Kapal Perang Rusia Kawal Tanker Minyak yang Diburu AS di Samudra Atlantik

Rusia mengerahkan kapal perang untuk mengawal tanker minyak tersanksi yang diburu AS di Samudra Atlantik. (Anadolu Agency)

Kapal Perang Rusia Kawal Tanker Minyak yang Diburu AS di Samudra Atlantik

Muhammad Reyhansyah • 7 January 2026 15:06

Moskow: Rusia dilaporkan mengerahkan aset angkatan laut untuk mengawal sebuah kapal tanker minyak yang tengah diburu oleh pasukan Amerika Serikat (AS) di Samudra Atlantik. Kapal tersebut secara historis diketahui mengangkut minyak mentah Venezuela, meski saat ini dilaporkan tidak membawa muatan.

Menurut laporan BBC, pada Selasa, 6 Januari 2026, kapal tanker itu terpantau berada di perairan antara Skotlandia dan Islandia. Pergerakan kapal ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Moskow terkait penegakan sanksi terhadap pengiriman minyak Venezuela.

Presiden AS Donald Trump bulan lalu menyatakan telah memerintahkan penerapan “blokade” terhadap kapal tanker minyak yang dikenai sanksi dan keluar-masuk Venezuela. Pemerintah di Caracas mengecam langkah tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan “perampasan” di laut internasional.

Menjelang penangkapan mantan presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh AS pada Sabtu lalu, Trump berulang kali menuduh pemerintah Venezuela menggunakan jalur laut untuk menyelundupkan narkotika ke Amerika Serikat.

Mengutip BBC, Rabu, 7 Januari 2026, Penjaga Pantai AS bulan lalu sempat berupaya menaiki kapal tanker bernama Bella 1 di kawasan Karibia ketika kapal itu diduga menuju Venezuela. Otoritas AS mengantongi surat perintah penyitaan dengan tuduhan pelanggaran sanksi dan pengangkutan minyak Iran. Namun, kapal tersebut kemudian mengubah haluan secara drastis, mengganti nama menjadi Marinera, serta mengalihkan pendaftaran bendera dari Guyana ke Rusia.

AS Siap Lakukan Intersepsi

Pergerakan Marinera menuju perairan Eropa bertepatan dengan kedatangan sekitar 10 pesawat angkut militer AS dan sejumlah helikopter di kawasan tersebut. Pemerintah Rusia menyatakan tengah “memantau dengan penuh keprihatinan” situasi yang melibatkan kapal tersebut.

Dua pejabat AS mengatakan pada Selasa bahwa pasukan Amerika berencana untuk menaiki kapal tersebut dan bahwa Washington lebih memilih menyitanya ketimbang menenggelamkannya. Pada hari yang sama, U.S. Southern Command menyatakan melalui media sosial bahwa pihaknya tetap siap mendukung lembaga pemerintah AS dalam menghadapi kapal dan aktor yang dikenai sanksi.

“Angkatan laut kami waspada, lincah, dan berada dalam posisi untuk melacak kapal-kapal yang menjadi perhatian. Ketika perintah datang, kami akan siap,” demikian pernyataan tersebut.

Kapal Marinera diyakini masih berada di antara Skotlandia dan Islandia hingga Selasa malam. Jarak tempuh yang jauh serta kondisi cuaca buruk dinilai menyulitkan upaya naik ke kapal.

Jika AS melancarkan operasi dari wilayah Inggris, Washington secara diplomatik diperkirakan akan memberi pemberitahuan terlebih dahulu kepada London. Hingga kini, Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan tidak akan mengomentari aktivitas militer negara lain.

Pejabat AS juga menyinggung kemungkinan operasi serupa dengan penyitaan kapal tanker The Skipper bulan lalu, ketika Marinir AS dan pasukan operasi khusus, bekerja sama dengan Penjaga Pantai, menyita kapal berbendera Guyana setelah meninggalkan pelabuhan di Venezuela.

Pergantian Bendera Tak Halangi Penegakan Hukum

Menurut hukum internasional, kapal yang mengibarkan bendera suatu negara berada di bawah yurisdiksi dan perlindungan negara tersebut. Namun Dimitris Ampatzidis, analis senior risiko dan kepatuhan di perusahaan intelijen maritim Kpler, menilai pergantian nama dan bendera tidak banyak mengubah posisi hukum kapal tersebut.

“Tindakan AS didorong oleh identitas dasar kapal, seperti nomor IMO, jaringan kepemilikan atau pengendalian, serta riwayat sanksi—bukan oleh nama yang dicat di lambung atau klaim benderanya,” ujarnya.

Ampatzidis menambahkan bahwa pendaftaran ulang ke Rusia berpotensi memicu gesekan diplomatik, tetapi tidak serta-merta menghentikan langkah penegakan hukum AS.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan kapal tersebut berlayar di perairan internasional Atlantik Utara di bawah bendera Federasi Rusia dan mematuhi hukum maritim internasional. Moskow menilai perhatian militer AS dan NATO terhadap kapal itu sebagai “tidak proporsional” dan menyerukan penghormatan terhadap prinsip kebebasan navigasi.

Potensi kebuntuan terkait kapal tanker ini muncul hanya beberapa hari setelah Amerika Serikat mengejutkan dunia dengan penangkapan Maduro di Caracas, yang disertai serangan udara terhadap sejumlah target di ibu kota Venezuela dalam operasi militer tersebut.

Baca juga:  Tanker Minyak Venezuela Ganti Bendera Rusia untuk Hindari Intersepsi AS

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)