Eskalasi Konflik Yaman Picu Gelombang Pengungsian Hampir 147.000 Orang

Hampir 147.000 warga Yaman mengungsi pada 1-18 September 2026. (Anadolu Agency)

Eskalasi Konflik Yaman Picu Gelombang Pengungsian Hampir 147.000 Orang

Willy Haryono • 20 September 2026 18:52

Aden: Hampir 147.000 orang mengungsi di Yaman sepanjang September 2026 akibat memburuknya kondisi keamanan di tengah eskalasi militer yang berlangsung di sejumlah wilayah negara tersebut.

Unit Eksekutif Pengelolaan Kamp Pengungsi Yaman mencatat 21.583 keluarga atau 146.943 orang mengungsi pada periode 1-18 September akibat memburuknya kondisi keamanan.

Melansir dari Anadolu Agency, Minggu, 20 September 2026, perpindahan penduduk tersebut tercatat terjadi di delapan provinsi, yakni Taiz dan Lahj di barat daya; Aden, Abyan, dan Shabwa di selatan; Al-Hudaydah di barat; serta Hadhramout dan Al Mahrah di timur.

Menurut laporan tersebut, Taiz menerima jumlah pengungsi terbesar, yakni 11.534 keluarga yang terdiri atas 80.792 orang dan tersebar di 15 distrik.

Lahj berada di urutan kedua dengan 5.472 keluarga atau 38.304 orang yang tersebar di sembilan distrik.

Lembaga pemerintah tersebut juga mencatat kedatangan 1.622 keluarga yang terdiri atas 7.162 orang di Aden. Sebagian besar dari mereka ditampung oleh keluarga setempat di sejumlah distrik.

Sementara itu, sebanyak 1.471 keluarga atau 10.297 orang mengungsi ke distrik Hays dan Al Khawkhah di Al-Hudaydah. Sebanyak 1.278 keluarga lainnya atau 8.946 orang tiba di Abyan.

Laporan tersebut juga mencatat 110 keluarga mengungsi ke Hadhramout, 70 keluarga ke Al Mahrah, dan 26 keluarga ke Shabwa.

Unit tersebut menyerukan kepada organisasi internasional dan lokal untuk memberikan “bantuan mendesak dan penyelamatan jiwa” kepada para pengungsi. Lembaga itu memperingatkan keterlambatan bantuan dapat “memperburuk krisis dan meningkatkan tekanan terhadap masyarakat yang menampung pengungsi."

Eskalasi Konflik Yaman

Meningkatnya jumlah pengungsi terjadi di tengah eskalasi militer di sepanjang pesisir barat Yaman dan sejumlah wilayah Provinsi Taiz. Menurut laporan tersebut, kelompok Houthi telah maju dan mengambil alih posisi yang sebelumnya dikuasai pasukan pemerintah.

Pertempuran kembali terjadi di sejumlah front di Taiz, Marib, dan Al Jawf di utara, serta Al Bayda di Yaman bagian tengah. Eskalasi militer tersebut dimulai pada awal Juli dan disebut sebagai yang terburuk sejak gencatan senjata yang dimediasi PBB pada April 2022.

Pertempuran meningkat pada September. Houthi disebut mengambil alih sejumlah posisi strategis di Provinsi Al-Hudaydah dan Taiz, termasuk kota strategis Mokha, hingga meluas ke Pulau Mayun di Selat Bab al-Mandab.

Yaman telah dilanda perang sejak Houthi merebut ibu kota Sanaa dan sejumlah provinsi pada September 2014. Koalisi yang dipimpin Arab Saudi kemudian melakukan intervensi pada Maret 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

Baca juga: Sekjen PBB dan GCC Kecam Serangan Houthi terhadap Wilayah Arab Saudi

(Willy Haryono)