Prabowo Beberkan Investasi hingga MBG Buka Lapangan Kerja bagi Masyarakat

Presiden Prabowo Subianto. Foto: dok Metro TV.

Prabowo Beberkan Investasi hingga MBG Buka Lapangan Kerja bagi Masyarakat

Eko Nordiansyah • 17 September 2026 17:40

Jakarta: Presiden Prabowo Subianto mengatakan, pemerintah mendorong pembukaan lapangan kerja baru melalui investasi. Pada 2025, realisasi investasi Rp1.931 triliun telah menghasilkan sebanyak 2,7 juta lapangan kerja baru.

"Ini 2,7 juta lapangan kerja baru 2025. Nah, sekarang, ini ilmu makroekonomi. Bahwa satu persen pertumbuhan itu menghasilkan 400 ribu lapangan kerja," kata Presiden Prabowo saat berdialog dengan sejumlah jurnalis senior, pimpinan media nasional, dan pakar di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Presiden menegaskan, investasi menjadi salah satu motor pendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus lapangan kerja. Hingga Juni 2026, Indonesia telah mencatat realisasi investasi Rp1.010 triliun serta membuka 1,4 juta lapangan kerja baru.

"Kita hitung, 2,7 juta dibagi 500 ribu, itu sudah lima persen (pertumbuhan ekonomi). 1,4 juta dibagi 400 ribu, itu sudah tiga persen (pertumbuhan ekonomi). Itu saja ya dari investasi," jelas dia.


(Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com)

Lapangan kerja dari program MBG

Sementara dari belanja pemerintah, Prabowo menyebut, program makan bergizi gratis (MBG) telah membuka ribuan lapangan kerja. Menurutnya, pemerintah masih menargetkan pembukaan dapur MBG mencapai 30 ribu sehingga penyerapan tenaga kerja lebih besar.

"MBG kalau nanti sampai ke puncaknya 30 ribu dapur, satu dapur employ gaji 50 orang. Nah, 30 ribu kali 50, 1,5 juta. Belum supplier. Tiap dapur berada di desa, dia spend rata-rata up to Rp6 juta sehari," ujar dia.

Di luar pekerja yang ada di dapur MGB, belanja pemerintah itu juga mengalir ke supplier mulai petani hingga peternak, sehingga cakupan tenaga kerja yang diserap bisa lebih banyak.

"Itu, mereka laporan rata-rata lima sampai 10 supplier. Masing-masing supplier ada 2-3 pekerja, 30 orang lagi kerja. So, that is, satu setengah persen itu kan tiga persen lagi itu. Kan demikian ya? Nah, ini yang tidak dihitung," ungkapnya.

(Eko Nordiansyah)