Industri Baja Dinilai Fondasi Hilirisasi Nasional

Direktur Infrastruktur dan Operasi PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Sidik Darusulistyo, saat menjadi narasumber pada Grand Seminar & Business Matching: Mining Nation Revolution. Dok. Istimewa

Industri Baja Dinilai Fondasi Hilirisasi Nasional

Achmad Zulfikar Fazli • 7 August 2026 13:36

Jakarta: PT Krakatau Steel (Persero) Tbk menegaskan keberhasilan program hilirisasi nasional tidak hanya ditentukan pengolahan sumber daya alam (SDA). Keberhasilan hilirisasi juga bergantung pada penguatan ekosistem industri nasional terintegrasi.
 
Sinergi industri baja, sektor pertambangan, pemerintah, investor, dan pengusaha nasional menjadi fondasi penting untuk menciptakan nilai tambah, memperkuat ketahanan industri, serta mendukung target pertumbuhan ekonomi Indonesia.
 
Hal itu disampaikan Direktur Infrastruktur dan Operasi PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Sidik Darusulistyo, saat menjadi narasumber pada Grand Seminar & Business Matching: Mining Nation Revolution yang diselenggarakan oleh BPC HIPMI Jakarta Selatan di Jakarta, Kamis, 6 Agustus 2026.
 
Sidik menegaskan industri baja merupakan mother of industries yang menopang hampir seluruh sektor industri. Selain menjadi fondasi pembangunan, industri baja memiliki dampak ekonomi yang besar melalui penciptaan lapangan kerja, penguatan rantai pasok, dan pertumbuhan industri turunannya, sehingga menjadi salah satu sektor penting dalam mendukung agenda hilirisasi dan industrialisasi nasional.
 
"Industri baja bukan sekadar menghasilkan produk, tetapi menjadi fondasi pembangunan nasional. Ketika industri baja tumbuh kuat dan berdaya saing, maka berbagai sektor strategis nasional akan ikut berkembang. Karena itu, penguatan industri baja merupakan investasi jangka panjang bagi ketahanan ekonomi Indonesia," ujar Sidik dalam keterangannya, dikutip Jumat, 7 Agustus 2026.
 
Krakatau Steel terus menjalankan berbagai inisiatif strategis, mulai dari pengembangan pasar domestik, kemitraan strategis, investasi pada fasilitas hilir, pengembangan produk baja bernilai tambah, hingga pengembangan Kawasan Industri Krakatau III sebagai kawasan industri terintegrasi yang didukung infrastruktur logistik, energi, air industri, teknologi informasi, serta konektivitas pelabuhan, jalan tol, dan jalur kereta api.
 
Perseroan juga mengembangkan proyek Carbon Steel berkapasitas 1,5 juta ton per tahun dan Stainless Steel berkapasitas 1,2 juta ton per tahun bersama mitra strategis sebagai bentuk dukungan terhadap program hilirisasi bijih besi dan nikel.
 
“Hilirisasi akan memberikan manfaat yang lebih besar apabila diikuti dengan tumbuhnya industri-industri baru yang mampu menciptakan nilai tambah, memperkuat daya saing nasional, serta memperluas kesempatan kerja,” jelas Sidik.

Ilustrasi, gulungan baja. Foto- dok Krakatau Posco

Baca Juga :

Krakatau Steel Dorong Peralihan Distribusi Logistik ke Jalur Laut

Di samping itu, Sidik menilai pengusaha muda memiliki peluang besar menjadi bagian dari transformasi industri nasional di antaranya mengembangkan produk baja hilir bernilai tambah, menghadirkan inovasi teknologi green steel, digitalisasi rantai pasok, pengembangan specialty steel, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia manufaktur.

Kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah, dan industri diyakini kunci membangun ekosistem industri yang semakin tangguh dan berdaya saing.
 
"Masa depan industri baja Indonesia tidak hanya ditempa di dalam tanur peleburan baja, tetapi juga di dalam pikiran-pikiran inovatif para pengusaha mudanya," ujar Sidik.

(Achmad Zulfikar Fazli)