Survei: 94 Persen Warga Kuba Hidup dalam Kemiskinan Ekstrem

Survei Cuban Observatory for Human Rights menyebut 94 persen warga Kuba hidup dalam kemiskinan ekstrem. (Anadolu Agency)

Survei: 94 Persen Warga Kuba Hidup dalam Kemiskinan Ekstrem

Willy Haryono • 8 September 2026 06:44

Havana: Sekitar 94 persen warga Kuba disebut hidup dalam kemiskinan ekstrem, sementara delapan dari 10 warga mengaku pernah melewatkan setidaknya satu kali makan karena kekurangan makanan atau uang.

Temuan tersebut berdasarkan laporan terbaru Cuban Observatory for Human Rights (OCDH), organisasi berbasis di Madrid yang menggunakan ambang batas kemiskinan ekstrem Bank Dunia sebagai salah satu acuan.

Menurut laporan tersebut, yang dikutip Anadolu Agency, Selasa, 8 September 2026, proporsi warga Kuba yang hidup dalam kemiskinan ekstrem meningkat dari 89 persen pada 2025 menjadi 94 persen pada tahun ini.

Sebanyak 68 persen responden juga melaporkan pendapatan rumah tangga bulanan di bawah 20.000 peso Kuba, atau setara sekitar US$30.

Pemadaman listrik menjadi masalah sosial paling mendesak yang diidentifikasi responden. Persoalan tersebut kemudian diikuti kekurangan pangan, biaya hidup, layanan kesehatan, tingkat upah, dan keamanan.

Kondisi tempat tinggal juga menunjukkan penurunan. Hampir separuh responden mengatakan rumah mereka membutuhkan perbaikan.

Sekitar 25 persen menyebut rumah mereka membutuhkan perbaikan mendesak, sementara 7 persen lainnya mengatakan tinggal di bangunan yang berisiko runtuh.

Layanan Publik Memburuk

Laporan tersebut juga menyoroti memburuknya layanan publik di Kuba.

Responden memberikan penilaian paling negatif terhadap sistem kelistrikan, disusul layanan pengangkutan sampah, telepon dan internet, sistem pembuangan limbah, serta layanan kesehatan. Ketidakpuasan juga terlihat terhadap kebijakan pemerintah dalam menangani krisis ekonomi.

Sebanyak 95 persen responden menilai kinerja pemerintah secara negatif atau sangat negatif. Sementara 84 persen mengaku tidak percaya terhadap langkah-langkah ekonomi yang diterapkan pemerintah untuk mengatasi krisis.

Meski demikian, sekitar separuh responden masih berharap terjadi perubahan positif dan signifikan bagi masyarakat Kuba dalam enam bulan ke depan.

Sebanyak 76 persen menginginkan perubahan di masa depan mencakup reformasi politik dan ekonomi. Sementara 9 persen lainnya hanya menginginkan perubahan ekonomi.

Direktur Strategi OCDH Yaxys Cires mengatakan temuan tersebut menunjukkan “semakin meningkatnya kemiskinan keluarga Kuba." Survei dilakukan pada 27 Juni hingga 29 Juli 2026 di seluruh 15 provinsi dan 79 munisipalitas di Kuba.

Survei menggunakan wawancara tatap muka dengan bantuan perangkat seluler. Sampel penelitian dikelompokkan berdasarkan tempat tinggal, jenis kelamin, usia, dan kelompok ras, menurut OCDH.

Angka-angka dalam laporan tersebut merupakan hasil survei OCDH dan bukan data resmi pemerintah Kuba.

Baca juga: Presiden Kuba Diaz-Canel Tuduh AS Berupaya Mencekik Ekonomi Kuba

(Willy Haryono)