Aktivitas Sinabung Meningkat, Warga Sejumlah Desa Diarahkan ke Zona Aman

Anggota polisi membagikan masker kepada pengendara saat erupsi Gunung Sinabung di Desa Kutarayat, Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo, Sumatra Utara. ANTARA FOTO/Yudi Manar/nz

Aktivitas Sinabung Meningkat, Warga Sejumlah Desa Diarahkan ke Zona Aman

Silvana Febiari • 5 September 2026 08:31

Karo: Aktivitas vulkanik Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, meningkat sejak erupsi pada Senin, 31 Agustus 2026. Pemerintah daerah mengarahkan warga di kawasan terdampak abu vulkanik ke lokasi yang lebih aman.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton SP Panjaitan mengatakan erupsi tersebut menghasilkan kolom erupsi setinggi sekitar 3.500 meter di atas puncak atau 5.960 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kondisi itu membuat tingkat aktivitas Gunung Sinabung dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).

"Dampak aktivitas vulkanik saat ini dirasakan di sejumlah wilayah, khususnya Desa Ndokum Siroga dan Desa Kuta Tengah di Kecamatan Simpang Empat serta Desa Payung di Kecamatan Payung. Warga Desa Kuta Tengah untuk sementara telah diarahkan mengungsi ke Desa Sukatepu, Kecamatan Naman Teran," kata Berton dalam keterangan tertulis, Sabtu, 5 September 2026. 


Sekitar 208 kepala keluarga atau 650 jiwa masuk dalam pendataan sebagai pengungsi hingga Jumat, 4 September 2026. Sementara sekitar 405 jiwa masih berada di Posko Pengungsian Jambur Arih Ersada, Desa Sukatepu.

"Pemerintah daerah terus melakukan pemutakhiran data untuk memastikan kebutuhan masyarakat terdampak dapat terpenuhi secara tepat," ungkap Berton. 

Abu vulkanik juga berdampak terhadap lahan pertanian masyarakat. Luasan dan tingkat kerusakan lahan masih dalam proses pendataan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karo mengimbau masyarakat keluar dari zona bahaya dan berpindah ke wilayah yang lebih aman. BPBD juga mendistribusikan masker kepada masyarakat yang terdampak debu vulkanik.

"Koordinasi bersama unsur TNI dan Polri terus dilakukan, salah satunya melalui Pos Pengamatan Gunung Api Sinabung di Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat," ujar Berton. 

Patroli juga dilakukan di sejumlah lokasi yang telah ditetapkan sebagai kawasan terlarang untuk aktivitas maupun kunjungan, termasuk kawasan Danau Lau Kawar. Dari hasil patroli, kawasan tersebut dipastikan tidak terdapat pengunjung.

Penanganan dampak abu vulkanik juga dilakukan melalui penyiraman pada wilayah dengan aktivitas penduduk dan lalu lintas yang cukup padat, termasuk kawasan pusat Kota Berastagi. Pemerintah daerah telah mengaktifkan dapur umum untuk menyediakan kebutuhan konsumsi masyarakat sebanyak tiga kali sehari, serta memenuhi kebutuhan air bersih dan sanitasi di lokasi pengungsian.

"Desa Payung, Kecamatan Payung, untuk sementara ditetapkan dalam kondisi siaga," imbuhnya. 


Gunung Sinabung mengeluarkan asap kawah berwarna putih hingga kelabu. (Dokumentasi/ Magma Indonesia)


Pemerintah daerah menyiapkan langkah evakuasi jika aktivitas Gunung Sinabung kembali meningkat. Warga akan dipindahkan ke lokasi yang lebih aman apabila kondisi mengharuskannya.

Aktivitas pendidikan masyarakat juga disesuaikan dengan kondisi di lapangan. SD Negeri 040475 Tiga Serangkai untuk sementara melaksanakan kegiatan belajar mengajar di posko pengungsian. Sementara pelajar tingkat SMP yang bersekolah di luar desa untuk sementara mendapat layanan antar-jemput oleh Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Karo.

Berdasarkan pengamatan pada 4 September 2026 pukul 12.00-18.00 WIB, asap kawah utama Gunung Sinabung teramati berwarna putih tebal dengan ketinggian 300-500 meter di atas puncak. Pada periode tersebut, tidak tercatat adanya kegempaan.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah mengeluarkan rekomendasi bagi masyarakat dan wisatawan agar tidak melakukan aktivitas di desa-desa yang telah direlokasi. Mereka juga diminta tidak memasuki kawasan dalam radius 3 kilometer dari puncak Gunung Sinabung dan radius sektoral 6 kilometer ke arah selatan-tenggara. 

"Masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di sekitar alur sungai yang berhulu di Gunung Sinabung juga diminta tetap waspada terhadap potensi bahaya lahar," papar Berton. 

BNPB mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak panik, tetapi terus meningkatkan kewaspadaan serta mengikuti arahan pemerintah daerah dan pihak berwenang. Evaluasi tingkat aktivitas Gunung Sinabung akan dilakukan secara berkala maupun sewaktu-waktu jika terjadi perubahan signifikan.

(Silvana Febiari)