Ilustrasi Selat Hormuz. (NDTV)
Selain Selat Hormuz, Ini 6 Jalur Minyak Paling Vital di Dunia
Riza Aslam Khaeron • 23 April 2026 21:14
Jakarta: Selat Hormuz telah menjadi perhatian dunia pascaperang Iran yang dimulai dengan serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari 2026. Konflik ini mendorong Teheran melakukan blokade yang masih berlangsung hingga saat ini dan memicu krisis energi global.
Terletak di antara Oman dan Iran, selat ini menghubungkan Teluk Arab di utara dengan Teluk Oman di selatan menuju Laut Arab. Selat Hormuz kerap dianggap sebagai jalur pengiriman energi paling penting di dunia dengan panjang mencapai 167 kilometer (km).
Berdasarkan data dari Administrasi Informasi Energi AS (EIA), pada 2024 arus minyak yang melewati selat ini mencapai rata-rata 20 juta barel per hari. Angka ini setara dengan sekitar 20 persen dari total konsumsi petroleum liquids global.
Meski memiliki peran sentral, Selat Hormuz bukanlah satu-satunya rute minyak yang vital. Berikut ini daftar 6 jalur penting lainnya di dunia:
1. Selat Malaka

Ilustrasi selat Malaka. (Wikimedia Commons)
Selat Malaka adalah jalur terpenting di kawasan Asia-Oseania dan merupakan chokepoint minyak terbesar di dunia dalam hal volume transit. Jalur ini menghubungkan Samudra Hindia dengan Samudra Pasifik, serta menjadi rute laut terpendek dari Timur Tengah menuju pasar Asia Timur dan Asia Tenggara.
Selat ini membentang sepanjang kurang lebih 900 kilometer dan berbatasan langsung dengan Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Singapura.
Melansir EIA, pada paruh pertama 2025 (1H25), arus minyak yang melintas mencapai sekitar 23,2 juta barel per hari, atau setara dengan 29 persen dari total arus minyak maritim dunia. Volume ini bahkan melebihi Selat Hormuz, di mana Tiongkok menyerap sekitar 48 persen volume impor yang melewati selat Malaka pada paruh pertama 2025.
2. Terusan Suez dan Pipa SUMED

Ilustrasi Terusan Suez. (Wikimedia Commons)
Jika Malaka adalah pintu menuju Asia, maka Terusan Suez dan pipa SUMED merupakan gerbang utama menuju Eropa. Berada di wilayah Mesir, keduanya menghubungkan Laut Merah dengan Laut Tengah, menjadikannya jalur vital bagi pengiriman minyak dan gas dari kawasan Teluk ke Eropa dan Atlantik.
Berdasarkan data Suez Canal Authority, Terusan Suez memiliki panjang sekitar 193,3 km.
Sementara itu, pipa SUMED menyalurkan minyak mentah dari Ain Sukhna ke Sidi Kerir dengan kapasitas sekitar 2,5 juta barel per hari. Pada paruh pertama 2025, total volume minyak yang melintasi kombinasi Suez dan SUMED mencapai sekitar 4,9 juta barel per hari. Jalur ini sangat dipengaruhi oleh kondisi keamanan di Laut Merah.
Akibat serangan terhadap kapal komersial sejak November 2023 oleh kelompok Houthi di Yaman, banyak perusahaan pelayaran memilih memutar melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan.
3. Bab el-Mandeb
.jpg)
Peta selat Bab el-Mandeb. (saxafimedia.com)
Bab el-Mandeb merupakan gerbang selatan Laut Merah yang terletak di antara Yaman (Semenanjung Arab) serta Djibouti dan Eritrea (Tanduk Afrika). Jalur ini menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Laut Arab.
Secara fungsional, Bab el-Mandeb adalah jalur wajib bagi kapal yang menuju Terusan Suez, sehingga perannya tidak dapat dipisahkan dari Suez dan pipa SUMED.
Pada paruh pertama 2025, arus minyak melalui selat ini diperkirakan mencapai 4,2 juta barel per hari. Bab el-Mandeb menjadi salah satu titik yang paling terdampak oleh konflik regional. EIA mencatat aliran minyak melalui selat ini turun drastis dari 9,3 juta barel per hari pada 2023 menjadi sekitar 4,1 juta pada 2024.
Jalur ini kini terancam diblokade Houthi dan Iran akibat blokade AS di selat Hormuz.
| Baca Juga: Selat Hormuz vs Selat Malaka, Mana Lebih Strategis? |
4. Selat Denmark (Danish Straits)
.jpg)
Ilustrasi: EIA
Selat Denmark adalah rangkaian selat yang menghubungkan Laut Baltik dengan Laut Utara, yang sangat krusial bagi perdagangan minyak di Eropa Utara. Jalur ini dahulu identik dengan ekspor minyak Rusia ke Eropa, namun pola perdagangan tersebut berubah total menyusul invasi ke Ukraina dan penerapan sanksi ekonomi.
Pada paruh pertama 2025, arus minyak melalui Selat Denmark diperkirakan mencapai 4,9 juta barel per hari, atau mencakup 6 persen dari perdagangan minyak maritim global.
Angka ini meningkat hampir 60 persen dibandingkan 2021. Rusia tetap menjadi eksportir utama yang menggunakan jalur ini untuk mengalihkan pasokannya ke pasar non-Barat setelah perang Ukraina pecah pada 2022.
5. Selat Turki (Bosporus dan Dardanella)

Ilustrasi: EIA
Selat Turki terdiri dari dua jalur air utama, yaitu Bosporus dan Dardanella, yang sepenuhnya berada dalam kedaulatan Turki. Bosporus menghubungkan Laut Hitam dengan Laut Marmara, sedangkan Dardanella menghubungkan Laut Marmara dengan Laut Tengah melalui Laut Aegea.
Jalur ini memasok minyak dari Rusia dan kawasan Laut Kaspia menuju pasar di Asia serta Eropa Selatan dan Barat.
Selat Turki dikenal karena tingkat kesulitan navigasinya yang sangat tinggi; di titik tersempit, lebarnya kurang dari setengah mil laut. Dengan lebih dari 45.000 kapal yang melintas pada 2024 berdasarkan data Turkish Chamber of Shipping, jalur ini menjadi salah satu chokepoint tersibuk dan paling rumit di dunia.
Pada paruh pertama 2025, total arus minyak diperkirakan mencapai 3,7 juta barel per hari, dengan 60 persen di antaranya adalah minyak mentah.
6. Terusan Panama

Ilustrasi: initiativesrivers.org
Terusan Panama menghubungkan Samudra Pasifik dengan Laut Karibia dan Samudra Atlantik. Meski volumenya tidak sebesar Malaka atau Hormuz dalam hal minyak mentah, kanal ini tetap krusial bagi distribusi produk minyak olahan.
Menurut data EIA, lebih dari 2,3 juta barel minyak bumi per hari melintasi kanal ini pada tahun fiskal (FY) 2025. Sekitar 2,2 juta barel di antaranya merupakan produk olahan.
Peran strategis Terusan Panama terletak pada posisinya sebagai jalur energi lintas benua, khususnya dari Pantai Teluk AS (US Gulf Coast) menuju pantai barat Amerika Selatan dan Asia. Kanal ini juga sangat penting bagi perdagangan LPG dan produk gas lainnya seperti propana dan etana.
Otoritas Terusan Panama mencatat adanya 13.404 transit kapal pada 2025, naik 19,3 persen dari tahun sebelumnya.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com