Protes mahasiswa di Iran, 21 Februari 2026. (BBC)
Mahasiswa Iran Gelar Aksi Protes Antipemerintah Baru
Riza Aslam Khaeron • 22 February 2026 15:01
Teheran: Mahasiswa di sejumlah universitas di Iran kembali menggelar demonstrasi antipemerintah pada Sabtu, 21 Februari 2026, bertepatan dengan hari pertama semester baru. Aksi ini menandai protes kampus berskala besar pertama sejak tindakan keras pemerintah yang meredam gerakan nasional pada Januari lalu.
Melansir The New York Times (NYT), demonstrasi terjadi di beberapa kampus utama, termasuk Sharif University dan Amirkabir University di Teheran. NYT memverifikasi sejumlah video yang memperlihatkan para mahasiswa mengenakan pakaian hitam sebagai bentuk duka atas jatuhnya korban jiwa dalam gelombang protes sebelumnya.
Di Sharif University, para demonstran meneriakkan slogan “Mati bagi diktator!”, yang ditujukan kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Rekaman yang diverifikasi juga menunjukkan aksi saling dorong di tengah kerumunan besar, yang diduga merupakan bentrokan antara kelompok mahasiswa dengan pandangan politik yang berseberangan.
Jaringan media pemerintah, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), menyebutkan bahwa aksi di Sharif bermula sebagai aksi duduk diam yang kemudian berkembang menjadi pertemuan dengan "teriakan slogan-slogan subversif." Media tersebut mengakui bahwa situasi di lokasi sempat menjadi tegang.
Sementara itu, di Amirkabir University, sebuah kelompok mahasiswa melaporkan melalui Telegram bahwa para demonstran menyerukan bahwa "target kami adalah seluruh sistem." Kelompok tersebut juga menyatakan bahwa sejumlah mahasiswa ditangkap saat polisi memblokir pintu masuk universitas.
Namun, kantor berita semi-resmi Tasnim membantah adanya penangkapan, sementara media pemerintah mengeklaim ketegangan di kampus tersebut bersifat terbatas dan berlangsung singkat.
| Baca Juga: Trump Sebut 32.000 Orang Tewas dalam Protes Iran, Teheran Bantah |
Aksi serupa juga dilaporkan terjadi di universitas di kota Mashhad, wilayah timur laut Iran, serta di Shahid Beheshti University yang terletak di pinggiran Teheran. Laporan ini dikonfirmasi oleh kelompok-kelompok mahasiswa di masing-masing kampus tersebut.
Gelombang protes yang dimulai pada Januari lalu awalnya dipicu oleh keluhan ekonomi, namun dengan cepat berkembang menjadi gerakan nasional yang mengancam stabilitas rezim.
Aktivisme mahasiswa, yang didukung oleh para pedagang di bazar bersejarah Teheran, dinilai menjadi motor penggerak utama dalam eskalasi gerakan tersebut.
Terkait jumlah korban, terdapat perbedaan data yang signifikan. Pemerintah Iran secara resmi menyatakan 3.117 orang tewas selama penindakan demonstran pada Januari.
Di sisi lain, Human Rights Activists News Agency (HRANA), lembaga HAM yang berbasis di AS, melaporkan jumlah korban mencapai 7.015 orang tewas—di mana 6.508 di antaranya adalah demonstran—dan memperkirakan angka tersebut masih bisa meningkat seiring proses verifikasi.
Mengutip NYT, mayoritas kematian terjadi dalam rentang tiga malam pada awal Januari, yang disebut sebagai kerusuhan paling mematikan dalam sejarah modern Iran. Hingga saat ini, pemerintah dilaporkan masih melanjutkan penangkapan terhadap para pembangkang dan menuntut pihak-pihak yang dianggap sebagai pemicu kerusuhan.
Pemerintah Iran sendiri belum memberikan pengakuan resmi terkait protes terbaru ini, meskipun media-media yang berafiliasi dengan negara mulai melaporkan adanya ketegangan di lingkungan universitas.