Gubernur BI Perry Warjiyo. Foto: Tangkapan layar YouTube Bank Indonesia.
Gegara Perang AS-Iran, BI Sunat Lagi Proyeksi Ekonomi Global 2026 Jadi 3,1%
Husen Miftahudin • 17 March 2026 14:52
Jakarta: Bank Indonesia (BI) dalam asesmen Rapat Dewan Gubernur (RDG) kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional di sepanjang 2026 menjadi 3,1 persen. Pada Asesmen RSG di bulan sebelumnya, bank sentral juga telah menyunat proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 3,3 persen menjadi 3,2 persen.
"Pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 diperkirakan akan lebih lambat menjadi 3,1 persen dari perkiraan sebelumnya sebesar 3,2 persen, meskipun terjadi penurunan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS)," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers Pengumuman Hasil RDG Bulanan Maret 2026 secara daring, Selasa, 17 Maret 2026.
Perry menjelaskan, pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi domestik dilakukan akibat perang Timur Tengah yang terjadi sejak akhir Februari 2026 yang memperburuk kondisi dan prospek perekonomian global.
Kondisi tersebut, jelas Perry, membuat harga minyak dunia melonjak sehingga berdampak negatif terhadap rantai pasok perdagangan antarnegara. Walhasil, prospek pertumbuhan ekonomi dunia dipangkas dan tekanan inflasi global meningkat.
"Pasar keuangan global juga memburuk dengan menguatnya dolar AS, meningkatnya yield US treasury, serta terjadinya arus modal keluar dari emerging market," papar dia.
| Baca juga: Dilema The Fed 2026: Terjepit di Antara Inflasi Energi dan Resesi Tenaga Kerja |
.jpg)
(Ilustrasi pertumbuhan ekonomi turun. Foto: Freepik)
Tekanan inflasi global terus meningkat
Perry melanjutkan, tekanan inflasi global juga meningkat dari 3,8 persen menjadi 4,1 persen sehingga mempersempit ruang penurunan kebijakan moneter global, termasuk kemungkinan semakin tertundanya penurunan suku bunga The Fed (Fed Fund Rate).
"Bahkan suku bunga yield US treasury terus meningkat akibat membengkaknya defisit fiskal AS termasuk kenaikan anggaran untuk pembiayaan perang," urai Perry.
Premi risiko investasi global juga terus meningkat sehingga mengakibatkan bergesernya aliran modal ke safe haven aset, terutama ke pasar uang AS. Indeks mata uang dolar AS terhadap mata uang negara maju dan negara berkembang juga terus menguat.
Berbagai indikator mengenai dampak perang Timur Tengah terhadap kondisi global terus menunjukkan memburuknya perekonomian dan pasar keuangan global akibat perang Timur Tengah tersebut semakin menekan mata uang emerging market dan mempersulit pengelolaan perekonomiannya.
"Sehingga, mengharuskan penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna mempertahankan ketahanan eksternal dan tetap mendukung pertumbuhan ekonomi di dalam negeri," terang Perry.