Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani. Foto: Dok. Tangkapan layar.
BMKG: Belum Ada Indikasi Tsunami Imbas Erupsi Anak Krakatau
Fachri Audhia Hafiez • 6 September 2026 10:46
Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan hingga saat ini belum terdeteksi adanya anomali muka air laut maupun potensi tsunami di Selat Sunda. Hal ini merespons meningkatnya aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
"Hingga pukul 07.00 WIB pagi ini belum menunjukkan adanya anomali muka air laut. Artinya potensi terjadi tsunami belum dapat kita pantau atau belum terpantau sampai dengan saat ini melalui 20 tsunami gauge yang dimiliki BMKG di sekitar Selat Sunda," kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam tayangan Breaking News Metro TV, Minggu, 6 September 2026.
Faisal menjelaskan, pemantauan melalui High Frequency Radar di kawasan Carita dan Tanjung Lesung juga memperlihatkan bahwa probabilitas terjadinya tsunami masih tergolong rendah. Namun, BMKG terus meningkatkan kesiapsiagaan dan pemantauan secara intensif.
"Untuk High Frequency Radar yang kita miliki, ini sudah di-set dalam kondisi tsunami mode, ya. Jadi ketika ada potensi tsunami, kita langsung dapat memantau sejak dari jarak kurang lebih 150 km dari tepi pantai," ujar Faisal.
Guna memastikan analisis data yang akurat, BMKG mengoptimalkan pemantauan terpadu berbasis multi-instrumen. Pengawasan dilakukan secara menyeluruh memanfaatkan satelit, tsunami gauge, High Frequency Radar, sensor geomagnetik di wilayah Selat Sunda, hingga pemantauan petir vulkanik.
"Seluruh data dianalisis secara terpadu untuk mendukung pengambilan keputusan yang cepat dan akurat," ujar Teuku.
.jpg)
Gunung Anak Krakatau erupsi dengan menyemburkan abu vulkanik yang diduga sampai ke Kota Bandarlampung. ANTARA/HO-Tangkapan layar.
BMKG mengimbau masyarakat di wilayah pesisir Selat Sunda, meliputi DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu, agar tetap tenang namun selalu siaga.
"Tetap waspada namun tidak panik. Masyarakat kami minta untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi dan selalu mengikuti pembaruan dari BMKG, PVMBG atau Badan Geologi, BNPB, serta instansi yang berwenang," ucap Teuku.