Prabowo Bahas Pengalaman Hadapi Krisis Ekonomi dengan Mantan Gubernur BI hingga Eks Menteri Bappenas

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Foto: Metrotvnews/Kautsar Widya Prabowo

Prabowo Bahas Pengalaman Hadapi Krisis Ekonomi dengan Mantan Gubernur BI hingga Eks Menteri Bappenas

Kautsar Widya Prabowo • 22 May 2026 18:09

Jakarta: Presiden Prabowo Subianto mengundang sejumlah tokoh ekonomi senior ke Istana Negara, Jakarta. Pertemuan itu salah satunya membahas pengalaman menghadapi krisis ekonomi global 2008 sebagai bahan antisipasi menghadapi tantangan ekonomi ke depan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, Presiden ingin mendengar langsung pengalaman para tokoh saat menghadapi tekanan ekonomi global di masa lalu. Adapun dalam pertemuan itu hadir sejumlah mantan pejabat ekonomi era 2004–2014, di antaranya mantan Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah, mantan Menteri Bappenas Paskah Suzetta, serta Lukita Dinarsyah Tuwo.

"Dalam pertemuan tadi disampaikan beberapa hal yang menjadi pengalaman mereka saat menghadapi krisis di tahun 2008. Kebetulan mereka rata-rata di periodenya antara 2004 sampai 2014," ujar Airlangga usai pertemuan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat, 22 Mei 2026.
 


Menurut Airlangga, para tokoh ekonomi itu mengingatkan bahwa Indonesia pernah menghadapi tekanan berat, mulai dari lonjakan inflasi hingga gejolak nilai tukar akibat krisis minyak dunia. Saat itu, harga minyak mentah sempat melonjak hingga 140 dolar AS per barel dan memicu penyesuaian harga domestik.

“Di masa lalu inflasi kita pernah sekitar 17 persen, bahkan sempat naik hingga 27 persen saat terjadi penyesuaian harga akibat krisis minyak,” katanya.


Presiden Prabowo Subianto. Foto: BPMI Setpres.

Namun, Airlangga menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini relatif lebih kuat dibanding periode krisis sebelumnya. Fundamental ekonomi dinilai tetap terjaga dengan tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang masih terkendali.

“Kalau kita cek dengan konteks hari ini, relatif situasi makro kita lebih baik, fundamental lebih kuat, dan depresiasi rupiah itu sekitar 5 persen, jadi jauh lebih rendah dari berbagai kasus sebelumnya,” lanjutnya.

Dari pertemuan tersebut, pemerintah mengaku mengambil pelajaran penting untuk memperkuat kesiapan menghadapi potensi gejolak global di masa mendatang. Presiden juga meminta jajaran ekonomi kabinet terus memantau regulasi sektor keuangan dan menjaga stabilitas perbankan nasional.

“Kita memang jumlah perbankan banyak, dan mungkin kita perlu kaji bagaimana permodalannya untuk diperkuat,” terang Airlangga.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Gabriella Thesa Widiari)