Kepala Badan Geologi Lama Saria. (Metrotvnews.com/ P Aditya Prakasa)
Gunung Anak Krakatau Kembali ke Pola Erupsi Strombolian
P Aditya Prakasa • 8 September 2026 15:41
Bandung: Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan fase erupsi menerus Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda resmi berakhir. Aktivitas vulkanik gunung api tersebut kini kembali ke karakter aslinya, yakni fase erupsi Strombolian dengan durasi dan amplitudo letusan yang relatif pendek.
Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan fase erupsi menerus yang sempat berlangsung sejak Rabu, 4 September, mereda pada Jumat, 6 September dini hari tepat pukul 00.04 WIB. Perubahan ini menandai kembalinya perilaku alami Gunung Anak Krakatau yang bercirikan letusan Strombolian berdurasi singkat.
"Sekarang sudah kembali kepada fase sesuai karakter Gunung Anak Krakatau, yaitu fase Strombolian. Erupsi terjadi dengan amplitudo yang tidak terlalu luas, tidak terlalu panjang, dan durasi letusannya hanya beberapa detik," kata Lana di Kantor Badan Geologi, Bandung, Selasa, 8 September 2026.
Berdasarkan pemantauan seismik pos pengamatan gunung api, penurunan getaran seismik telah terekam secara konsisten sejak 5 September. Namun, instrumen pencatat masih merekam getaran vulkanik berskala rendah yang disebabkan pergerakan fluida magma di dalam tubuh gunung api.
"Pada pengamatan mutakhir per 8 September, terekam delapan kali letusan kecil dengan durasi berkisar antara 10 hingga 15 detik. Sebaran material letusan dan abu vulkanik terpantau hanya terkonsentrasi di sekitar lereng dan tubuh kawah," ucap dia.
Menjawab kekhawatiran masyarakat mengenai ancaman gelombang laut, Lana menegaskan kondisi saat ini jauh berbeda dengan peristiwa erupsi katastropik pada Desember 2018 silam. Saat itu, tsunami dipicu oleh runtuhnya sebagian besar dinding tubuh gunung ke dalam palung laut.
"Sementara saat ini, analisis data deformasi menunjukkan tidak adanya pergeseran dinding kawah yang berpotensi memicu longsoran lereng ke perairan," jelas dia.

Kepala Badan Geologi Lama Saria. (Metrotvnews.com/ P Aditya Prakasa)
Selain itu, morfologi lereng saat ini tergolong dangkal. Kesimpulan nihil potensi tsunami ini juga dikonfirmasi melalui sinkronisasi data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang tidak mencatat anomali muka air laut di sepanjang Selat Sunda.
Membaiknya kondisi atmosfer dan minimnya sebaran abu berdampak positif pada penerbangan sipil. Kementerian Perhubungan telah membuka kembali operasional sejumlah bandara yang sebelumnya terdampak abu vulkanik.
"Sementara bagi nelayan di pesisir Selat Sunda, aktivitas melaut telah dapat kembali berjalan normal dengan imbauan tetap mengenakan pelindung mata dan masker untuk mengantisipasi paparan abu tipis," ungkap Lana.
Meski demikian, Badan Geologi belum menurunkan tingkat kewaspadaan. Status Gunung Anak Krakatau masih dipertahankan pada Level III (Siaga) dengan rekomendasi larangan beraktivitas dalam radius aman 3 kilometer dari pusat kawah aktif.
"Meskipun aktivitas vulkanik mulai melandai sejak 5 September. Status tetap Siaga (Level III) dengan radius aman 3 kilometer," ucap dia.