Ilustrasi Awan Cumulonimbus. (Pexels)
Awan Cumulonimbus Intai Sejumlah Wilayah hingga 14 Agustus, Ini Daftarnya
Silvana Febiari • 7 August 2026 19:52
Jakarta: Potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) diprakirakan terjadi di sejumlah wilayah Indonesia pada periode 8-14 Agustus 2026. Awan Cumulonimbus berpotensi memengaruhi kondisi cuaca karena dapat memicu hujan lebat, angin kencang, hingga gangguan aktivitas penerbangan.
Berdasarkan prakiraan cuaca penerbangan berbasis model cuaca numerik, pertumbuhan awan Cumulonimbus dengan kategori Frequent (FRQ) atau cakupan spasial lebih dari 75 persen diprediksi terjadi di wilayah Samudra Hindia barat Bengkulu.
Sementara kategori Occasional (OCNL) dengan cakupan awan Cumulonimbus antara 50 hingga 75 persen berpotensi muncul di sejumlah wilayah, antara lain:
- Aceh
- Bengkulu
- Kalimantan Barat
- Kalimantan Timur
- Kalimantan Utara
- Kepulauan Riau
- Laut Natuna Utara
- Laut Sulawesi bagian barat
- Papua
- Papua Barat
- Papua Pegunungan
- Papua Selatan
- Papua Tengah
- Riau
- Samudra Hindia barat Aceh
- Samudra Hindia barat Bengkulu
- Samudra Hindia barat Kep. Mentawai
- Samudra Hindia barat Kep. Nias
- Samudra Pasifik utara Papua
- Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya
- Selat Makassar bagian tengah
- Selat Makassar bagian utara
- Selat Malaka bagian utara
- Sumatra Barat
- Sumatra Utara

Peta potensi pertumbuhan awan cumulonimbus (Cb) di Indonesia. (Dokumentasi/ Tangkapan layar BMKG)
Potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus merupakan informasi prakiraan cuaca penerbangan. Informasi ini digunakan untuk memantau sebaran awan konvektif di wilayah Indonesia selama tujuh hari ke depan.
Terdapat tiga kategori persentase cakupan spasial maksimum yang divisualisasikan/ditampilkan sebagai warna biru muda, ungu dan hijau. Rinciannya sebagai berikut:
- ISOL CB (Isolated CB): terdapat awan Cumulonimbus dengan cakupan area kurang dari 50%
- OCNL CB (Occasional CB): terdapat awan Cumulonimbus dengan cakupan area berkisar 50–75 %
- FRQ CB (Frequent CB): terdapat awan Cumulonimbus dengan cakupan area lebih dari 75%