Banjir Bandang Nepal-Tiongkok Tewaskan 543 Orang, 1.200 Lebih Masih Hilang

Banjir bandang dan longsor dahsyat di Nepal-Tiongkok menewaskan 543 orang dan menyebabkan lebih dari 1.200 lainnya masih hilang. (Anadolu Agency)

Banjir Bandang Nepal-Tiongkok Tewaskan 543 Orang, 1.200 Lebih Masih Hilang

Willy Haryono • 29 August 2026 08:21

Kathmandu: Korban tewas akibat banjir bandang dan longsor dahsyat di perbatasan Nepal-Tiongkok mencapai 543 orang, dengan lebih dari 1.200 lainnya masih dinyatakan hilang hingga Jumat, 28 Agustus 2026.

Pemerintah Nepal menyebut sedikitnya 538 orang tewas akibat banjir yang melanda sejumlah wilayah negara tersebut sejak Rabu lalu, menurut Kathmandu Post.

Sementara itu, Tiongkok mengonfirmasi dua korban tewas tambahan pada Jumat, sehingga jumlah korban meninggal di Daerah Otonomi Xizang, atau Tibet, mencapai lima orang, sebagaimana dilaporkan kantor berita Xinhua.

Dengan demikian, total korban tewas gabungan di kedua negara mencapai 543 orang.

Lebih dari 1.200 Orang Masih Hilang

Banjir dan longsor menerjang wilayah utara dan tengah Nepal pada Rabu. Air bah menyapu permukiman di sepanjang Sungai Bhotekoshi dan Trishuli serta membawa warga dan puing-puing ke wilayah hilir.

Pemerintah Nepal mengatakan sejumlah jenazah ditemukan jauh di bagian hilir sungai.

Otoritas Nepal juga mengeluarkan peringatan baru mengenai potensi banjir setelah sebuah danau penghalang (barrier lake) yang terbentuk akibat banjir bandang dilaporkan jebol dan mengalirkan air dalam jumlah besar ke sungai-sungai di Nepal.

Kementerian Luar Negeri Nepal menyebut 596 orang dari 33 negara masih dinyatakan hilang. Dewan Pariwisata Nepal juga mencatat 127 warga Nepal belum ditemukan.

Di Tiongkok, sebanyak 558 orang, termasuk 260 warga negara asing, masih hilang di Tibet ketika operasi pencarian dan penyelamatan terus dilakukan.

Berdasarkan angka yang disampaikan Nepal dan China, total sekitar 1.281 orang masih hilang, termasuk 856 warga negara asing.

Sebanyak 288 warga India tercatat sebagai kelompok warga asing terbanyak yang belum ditemukan di Nepal. Sebagian di antaranya merupakan pekerja pada proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air Trishuli-1.

Sekitar 93 Ribu Orang Terdampak

Ratusan warga, pekerja konstruksi, dan wisatawan di wilayah Gyirong, Tibet, telah dievakuasi dan dipindahkan ke lokasi yang lebih aman, menurut Xinhua.

Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah mengatakan perkiraan awal menunjukkan sekitar 93.000 orang terdampak di Nepal. Penilaian masih berlangsung, terutama di wilayah yang sulit dijangkau.

"Ribuan rumah hancur atau mengalami kerusakan parah, sementara sejumlah jembatan hanyut dan jalan utama rusak," kata organisasi tersebut dalam pernyataan pada Jumat.

Kerusakan infrastruktur menyebabkan sejumlah komunitas yang paling terdampak terputus dari wilayah lainnya dan menyulitkan distribusi bantuan.

"Lokasi wilayah yang terpencil, ditambah kerusakan infrastruktur, semakin menyulitkan upaya untuk menilai skala penuh bencana maupun menyalurkan bantuan kepada masyarakat yang paling membutuhkan," lanjutnya.

Nepal Mulai Evaluasi Kerusakan

Pemerintah Nepal mulai melakukan penilaian terhadap kerusakan yang ditimbulkan banjir dan longsor. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Nepal Lok B. Chhetri mengatakan aparat keamanan saat ini menangani situasi di wilayah terdampak.

"Institusi keamanan kami saat ini menangani situasi secara efektif," kata Chhetri dalam pernyataan tertulis kepada Anadolu.

Terkait kemungkinan permintaan bantuan internasional, Chhetri mengatakan pemerintah dapat mengajukan permintaan untuk layanan tertentu dan khusus sesuai perkembangan operasi di lapangan.

Mengingat kerusakan besar terhadap infrastruktur penting, pemerintah masih melakukan penilaian sebelum menentukan kebutuhan bantuan lebih lanjut.

Operasi pencarian dan penyelamatan masih melibatkan Angkatan Darat Nepal, Kepolisian Nepal, dan Armed Police Force.

Helikopter digunakan untuk menjangkau daerah yang terisolasi dan mengevakuasi korban selamat. Sementara itu, tim darat menyisir tepian sungai dan kawasan permukiman di sepanjang wilayah hilir.

Dewan Pariwisata Nepal juga masih memverifikasi keberadaan wisatawan dan pelancong yang berada atau melintas di Rasuwa, Nuwakot, dan Dhading ketika bencana terjadi.

Kerusakan parah terhadap jaringan transportasi dan infrastruktur lainnya semakin memperumit proses pencarian, evakuasi, dan penyaluran bantuan.

Baca juga:  Daftar 35 Negara yang Warganya Hilang akibat Banjir Bandang Nepal

(Willy Haryono)