Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Foto: Anadolu
Benjamin Netanyahu Semakin Tidak Diterima Warga, Dituntut Segera Mundur
Fajar Nugraha • 23 June 2026 11:35
Tel Aviv: Sejumlah kota di Israel dilanda aksi demonstrasi massal yang menuntut pengunduran diri pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada Sabtu, 20 Juni.
Di tengah gelombang protes tersebut, aparat kepolisian di Yerusalem mengambil tindakan tegas dengan menyita peralatan pengeras suara yang digunakan oleh para demonstran.
Surat kabar berbahasa Ibrani, Haaretz, melaporkan bahwa ratusan warga Israel turun ke jalan di berbagai titik di penjuru negeri untuk memprotes kebijakan pemerintah. Sementara itu, sekitar 1.000 demonstran berkumpul memadati titik unjuk rasa utama yang berpusat di Lapangan Habima, Tel Aviv tengah.
Harian tersebut menambahkan bahwa Kepolisian Israel di Yerusalem terus melanjutkan langkah koersif yang telah mereka mulai sejak pekan lalu. Petugas menyita untuk sementara waktu peralatan pengeras suara milik pengunjuk rasa di Lapangan Paris yang berada di dekat kediaman resmi Netanyahu, dengan dalih untuk mencegah gangguan kebisingan.
Dalam aksi demonstrasi utama di Tel Aviv, Carmit Palty Katzir melayangkan kritik tajam terhadap garis kebijakan yang diambil oleh kabinet pemerintahan saat ini. Katzir merupakan putri dari seorang korban tewas dalam peristiwa 7 Oktober 2023, di mana ibu dan saudara laki-lakinya juga sempat ditawan di Jalur Gaza sebelum akhirnya berhasil dibebaskan.
Ia membeberkan data bahwa lebih dari 1.000 warga Israel telah tewas sejak tanggal tersebut, sementara puluhan ribu warga lainnya mengalami luka secara fisik maupun trauma psikologis yang mendalam.
Katzir menuduh Netanyahu sengaja memperpanjang durasi perang tanpa menyusun visi politik yang jelas. Berdasarkan laporan Haaretz, ia menilai prioritas utama dari sang perdana menteri saat ini murni demi menyelamatkan posisi kekuasaan politik pribadinya.
"Kelangsungan hidup politik," ujar Katzir menuding motif utama di balik kebijakan Netanyahu, seperti dikutip Anadolu, pada Selasa, 23 Juni 2026.
Sementara itu, mantan Wakil Kepala Dewan Keamanan Nasional Israel, Eran Etzion, turut memberikan peringatan keras saat berorasi dalam demonstrasi di kota Haifa bagian utara.
Ia meminta masyarakat waspada terhadap narasi tuntutan persatuan nasional yang kerap digaungkan menjelang pemilu, karena menurutnya seruan tersebut sengaja digunakan untuk menidurkan opini publik sekaligus mengaburkan jurang perbedaan politik yang ada.
Gelombang demonstrasi serupa dengan skala masif dilaporkan juga terjadi di sejumlah kota dan persimpangan jalur transportasi di wilayah utara Israel, termasuk di Karkur, Afula, Rosh Pina, dan Nahariya, di samping aksi protes yang tak kalah besar di kota Beersheba bagian selatan.
Rangkaian aksi unjuk rasa ini merebak di tengah memanasnya perdebatan domestik mengenai efektivitas kebijakan pemerintahan Netanyahu, serta eskalasi perkembangan situasi militer dan keamanan yang tengah bergejolak di kawasan Timur Tengah.
Kondisi politik dalam negeri Israel kian tertekan setelah penandatanganan Nota Kesepahaman Islamabad oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang resmi membuka jalan bagi jalannya perundingan langsung kedua negara di Swiss.
Otoritas Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan untuk menggelar dialog bilateral di Swiss pada hari Jumat demi memulai periode negosiasi intensif yang ditargetkan berlangsung selama 60 hari ke depan.
Setelah berhasil mengamankan kesepakatan gencatan senjata pada 8 April lalu, Pakistan tercatat sukses memfasilitasi jalannya pembicaraan langsung tingkat tertinggi antara kedua negara pada 12 hingga 13 April, yang menjadi pertemuan perdana dalam skala tersebut sejak AS-Iran memutuskan hubungan diplomatik pada tahun 1979 silam.
(Kelvin Yurcel)