Iran Sebut Kesepakatan dengan AS Bisa Tercapai Jika Diplomasi Diutamakan

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. (Anadolu Agency)

Iran Sebut Kesepakatan dengan AS Bisa Tercapai Jika Diplomasi Diutamakan

Muhammad Reyhansyah • 25 February 2026 14:47

Teheran: Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa peluang tercapainya kesepakatan dengan Amerika Serikat (AS) berada dalam jangkauan, tetapi hanya jika diplomasi dijadikan prioritas. 

Pernyataan itu disampaikan menjelang putaran baru perundingan nuklir yang diperkirakan berlangsung di Jenewa, Swiss.

Seorang pejabat senior AS pada Senin menyebut pertemuan dijadwalkan berlangsung Kamis di kota tersebut, dengan utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner direncanakan bertemu delegasi Iran untuk bernegosiasi.

Kedua negara kembali membuka jalur perundingan awal bulan ini ketika Amerika Serikat meningkatkan kekuatan militernya di Timur Tengah. Iran sebelumnya mengancam akan menyerang pangkalan AS di kawasan itu jika diserang.

“Kita memiliki peluang bersejarah untuk mencapai kesepakatan yang belum pernah ada sebelumnya yang menjawab kekhawatiran bersama dan memenuhi kepentingan bersama,” kata Araghchi dalam unggahan di platform X, seperti dikutip AsiaOne, Rabu, 25 Februari 2026.

Diplomat utama Iran itu menambahkan negaranya akan melanjutkan perundingan dengan “tekad untuk mencapai kesepakatan yang adil dan seimbang dalam waktu sesingkat mungkin.”

Sebelumnya, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Majid Takht-Ravanchi, mengatakan Teheran siap mengambil semua langkah yang diperlukan untuk mencapai kesepakatan dengan Washington.

“Kami siap mencapai kesepakatan secepat mungkin. Kami akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk mewujudkannya. Kami akan memasuki ruang perundingan di Jenewa dengan kejujuran penuh dan itikad baik,” ujarnya dalam pernyataan yang dikutip media pemerintah.

Tarik Ulur Kesepakatan Nuklir

Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, pada Selasa mengatakan Presiden AS Donald Trump selalu menjadikan diplomasi sebagai pilihan pertama, tetapi tetap bersedia menggunakan kekuatan mematikan bila diperlukan.

Seorang pejabat senior Iran juga mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran bersedia mempertimbangkan kombinasi langkah berupa mengirim separuh stok uranium yang diperkaya tinggi ke luar negeri serta mengencerkan sisanya.

Selain itu, Iran juga disebut siap ikut dalam pembentukan konsorsium pengayaan regional, sebuah gagasan yang beberapa kali muncul dalam diplomasi terkait Iran selama bertahun-tahun.

Sebagai imbalannya, Iran menginginkan pengakuan AS atas haknya melakukan “pengayaan nuklir untuk tujuan damai” dalam suatu kesepakatan yang juga mencakup pencabutan sanksi ekonomi.

“Jika ada serangan atau agresi terhadap Iran, kami akan merespons sesuai rencana pertahanan kami… Serangan AS terhadap Iran adalah taruhan yang sangat berisiko,” tambah Takht-Ravanchi.

Perundingan tidak langsung antara kedua pihak tahun lalu tidak menghasilkan kesepakatan, terutama karena perbedaan tajam atas tuntutan AS agar Iran menghentikan pengayaan uranium di dalam negeri yang oleh Washington dipandang sebagai jalur menuju pembuatan bom nuklir. Iran selalu membantah ingin memiliki senjata tersebut.

Amerika Serikat sebelumnya bergabung dengan Israel menyerang fasilitas nuklir Iran pada Juni tahun lalu, yang secara efektif membatasi pengayaan uranium Teheran. 

Saat itu, Trump mengatakan lokasi nuklir utama Iran telah “dihancurkan." Namun Iran diyakini masih memiliki stok uranium hasil pengayaan sebelumnya yang ingin dihapuskan oleh Washington.

Baca juga:  Jelang Perundingan Nuklir, AS Kerahkan Lebih dari 300 Pesawat Militer ke Timteng

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)