Dinamika Membangun Bisnis, dari Menghadapi Krisis hingga IPO

Ilustrasi. Foto: dok MI/Usman Iskandar.

Dinamika Membangun Bisnis, dari Menghadapi Krisis hingga IPO

Ade Hapsari Lestarini • 23 August 2026 21:04

Jakarta: Pengalaman menghadapi krisis ekonomi 1998 hingga membawa perusahaan properti mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi bagian dari perjalanan bisnis Co-Founder & Group CEO Triniti Land, Ishak Chandra, selama lebih dari tiga dekade.

Perjalanan tersebut dituangkan Ishak dalam buku berjudul Bermain di Papan Besar. Buku tersebut mengangkat sejumlah titik balik dalam perjalanan profesionalnya, termasuk kehilangan harta saat krisis 1998, pengalaman kehilangan uang warisan akibat penipuan, hingga proses membangun perusahaan yang kemudian tercatat di BEI pada 15 Januari 2020.

Selain pengalaman personal, buku tersebut membahas pengalaman Ishak dalam membangun bisnis, mengambil keputusan, menghadapi risiko, serta memimpin perusahaan dalam berbagai kondisi ekonomi.

Bermain di Papan Besar terdiri dari 30 bab, tujuh bagian, dan 12 prinsip yang dilengkapi dengan kisah nyata selama perjalanan karier Ishak. Sejumlah topik yang dibahas mencakup strategi bisnis, kepemimpinan, pengambilan keputusan, serta pengalaman menghadapi ketidakpastian dalam dunia profesional.
 

Dari krisis 1998 hingga masuk bursa


Perjalanan bisnis Ishak dimulai ketika bergabung sebagai Management Trainee di Astra International pada 1991. Ia kemudian menghabiskan 13 tahun di Soewarna Business Park, perusahaan patungan Salim Group dan Sojitz Corporation.

Setelah itu, Ishak melanjutkan karier selama delapan tahun di Sinar Mas Land, termasuk sebagai Director of Corporate Strategy hingga CEO Strategic Development & Services. Pengalaman tersebut kemudian membawanya menjadi Co-Founder & Group CEO Triniti Land, perusahaan properti yang mencatatkan saham di BEI pada 2020.


Co-Founder & Group CEO Triniti Land, Ishak Chandra. Foto: dok istimewa.
 

Krisis 1997-1998 menjadi salah satu titik balik dalam perjalanan tersebut. Ishak mengungkapkan pernah kehilangan hampir seluruh harta yang dimilikinya pada periode tersebut. Pengalaman menghadapi krisis kemudian menjadi salah satu bagian yang diangkat dalam Bermain di Papan Besar. Sekitar dua dekade setelah krisis, Ishak membawa perusahaan yang dibangunnya mencatatkan saham di BEI.

Perjalanan tersebut memperlihatkan perubahan posisi dari menghadapi tekanan ekonomi secara personal hingga mengelola perusahaan yang masuk ke pasar modal. Pengalaman menghadapi risiko, kegagalan, kehilangan, dan ketidakpastian menjadi bagian dari pembelajaran bisnis yang diangkat dalam buku tersebut.

"Meski saya 35 tahun di industri properti, tapi kalau tentang membangun bisnis, ketika kita menekunkan suatu industri, industri apapun, itu pasti ada naik turunnya. Maka yang perlu kita pelajari adalah fokus pada one sector yang kita kuasain, dengan begitu kita punya advantage lebih besar," kata dia.
 

Pengalaman bisnis dan aktivitas sosial


Selain perjalanan profesional, Ishak juga mengangkat aktivitas sosial melalui Yayasan Sinergy Bangun Indonesia (Sinergy Indonesia), tempat ia menjabat sebagai Ketua Umum. Melalui program Agent of Hope, kegiatan tersebut diarahkan untuk memperluas akses pendidikan dan kesempatan kerja bagi generasi muda Indonesia.

Ishak juga memutuskan tidak mengambil keuntungan pribadi dari penjualan Bermain di Papan Besar. Seluruh keuntungan penjualan buku akan disalurkan untuk mendukung program Agent of Hope, termasuk beasiswa dan akses kerja bagi generasi muda Indonesia.

'Bermain di Papan Besar' turut memuat kesaksian sejumlah tokoh publik dan praktisi bisnis, antara lain Sandiaga Uno, Merry Riana, Helmy Yahya, Bong Chandra, dan James Gwee. Selain tokoh publik, buku tersebut menghadirkan perspektif istri dan kedua anak Ishak mengenai perjalanan dirinya sebagai eksekutif dan praktisi bisnis.

Berbagai perspektif tersebut melengkapi gambaran perjalanan Ishak selama 33 tahun di dunia profesional dan bisnis, termasuk pengalaman membangun karier, menghadapi krisis, mengambil keputusan, hingga membawa perusahaan masuk ke pasar modal.

(Ade Hapsari Lestarini)