanggal lebaran masih menunggu hasil sidang isbat pemerintah.
Sejauh mana peluang lebaran tahun ini bisa dirayakan bersama? Berikut ini penjelasan maupun prediksinya.
Penetapan Lebaran 2026 dari pemerintah
Pemerintah akan menggelar sidang isbat penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah pada Kamis, 19 Maret 2026. Sidang akan berlangsung di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama, Jakarta, mulai pukul 16.00 WIB.Sidang isbat akan dihadiri berbagai pihak, antara lain perwakilan duta besar negara sahabat, Ketua Komisi VIII DPR RI, Mahkamah Agung, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Badan Informasi Geospasial (BIG), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bosscha Institut Teknologi Bandung (ITB), Planetarium, para pakar falak dari organisasi kemasyarakatan Islam, serta anggota Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama.
Prediksi Lebaran 2026 versi Nahdlatul Ulama
Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) merilis data hilal penentuan Idul Fitri, 1 Syawal 1447 H. Data tersebut disampaikan dalam Informasi Hilal Awal Syawal 1447 H.Data Falakiyah mengenai hilal 29 Ramadan 1447 H yang bertepatan dengan Kamis Kliwon, 19 Maret 2026 M menunjukkan hilal sudah di atas ufuk, tetapi belum memenuhi kriteria imkanur rukyah.
Tinggi hilal terbesar terjadi di Kota Sabang, Provinsi Aceh dengan tinggi hilal mar’ie 2 dedajat 53 menit dan elongasi hilal haqiqy 6 derajat 09 menit, serta lama hilal 14 menit 44 detik. Sementara ketinggian hilal terkecil terjadi di Merauke, Provinsi Papua Selatan dengan tinggi hilal mar’ie 0 derajat 49 menit dan elongasi hilal haqiqy 4 derajat 36 menit, serta lama hilal 6 menit 36 detik.
Adapun di titik Jakarta dengan markaz Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya Jakarta Pusat (koordinat 6º 11’ 25” LS 106º 50’ 50” BT), tinggi hilal adalah 1 derajat 43 menit 54 detik dengan letak matahari terbenam pada 12 derajat 03 menit 24 detik selatan titik barat dengan elongasi 5 derajat 44 menit 49 detik dan lama hilal 10 menit 51 detik.
Ijtimak (konjungsi) terjadi pada Kamis Kliwon 19 Maret 2026 M pukul 08:25:58 WIB. Sementara itu, letak matahari terbenam berada di 00 derajat 33 menit 01 detik selatan titik barat dengan letak hilal beradai pada 03 derajat 33 menit 03 detik selatan titik barat dan kedudukan hilal pada 03 derajat 00 menit 02 detik selatan Matahari dalam keadaan miring ke utara.
Penghitungan atas data ini dilakukan dengan metode falak (hisab) tahqiqi tadqiki ashri kontemporer khas Nahdlatul Ulama.

Pemantauan hilal. Foto: MI/Ramdani.
Penetapan Lebaran 1447 Hijriah versi Muhammadiyah
Pimpinan Pusat Muhamamdiyah telah menetapkan awal Idulfitri 1447 Hijriah pada Jumat, 20 Maret 2026. Keputusan ini diumumkan melalui Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 Hijriah.Maklumat tersebut menjelaskan bahwa Ijtimak menjelang Syawal 1447 Hijriah terjadi pada Kamis Kliwon, 19 Maret 2026 pukul 01.23.28 UTC.
Pada saat Matahari terbenam di hari ijtimak tersebut, telah ada wilayah di muka bumi yang memenuhi Parameter Kalender Global (PKG) 1, yaitu tinggi bulan lebih dari 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat. Wilayah pertama yang memenuhi parameter tersebut antara lain berada pada koordinat 64° 59? 57,47? LU dan 42° 03? 3,47? BT, dengan tinggi bulan sekitar 6° 29? 20? serta elongasi 8°.
Berdasarkan hasil hisab tersebut, Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Penetapan ini menggunakan prinsip Kalender Hijriah Global Tunggal yang dipedomani Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah.
Jadi, kepastian perayaan lebaran dirayakan bersama atau tidak masih harus menunggu hasil sidang isbat yang digelar pemerintah pada Kamis, 19 Maret 2026. Pun jika ada perbedaan, ini bukan kali pertama terjadi di Indonesia. Perbedaan pendekatan dalam menentukan awal bulan Hijriah merupakan bagian dari dinamika yang telah lama dikenal dalam praktik keilmuan Islam.