Pesawat jet tempur milik Angkatan Udara Amerika Serikat. (Anadolu Agency)
Jelang Perundingan Nuklir, AS Kerahkan Lebih dari 300 Pesawat Militer ke Timteng
Willy Haryono • 25 February 2026 11:50
Doha: Amerika Serikat (AS) mengerahkan lebih dari 300 pesawat militer ke berbagai pangkalan Komando Pusat (CENTCOM) di Timur Tengah menjelang perundingan nuklir tidak langsung antara Washington dan Teheran yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis mendatang di Jenewa, Swiss.
Berdasarkan data intelijen sumber terbuka (OSINT) yang dihimpun Anadolu Agency, Rabu, 25 Februari 2026, penempatan kekuatan ini mencakup pesawat jet tempur, pesawat pengisi bahan bakar, pesawat perang elektronik, serta sistem pertahanan rudal.
Seluruh aset tersebut kini telah diposisikan di instalasi militer strategis di Qatar, Yordania, dan Arab Saudi.
Kekuatan udara yang dikerahkan terdiri dari sekitar 84 jet tempur F-18E/F, 36 pesawat serang F-15E, 48 pesawat tempur multiperan F-16, serta 42 jet tempur siluman F-35A/C.
Selain itu, AS menyertakan 18 pesawat perang elektronik EA-18G Growler dan 75 pesawat tanker pengisi bahan bakar udara (KC-46 dan KC-135) untuk mendukung operasi tempur jarak jauh yang berkelanjutan.
Meski pengerahan aset udara sangat masif, pemantauan intelijen melaporkan tidak adanya pergerakan pesawat pengebom strategis B-2, yang sebelumnya digunakan dalam Operasi Midnight Hammer terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu.
Kehadiran armada AS ini secara efektif menggandakan kekuatan serangan udara yang tersedia di kawasan jika disinergikan dengan armada Israel—yang memiliki 66 unit F-15, 173 unit F-16, dan 48 unit F-35I. Pada hari Selasa, Israel juga dilaporkan menerima 12 unit F-22 Raptor, jet tempur paling canggih dalam gudang senjata Amerika.
F-22 Raptor memiliki kemampuan khusus untuk menembus wilayah musuh serta melumpuhkan sistem pertahanan udara dan instalasi radar. Kehadiran jet tempur ini diprediksi akan menjadi ujung tombak dalam setiap potensi aksi militer di masa depan.
Gedung Putih menegaskan bahwa opsi utama Presiden Donald Trump tetaplah jalur diplomasi. Namun, juru bicara Karoline Leavitt mengatakan bahwa AS tidak akan ragu menggunakan kekuatan militer mematikan jika diperlukan untuk merespons ancaman nuklir yang masih ada.
Perundingan di Jenewa yang dimediasi oleh Oman dipandang sebagai titik balik krusial. Dalam pertemuan tersebut, Iran diharapkan mempresentasikan draf proposal terbaru, sementara Washington terus menerapkan strategi tekanan maksimum yang menggabungkan keterlibatan diplomatik dengan kesiagaan militer penuh. (Kelvin Yurcel)
Baca juga: Tiongkok Desak AS-Iran Tahan Diri Jelang Perundingan Nuklir