Korban Jiwa Protes Iran Dilaporkan Tembus 7.000 Orang

96 Seorang pria melewati toko jaringan supermarket nasional yang hangus terbakar di Teheran pada Januari 2026. (Amin Khodadadi/NBC News)

Korban Jiwa Protes Iran Dilaporkan Tembus 7.000 Orang

Riza Aslam Khaeron • 12 February 2026 17:43

Teheran: Jumlah korban tewas akibat penindasan terhadap gelombang protes nasional di Iran pada Januari 2026 telah mencapai setidaknya 7.002 orang, menurut data yang dirilis oleh Human Rights Activists News Agency (HRANA) pada Kamis, 12 Februari 2026.

Angka ini kemungkinan masih akan bertambah karena banyak korban yang belum teridentifikasi di tengah sulitnya komunikasi dengan pihak dalam negeri Iran.

Lembaga berbasis di Amerika Serikat tersebut dikenal memiliki rekam jejak akurat dalam mencatat jumlah korban jiwa dalam berbagai putaran demonstrasi di Iran, dan mereka mengandalkan jaringan aktivis di dalam negeri untuk melakukan verifikasi. 

Pemerintah Iran sendiri terakhir merilis angka resmi pada 21 Januari 2026, menyatakan sebanyak 3.117 orang telah tewas. Namun, seperti dalam kasus-kasus sebelumnya, angka pemerintah kerap dianggap meremehkan atau menutupi jumlah korban sebenarnya.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengakui adanya penumpasan brutal yang dimulai secara intensif sejak 8 Januari 2026. "Penindasan ini telah menyebabkan kesedihan yang mendalam," ujar Pezeshkian dalam pernyataan publiknya satu bulan setelah insiden terjadi.

Pernyataan itu menjadi satu-satunya bentuk pengakuan dari otoritas tertinggi negara atas tragedi yang menimpa ribuan warganya.

Situasi dalam negeri Iran kian tegang, terutama menjelang peringatan 40 hari wafatnya para korban yang menjadi tradisi penting dalam budaya setempat. Kecaman dari publik domestik semakin menguat, menyusul kesulitan dalam mengakses komunikasi dan informasi dari luar negeri akibat gangguan internet dan pembatasan telekomunikasi oleh pemerintah.

Sementara itu, di ranah internasional, Iran tengah menghadapi tekanan besar dalam proses negosiasi nuklir dengan Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa dirinya telah bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan membahas intensifikasi tuntutan terhadap Iran.
 

Baca Juga:
Pentagon Siapkan Pengerahan Kapal Induk Kedua ke Timur Tengah

"Saya menekankan bahwa negosiasi harus dilanjutkan untuk melihat apakah sebuah kesepakatan dapat dicapai," tulis Trump di laman TruthSocial. 

"Terakhir kali Iran menolak membuat kesepakatan, mereka dihantam... Itu tidak berjalan baik bagi mereka. Semoga kali ini mereka lebih rasional dan bertanggung jawab."

Dalam perkembangan terkait, pejabat keamanan tertinggi Iran Ali Larijani melakukan perjalanan diplomatik ke Qatar dan Oman pada 10 Februari 2026, di mana ia bertemu dengan Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani serta pejabat Houthi dari Yaman dan perwakilan Hamas.

Qatar selama ini dikenal sebagai mediator penting antara Iran dan AS, dengan latar belakang kepentingan bersama di ladang gas alam lepas pantai Teluk Persia.

Di sisi lain, perhatian dunia juga tertuju pada kondisi Narges Mohammadi, peraih Nobel Perdamaian 2023, yang baru saja dijatuhi hukuman tambahan lebih dari tujuh tahun penjara. Komite Nobel Norwegia menyatakan bahwa mereka "sangat terkejut atas laporan kredibel mengenai penangkapan brutal, penganiayaan fisik, dan perlakuan tidak manusiawi" yang dialami Mohammadi.

Dalam pernyataan tertulis, komite menyebut, "Ia telah pingsan beberapa kali, menderita tekanan darah tinggi yang berbahaya, serta tidak mendapatkan akses medis yang diperlukan untuk dugaan tumor payudara."

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Arga Sumantri)