Pakar militer dan intelijen Stanislaus Riyanta (kedua dari kiri) dalam Seminar Intelijen yang digelar SPPB UI di Jakarta. (ANTARA/HO-dok pribadi)
Pakar Dorong Penguatan Kontra Intelijen Nasional
Siti Yona Hukmana • 16 April 2026 23:22
Jakarta: Pakar yang juga Dosen Program Studi Kajian Ketahanan Nasional (PKN) Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) Universitas Indonesia (UI) Stanislaus Riyanta, mendorong penguatan kontra intelijen nasional. Hal ini, guna menghadapi potensi ancaman asing.
“Membangun suatu badan kontra intelijen sangat penting untuk mencegah ancaman-ancaman,” kata Stanislaus dalam keterangannya di Jakarta, dilansir Antara, Kamis, 16 April 2026.
Menurut dia, Indonesia tidak dapat menghilangkan faktor daya tarik. Sehingga, langkah yang paling realistis adalah memperkuat sistem pengamanan, termasuk melalui penguatan fungsi kontra intelijen.
Stanislaus menilai saat ini fungsi kontra intelijen di Indonesia masih tersebar di sejumlah lembaga, seperti di Badan Intelijen Negara (BIN), dan Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI. Namun, belum terintegrasi dalam suatu badan khusus.
“Di BIN ada Deputi Kontra Intelijen, di BAIS juga ada. Tinggal dikuatkan lagi perannya supaya mampu mencegah ancaman,” ujar pakar militer dan intelijen dari UI itu.

Pengamat intelijen dan terorisme Stanislaus Riyanta. MI/M Irfan.
Ia menambahkan, penguatan kontra intelijen menjadi penting di tengah dinamika global dan meningkatnya aktivitas intelijen asing, yang menurutnya terdeteksi di sejumlah wilayah, termasuk kawasan strategis seperti Bali. Selain itu, ia menekankan pentingnya peningkatan kapasitas deteksi dan pencegahan dini sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan nasional dari ancaman non-konvensional.
“Yang paling penting adalah kita meningkatkan sistem keamanan,” kata Stanislaus.
Stanislaus berharap pemerintah dapat mempertimbangkan pembentukan atau penguatan kelembagaan kontra intelijen secara lebih komprehensif, sebagai bagian dari strategi menjaga kedaulatan dan melindungi kepentingan nasional.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com