4 Teknologi Pascagempa Flores, Rumah Tahan Gempa hingga Starlink

Rumah modular tahan gempa buatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Dusun Rangko, Desa Tanjung Boleng, Kabupaten Manggarai Barat. Metro TV

4 Teknologi Pascagempa Flores, Rumah Tahan Gempa hingga Starlink

Riza Aslam Khaeron • 25 August 2026 17:54

Jakarta: Gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026 menimbulkan kerusakan signifikan di sejumlah wilayah. Pusat gempa terdeteksi berada di laut sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo pada kedalaman 15 kilometer, yang bersumber dari aktivitas Flores Back-Arc Thrust.

Dampak bencana ini berlanjut setelah guncangan utama mereda. Data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 25 Agustus 2026 mencatat 103 orang meninggal dunia, 1.666 orang luka-luka, dan 77.912 rumah mengalami kerusakan.

Untuk mempercepat proses pemulihan serta menekan risiko pada masa mendatang, penanganan pascagempa memanfaatkan serangkaian teknologi terapan. Perangkat teknologi ini diterapkan mulai dari pembangunan hunian aman, pemetaan pergerakan tanah, identifikasi karakteristik lapisan bumi, hingga pemulihan jaringan komunikasi darurat.

Berikut empat teknologi yang diterapkan dan dikembangkan dalam tahap pemulihan pascagempa di Flores:
 

1. Rumah Tahan Gempa


Rumah tahan gempa BRIN di NTT. (Dok. Antara)

Rumah tahan gempa menjadi salah satu solusi teknologis yang diterapkan pada tahap rehabilitasi dan rekonstruksi permukiman pascabencana.

Salah satu model yang diterapkan adalah rumah modular hasil pengoperasian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Tiga purwarupa rumah ini sebelumnya telah dibangun di Dusun Rangko, Desa Tanjung Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, pada rentang 2021–2022.

Konstruksi rumah tersebut menggunakan sistem modular yang memungkinkan seluruh komponen komponen bangunan dirancang serta dirakit secara presisi. Selain itu, BRIN menerapkan teknologi rubber bearing seismic, yaitu bantalan berbasis karet alam atau polimer elastis yang berfungsi meredam getaran gempa agar tidak merusak struktur utama.

Berdasarkan hasil pemeriksaan pascagempa Flores, tidak ditemukan adanya retak struktural pada bagian dinding, kolom, maupun fondasi ketiga unit rumah tersebut. Kerusakan yang teridentifikasi hanya bersifat kosmetik, seperti beberapa keramik dinding kamar mandi yang lepas dan pecah.

“Hasil ini membuktikan bahwa desain dan metode konstruksi yang kami terapkan mampu melindungi struktur bangunan, dan yang terpenting, melindungi keselamatan penghuninya, bahkan saat diguncang gempa sebesar ini," kata Perekayasa BRIN, Vian Marantha Haryanto dalam keterangan di Jakarta, Selasa, 18 Agustus 2026, Antara.
 

2. Teknologi InSAR

Di samping pemulihan fisik, perubahan bentuk permukaan bumi juga perlu diidentifikasi guna mendeteksi tingkat deformasi tanah akibat pergerakan sesar.

Metode yang digunakan untuk analisis ini adalah Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memanfaatkan teknologi penginderaan jauh berbasis radar ini dalam survei pascagempa Flores.

InSAR bekerja dengan cara membandingkan fase dari dua atau lebih citra Synthetic Aperture Radar (SAR) yang direkam pada garis waktu berbeda di wilayah yang sama.

Perbedaan fase tersebut digunakan untuk menghitung perubahan jarak antara permukaan bumi dan sensor satelit. Melalui analisis ini, pergeseran permukaan tanah akibat gempa dapat dipetakan hingga tingkat ketelitian skala sentimeter hingga milimeter, bergantung pada kualitas data citra dan kondisi tutupan lahan.
 

3. Mikrotremor dan MASW

Karakteristik tanah menjadi faktor penting yang harus dipetakan sebelum proses pembangunan kembali dimulai. Dua lokasi yang berdekatan dapat mengalami tingkat kerusakan yang berbeda karena respons batuan dasar dan tanah terhadap getaran tidak sama.

Dalam evaluasi teknis pascagempa di Flores, tim ahli menggabungkan metode mikrotremor dan Multichannel Analysis of Surface Waves (MASW) untuk menganalisis kondisi struktur di bawah permukaan tanah.

Metode mikrotremor merekam getaran alami beramplitudo kecil yang terus-menerus terjadi di permukaan bumi untuk mengukur respons dinamis tanah. Data ini menunjukkan potensi amplified getaran di lokasi tertentu saat terjadi gempa.

Sementara itu, metode MASW menganalisis gelombang permukaan untuk memperkirakan profil kecepatan gelombang geser serta ketebalan lapisan tanah di bawah permukaan.

Data kombinasi ini selanjutnya diolah menjadi peta mikrozonasi, yaitu pembagian zona wilayah berdasarkan tingkat kerentanan dan respons tanah terhadap guncangan gempa.

Berdasarkan keterangan BMKG di laman resmi mereka pada 22 Agustus 2026, BMKG mengharapkan hasil tersebut dapat mendukung pemerintah dan pemangku kepentingan dalam menangani pascabencana, merencanakan rehabilitasi dan rekonstruksi, serta memperkuat upaya mitigasi dan pengurangan risiko gempa bumi di wilayah NTT.
   

4. Starlink

Guncangan gempa bumi berisiko merusak infrastruktur telekomunikasi darat, padahal jaringan komunikasi sangat krusial untuk koordinasi evakuasi, penanganan medis, pendistribusian logistik, dan pendataan korban.

Gempa Flores sempat menyebabkan gangguan pada 812 menit pemancar atau Base Transceiver Station (BTS) di NTT. Seluruh titik infrastruktur tersebut kini telah dipulihkan hingga kembali berfungsi normal.

Guna menjaga kelancaran konektivitas selama proses pemulihan awal, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyalurkan 20 unit perangkat Starlink ke lokasi bencana. Teknologi internet berbasis satelit orbit rendah ini mampu menyediakan akses data tanpa bergantung pada jaringan kabel atau pemancar darat yang berpotensi lumpuh saat bencana.

“Sejak awal, kami memastikan percepatan penanganan site/BTS yang terdampak gempa NTT. Saat ini site/BTS yang mengalami gangguan 100 persen telah berhasil dipulihkan,” kata Menkomdigi Meutya Hafid dalam siaran pers 22 Agustus 2026.

Perangkat satelit ini difungsikan untuk menunjang komunikasi operasional petugas kesehatan, tim SAR, dan relawan penanganan bencana di daerah yang mengalami keterbatasan jaringan konvensional.

(Riza Aslam Khaeron)