Pementasan King Lear karya William Shakespeare dalam penyutradaraan Tadashi Suzuki hadir di Jakarta pada 16-17 September 2026. (Foto: Ist)
King Lear Hadir di Jakarta, Membawa Tragedi tentang Kekuasaan, Kehilangan, dan Penyesalan
Patrick Pinaria • 14 September 2026 13:00
Jakarta: Tragedi King Lear karya William Shakespeare dalam penyutradaraan Tadashi Suzuki akan dipentaskan untuk pertama kalinya di Jakarta pada 16-17 September 2026. Pertunjukan yang berlangsung di Gedung Kesenian Jakarta ini diproduksi oleh Suzuki Company of Toga (SCOT) dan Bumi Purnati Indonesia bersama The Japan Foundation.
Pementasan tersebut menjadi bagian dari program Partnership to Co-create a Future with the Next Generation: WA Project 2.0 yang diimplementasikan oleh The Japan Foundation selama sepuluh tahun melalui pertukaran antarmasyarakat (people-to-people exchange) di wilayah Asia Tenggara dan Jepang.
King Lear merupakan salah satu karya penting dalam perjalanan artistik Tadashi Suzuki dan SCOT sejak pertama kali diciptakan pada 1984. Di tangan Suzuki, tragedi Shakespeare tersebut tidak hanya menjadi kisah tentang seorang raja yang salah membagi kerajaan, tetapi juga tentang seorang manusia yang kehilangan kuasa atas dunia yang selama ini diyakininya dapat ia kendalikan.
Para pemain King Lear tampil dalam salah satu adegan pementasan dengan pendekatan visual khas penyutradaraan Tadashi Suzuki. (Foto: Ist)
Dunia sebagai rumah sakit
Dalam versi Suzuki, dunia kerajaan dipindahkan ke sebuah rumah sakit atau ruang perawatan orang tua. Lear tidak hanya hadir sebagai seorang raja, tetapi sebagai lelaki tua yang hidup bersama ingatan dan pikirannya sendiri. Dari ruang tersebut, batas antara kenyataan, ingatan, dan halusinasi menjadi kabur.Kerajaan dapat dibaca sebagai ingatan, pengkhianatan anak-anaknya sebagai trauma, sementara badai menjadi gambaran kekacauan dalam tubuh dan pikirannya.
Lear menyerahkan kerajaannya kepada Goneril dan Regan setelah keduanya mengucapkan cinta dengan kata-kata yang berlebihan. Sebaliknya, Cordelia, putri bungsunya, menolak menjadikan cinta sebagai pertunjukan retorika. Kejujuran tersebut membuat Lear murka dan Cordelia diusir.
Sejak saat itu, dunia Lear mulai runtuh.
Pertanyaan Shakespeare kemudian memperoleh konteks baru: apa yang tersisa dari seseorang ketika kekuasaan, keluarga, penghormatan, dan dunia yang pernah mengelilinginya perlahan menghilang?
Tubuh yang kehilangan kekuasaan
Bagi Tadashi Suzuki, tubuh aktor merupakan pusat energi pertunjukan.Melalui Suzuki Method of Actor Training, aktor membangun hubungan yang kuat antara kaki, pusat gravitasi, pernapasan, suara, konsentrasi, dan ruang. Dari sana lahir kekuatan khas panggung Suzuki: tubuh yang kokoh tetapi mampu diam sangat lama, energi yang besar tetapi terkendali, serta suara yang muncul dari pusat tubuh dan bukan sekadar dari kata-kata.
Karena itu, perjalanan Lear juga dapat dibaca sebagai perjalanan kehancuran sebuah tubuh.
Pada awalnya, Lear merupakan pusat dunia. Kata-katanya adalah perintah dan tubuhnya memiliki otoritas. Kemudian ia kehilangan takhta, pengikut, rumah, anak-anak, hingga kemampuan memahami kenyataan.
Sampai akhirnya tidak ada lagi “Raja Lear”. Yang tersisa hanyalah seorang manusia tua.
Di titik tersebut, Shakespeare bertemu dengan bahasa teater Suzuki. Ketika seluruh atribut sosial dilepaskan, tubuh menjadi tempat terakhir manusia mempertahankan keberadaannya.
King Lear yang disutradarai Tadashi Suzuki, menampilkan Jamaluddin Latif dari Indonesia (kiri) dan Maki Saito dari Jepang (kanan). (Foto: SCOT)
Cordelia dan tragedi yang terlambat
Puncak tragedi King Lear bukan hanya badai ataupun ketika Goneril dan Regan menolak ayahnya, melainkan Cordelia.Lear pernah menghukum satu-satunya anak yang tidak bersedia mempertontonkan cintanya melalui kata-kata. Ia percaya kepada dua anak yang pandai merayu, sementara kejujuran Cordelia justru dibalas dengan pengusiran.
Seluruh perjalanan Lear kemudian menjadi perjalanan panjang untuk memahami kesalahan tersebut. Namun ketika akhirnya ia menyadari siapa yang sungguh-sungguh mencintainya, waktu telah habis.
King Lear yang disutradarai Tadashi Suzuki, menampilkan Ahmad Fauzi dari Indonesia (kiri) dan Lee Sung Won dari Korea Selatan (kanan). (Foto: SCOT)
Pada bagian akhir tragedi, yang terlihat bukan lagi seorang raja yang kehilangan kerajaan. Yang terlihat adalah seorang ayah tua berhadapan dengan tubuh anak perempuan yang dicintainya, tetapi telah mati.
Tidak ada kerajaan yang dapat ditawarkan kembali. Tidak ada keputusan yang dapat dicabut. Tidak ada kekuasaan yang mampu menghidupkan Cordelia.
Lear akhirnya dapat mencintai Cordelia tanpa meminta apa pun darinya, justru ketika Cordelia tidak lagi dapat menerima cinta tersebut.
Dalam bahasa panggung Suzuki, tragedi ini tidak membutuhkan melodrama. Kesedihan justru ditahan. Tubuh diam, ruang besar, gerak sedikit. Suara muncul dari tubuh yang hampir tidak mampu lagi menanggung penderitaannya.
King Lear yang disutradarai Tadashi Suzuki, menampilkan Mattia Sebastian dari Italia (kiri), Haruo Ishikawa dari Jepang (tengah), dan Koji Murakami dari Jepang (kanan). (Foto: SCOT)
Semakin sedikit tubuh bergerak, semakin besar kekosongan yang terasa.
Ketika seluruh bayangan kerajaan berakhir, yang kembali ditemukan adalah seorang manusia tua dalam kesunyian.
Suzuki tidak sekadar menceritakan bagaimana seorang raja kehilangan kerajaannya. Ia memperlihatkan bagaimana seorang manusia, setelah kehilangan segala sesuatu yang membuatnya merasa berkuasa, akhirnya harus berhadapan dengan dirinya sendiri.
Tragedi terbesarnya bukan kehilangan takhta, melainkan terlambat mengetahui siapa yang sungguh-sungguh mencintainya.
Lear dari Indonesia
Produksi King Lear kali ini juga menandai babak penting dalam perjalanan kolaborasi Suzuki Company of Toga (SCOT) dan seniman Indonesia.Tokoh King Lear dimainkan oleh Jamaluddin Latif, aktor Indonesia yang selama bertahun-tahun mendalami Metode Suzuki untuk Pelatihan Aktor serta terlibat dalam berbagai proses latihan dan produksi bersama SCOT dan Bumi Purnati Indonesia.
Peran Lear sebelumnya selama bertahun-tahun dimainkan oleh aktor Jerman Goetz Argus. Setelah wafatnya Goetz Argus, peran tersebut kini diteruskan kepada generasi berikutnya.
Pilihan terhadap aktor Indonesia bukan sekadar pergantian pemeran. Hal tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi dan metode teater dapat diwariskan melampaui batas negara, bahasa, dan kebudayaan.
Produksi Jakarta ini juga mempertemukan aktor dari berbagai latar kebangsaan, termasuk Indonesia, Jepang, Italia, Amerika Serikat, Rusia, Korea Selatan, Cina, dan Chile.
King Lear yang disutradarai Tadashi Suzuki, menampilkan Jamaluddin Latif dari Indonesia (kiri) dan Maki Saito dari Jepang (kanan). (Foto: SCOT)
Bahasa dan latar budaya mereka berbeda. Namun, di atas panggung, mereka bertemu melalui tubuh, bunyi, kostum, dan gerakan yang presisi. Nuansa keagungan dan penderitaan di baliknya menjadi tone dasar pertunjukan ini.
Perjalanan Desa Toga-Indonesia
Pementasan King Lear merupakan kelanjutan dari hubungan panjang antara Suzuki Company of Toga, Bumi Purnati Indonesia, dan The Japan Foundation yang berlangsung sejak 2015.The Japan Foundation berharap kegiatan tersebut dapat memperdalam saling pengertian antara Indonesia dan Jepang, sekaligus mengembangkan sumber daya manusia yang mampu memperkuat pertukaran budaya antarnegara di masa depan.
Kolaborasi tersebut berkembang melalui pelatihan, residensi, dan produksi bersama.
Salah satu hasil pentingnya adalah Dionysus, yang melibatkan aktor Indonesia, Jepang, dan Cina. Karya tersebut kemudian dipentaskan di berbagai panggung dan festival internasional, di antaranya Singapore International Festival of Arts (SIFA) 2019 dan Theatre Olympics ke-9 pada 2019.
Para aktor menampilkan kekayaan bahasa daerah dan latar budaya masing-masing sehingga karya tersebut mendapatkan apresiasi yang tinggi sebagai model baru produksi teater kolaboratif lintas negara.
Para aktor Indonesia yang dipilih oleh Restu Kusumaningrum, Direktur Artistik dan Independen Produser Bumi Purnati Indonesia, secara berkelanjutan juga mengikuti SCOT Summer Season di Toga, Jepang, serta pelatihan Suzuki Method of Actor Training.
Melalui program tersebut, para aktor berkesempatan berkreasi dan berkolaborasi bersama para aktor Jepang sehingga melahirkan hubungan yang erat dalam dunia seni pertunjukan antara dua negara.
Perjalanan itu dilanjutkan melalui Electra. Pada 2021, di tengah pandemi Covid-19, sejumlah aktor Indonesia tinggal dan berlatih di Desa Toga, Prefektur Toyama, Jepang, sebelum memainkan Electra bersama aktor SCOT pada hari pertama turun salju pada 2022.
Kolaborasi kembali berlanjut pada 2023 dengan mementaskan kembali karya Dionysus di Gedung Kesenian Jakarta.
Kini, melalui King Lear, perjalanan panjang tersebut tiba di Jakarta.
Pertunjukan ini bukan sekadar membawa sebuah produksi Jepang ke Indonesia. Ia merupakan hasil dari proses pertukaran, latihan, dan kerja bersama yang dibangun selama lebih dari satu dekade.
Melalui King Lear, kisah yang ditulis Shakespeare lebih dari empat abad lalu kembali berbicara kepada kehidupan hari ini: tentang kekuasaan yang tidak abadi, keluarga, usia tua, kehilangan, kesendirian, dan penyesalan.
Tentang seorang manusia yang baru memahami arti cinta setelah hampir semuanya hilang.
Kali ini, tragedi tersebut hadir di Jakarta.