Indonesia membidik nilai tambah tumput laut untuk memperkuat ekonomi biru. (UNDP Indonesia)
Indonesia Bidik Nilai Tambah Rumput Laut untuk Perkuat Ekonomi Biru
Willy Haryono • 19 September 2026 13:01
Sidoarjo: Pemerintah Indonesia bersama United Nations Development Programme (UNDP) mendorong pengembangan rumput laut sebagai salah satu penggerak ekonomi biru Indonesia, yang mencakup peningkatan produktivitas, pengolahan, teknologi, hingga akses pasar untuk menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat pesisir.
Upaya itu terlihat dalam kunjungan delegasi tingkat tinggi Pemerintah Indonesia dan UNDP ke Sidoarjo, Jawa Timur, pada 17-18 September 2026. Delegasi mengunjungi lokasi budidaya rumput laut dan Koperasi Agar Makmur Sentosa untuk melihat pengembangan rantai nilai rumput laut dari tingkat produksi hingga pascapanen.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya yang lebih luas melalui Archipelagic and Island States (AIS) Forum, sebuah inisiatif Pemerintah Indonesia yang sekretariatnya didukung dan difasilitasi UNDP.
Wakil Menteri Luar Negeri RI Arif Havas Oegroseno, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Tb. Haeru Rahayu, perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, pemerintah daerah, serta masyarakat pesisir, turut hadir dalam kunjungan tersebut.
Dari Produksi ke Nilai Tambah
Indonesia merupakan salah satu produsen rumput laut tropis terbesar di dunia, termasuk Gracilaria spp.. Indonesia juga disebut tetap menjadi eksportir utama rumput laut dunia dengan kontribusi sekitar 69 persen terhadap ekspor rumput laut global pada 2025.Namun, potensi industri rumput laut tidak hanya terletak pada produksi dan ekspor bahan mentah.
Peningkatan produktivitas, pengolahan, teknologi, akses pasar, serta investasi di sepanjang rantai nilai dinilai dapat membantu Indonesia memperoleh nilai tambah lebih besar di dalam negeri. Langkah tersebut juga berpotensi menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir.
Sidoarjo menjadi salah satu contoh pengembangan tersebut.
Kabupaten ini merupakan salah satu sentra budidaya dan pengolahan rumput laut Gracilaria berbasis tambak di Jawa Timur. Di sejumlah tambak pesisir yang terdampak perubahan lingkungan setelah semburan lumpur Lapindo pada 2006, rumput laut Gracilaria kini dibudidayakan bersama ikan bandeng.
Praktik tersebut membuat tambak yang sebelumnya kurang termanfaatkan kembali produktif sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Meski demikian, pengembangan ekonomi biru Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Produktivitas yang rendah, keterbatasan infrastruktur dan teknologi, kesenjangan keterampilan, serta akses terhadap pasar dan pembiayaan masih menjadi kendala bagi pengembangan sektor tersebut.
Proyek percontohan di Sidoarjo menunjukkan salah satu pendekatan untuk mengatasi tantangan tersebut melalui penguatan rantai nilai. Pendekatan ini mencakup berbagai tahapan, mulai dari budidaya dan panen hingga pengolahan, penjualan, dan pemasaran.
Upaya tersebut antara lain dilakukan melalui rehabilitasi tambak, perbaikan pengelolaan air, penguatan fasilitas pascapanen, penyediaan peralatan bersama, pengelolaan koperasi, serta peningkatan keterampilan pembudidaya.
Di lokasi budidaya Tlocor, delegasi melihat proses panen rumput laut, tambak yang telah direhabilitasi, serta praktik pengeringan di tingkat pembudidaya.
Sementara di Koperasi Agar Makmur Sentosa, delegasi melihat fasilitas bersama untuk pengeringan, pembersihan, dan pengepresan rumput laut. Fasilitas tersebut ditujukan untuk memperbaiki penanganan pascapanen sekaligus memperkuat rantai nilai setelah tahap produksi.
Bidik Posisi di Pasar Global
Kepala Perwakilan UNDP Indonesia Sara Ferrer Olivella mengatakan Indonesia memiliki modal untuk menjadi salah satu pemimpin global industri rumput laut, tidak hanya karena sumber daya kelautannya, tetapi juga karena masyarakat, pengetahuan, dan inovasi yang dimiliki.“Peluangnya adalah beralih dari pemimpin dalam volume menjadi pemimpin dalam nilai, dengan memobilisasi investasi dan inovasi untuk menciptakan produk bernilai lebih tinggi, pekerjaan yang lebih baik, dan pendapatan yang lebih tinggi, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam ekonomi biru global,” ujar Sara, dalam siaran pers UNDP Indonesia yang diterima Metrotvnews.com, Sabtu, 19 September 2026.
Menurut dia, pengembangan di Sidoarjo menunjukkan salah satu contoh praktis bagaimana potensi tersebut dapat diwujudkan.
UNDP bersama Pemerintah Indonesia dan mitra lainnya juga mendukung pengembangan ekonomi biru melalui usulan Indonesia Seaweed Investment Partnership (ISIP).
Kemitraan tersebut ditujukan untuk memperkuat koordinasi, memobilisasi investasi, mendorong inovasi, serta mempercepat pertumbuhan berkelanjutan di sektor rumput laut.
Wakil Menteri Luar Negeri RI Arif Havas Oegroseno mengatakan pengembangan ekonomi biru perlu mempertimbangkan keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan perlindungan ekosistem laut.
“Bagi Indonesia, laut bukan hanya sumber peluang ekonomi, tetapi juga bagian penting dari identitas, ketahanan pangan, dan mata pencaharian jutaan orang,” ujar Wamenlu Havas.
Karena itu, lanjut dia, ekonomi biru Indonesia harus menemukan keseimbangan antara pembangunan dan perlindungan ekosistem laut yang menjadi tumpuan masyarakat.
Ia menilai Sidoarjo menunjukkan bagaimana inovasi praktis dan kemitraan dapat menerjemahkan ambisi ekonomi biru menjadi tindakan nyata. Pengalaman tersebut juga berpotensi dibagikan kepada negara-negara kepulauan dan pulau lainnya melalui AIS Forum.
Kunjungan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana pengembangan rumput laut di tingkat daerah dapat dikaitkan dengan agenda ekonomi biru yang lebih luas.
Bagi Indonesia, penguatan rantai nilai di sektor ini tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan produksi, tetapi juga menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, investasi, dan pendapatan yang lebih besar bagi masyarakat pesisir.

Baca juga: Rantai Pasok Rumput Laut Indonesia Mulai Diperkuat dengan Sistem Tertelusur