Perjuangan Perempuan Aceh Pascabencana, Menopang Keluarga di Tengah Keterbatasan

Rauzah, 42, salah satu penyintas bencana di Pidie Jaya, Aceh. (Metrotvnews.com/Fajri F)

Perjuangan Perempuan Aceh Pascabencana, Menopang Keluarga di Tengah Keterbatasan

Lukman Diah Sari • 22 April 2026 10:07

Aceh: Di balik peringatan Hari Kartini, semangat perjuangan perempuan terasa nyata di hunian sementara para penyintas bencana di Pidie Jaya, Aceh. Dalam keterbatasan, para perempuan tetap berdiri, menjaga keluarga, merawat harapan, dan menata ulang kehidupan yang sempat runtuh.

Bagi para penyintas, bencana tidak benar-benar berakhir saat masa tanggap darurat usai. Ketika air surut dan bantuan mulai datang, fase yang lebih sunyi dimulai: bertahan di hunian sementara dengan fasilitas seadanya. Di fase inilah, peran perempuan menjadi semakin berat, menjalankan fungsi domestik sekaligus menopang keluarga di tengah keterbatasan.

Perempuan Bertahan di Tengah Pemulihan

Rauzah, 42, salah satu penyintas di Pidie Jaya, harus membuat dapur sederhana sendiri agar kebutuhan keluarganya tetap berjalan. Menurutnya, ruang memasak menjadi kebutuhan mendasar bagi keluarga di hunian sementara.

"Kepikiran dapur, kalau kita taruh barang jadi susah masak. Maunya ada sedikit fasilitas dapur. Ini kami buat sendiri seadanya. Kalau mencuci juga harus ke sungai," kata Rauzah kepada Metrotvnews.com, Selasa, 21 April 2026. Beban Rauzah kian berat. Dia harus membagi waktu antara mengurus keluarga, merawat anak, hingga menopang ekonomi rumah tangga.

"Beban terberat saya adalah, saya harus menjadi ibu sekaligus ayah dan mencari nafkah untuk empat orang anak-anak saya," ujar Rauzah.

Dalam banyak situasi bencana, perempuan bukan hanya menjadi penyintas, tetapi juga penyangga utama keluarga. Mereka memastikan kehidupan tetap berjalan meski di tengah keterbatasan.

Selain kebutuhan ruang domestik, fasilitas sanitasi menjadi perhatian penting dalam masa pemulihan. Bagi kelompok rentan seperti lansia dan penyandang keterbatasan fisik, akses terhadap toilet yang aman dan nyaman menjadi kebutuhan mendesak.


Nila Kandi, 50, seorang penyintas lansia. (Metrotvnews.com/Fajri F)

Nila Kandi, 50, seorang penyintas lansia, mengatakan kondisi fisiknya membuat fasilitas sanitasi yang ada belum sepenuhnya mudah diakses. Ia masih mengalami kesulitan karena harus menggunakan toilet jongkok.

"Di sini kalau untuk buang air kecil bisa, tapi kalau buang air besar kurang nyaman karena harus jongkok," ujar Nila Kandi.

Ia berharap ke depan tersedia fasilitas yang lebih ramah bagi kelompok rentan. "Karena kaki saya masih sakit dan belum sembuh, kalau ke kamar mandi dengan kloset jongkok cukup sulit. Kalau ada WC duduk tentu lebih membantu," jelas dia.

Upaya Pemerintah

Pemerintah menyatakan berbagai keterbatasan yang ada saat ini akan menjadi bahan evaluasi pada tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Perbaikan terus diupayakan agar penanganan bencana semakin responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Plh Kepala Pelaksana BPBD Pidie Jaya, Okta Handipa, mengatakan aspek gender akan menjadi perhatian dalam tahapan pembangunan selanjutnya. "Saat ini anggaran masih dari Belanja Tidak Terduga. Aspek gender akan kami upayakan masuk pada tahap rehabilitasi dan rekonstruksi," ujar Okta. Ia menambahkan hunian sementara yang tersedia saat ini masih memiliki keterbatasan, namun evaluasi akan terus dilakukan. Selain itu, pemerintah juga berupaya memperkuat sistem informasi kebencanaan agar semakin menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

"Informasi peringatan dini sudah disebarkan, dan akan terus ditingkatkan agar lebih menjangkau semua kelompok," kata dia.

Masukan dan Pendampingan

Tidak hanya pemerintah, sejumlah organisasi masyarakat sipil juga turut memberi masukan agar perspektif gender semakin terintegrasi dalam kebijakan kebencanaan. Keterlibatan perempuan dan penyintas dinilai penting agar setiap program pemulihan benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Ketua Yayasan Perempuan dan Anak Negeri (YPANBA), Ruwaida, menilai suara penyintas perlu didengar lebih luas dalam proses perencanaan. "Dalam pertemuan-pertemuan penyusunan kebijakan, perlu keterlibatan yang lebih menyeluruh, termasuk mendengar langsung kebutuhan penyintas," ungkap Ruwaida.


Perempuan penyintas bencana di Aceh. (metrotvnews.com/Fajri F)

Selain pemulihan fisik, aspek psikologis juga menjadi bagian penting yang tidak boleh diabaikan. Perempuan sering kali menempatkan kebutuhan keluarga di atas kebutuhan dirinya sendiri, sehingga beban emosional kerap dipendam tanpa disadari. Psikolog Yusniar Idris menilai perempuan membutuhkan ruang pemulihan mental agar dapat tetap menjadi penopang keluarga.

"Perempuan sering menempatkan kebutuhan keluarga di atas dirinya sendiri. Karena itu, dukungan psikologis dan ruang pemulihan sangat penting agar ketahanan keluarga tetap terjaga," jelasnya.

Berbagai tantangan yang dihadapi perempuan penyintas menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Tidak cukup hanya membangun hunian, tetapi juga memastikan rasa aman, akses layanan dasar, dukungan psikologis, serta ruang partisipasi bagi perempuan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Lukman Diah Sari)