Petugas saat menyiapkan hidangan program Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jawa Barat. ANTARA/Rubby Jovan
Program MBG Buka Peluang Kerja untuk Warga Lokal
Deny Irwanto • 29 March 2026 16:31
Jakarta: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tak hanya dirasakan manfaatnya oleh para siswa, tetapi juga memberi dampak nyata bagi masyarakat di sekitarnya, terutama dalam membuka peluang kerja.
Di Kabupaten Cirebon, program ini menghadirkan aktivitas baru di dapur-dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi yang melibatkan puluhan warga lokal setiap harinya. Dari proses persiapan hingga distribusi makanan, banyak tangan ikut bekerja dan mendapatkan penghasilan.
Adha Sidik Hidayat, seorang juru masak di SPPG Banjarwangunan 1, Kecamatan Mundu, merasakan langsung perubahan tersebut. Ia melihat program ini memberi kesempatan bagi mereka yang sebelumnya belum memiliki pekerjaan tetap.
"Jadi dilihat dari relawan sendiri yang asalnya menganggur sudah pasti mendapat pekerjaan yang layak. Ada beberapa relawan kami sebagai orang tua tunggal (single parent) dengan keberadaan MBG ini sangat membantu untuk menafkahi anaknya," kata Adha di Cirebon, Minggu, 29 Maret 2026.
"Patokan dari BGN untuk relawan itu Rp100-200 ribu/hari. Untuk chef rata-rata Rp200 ribu per hari. Tinggal dikalikan jumlah hari kerja. Ini cukup layak karena UMK di Cirebon hampir Rp3 juta, jadi sudah melebihi UMK Cirebon," jelas Chef yang bekerja sejak Juni 2025 ini.

Adha Sidik Hidayat, seorang juru masak di SPPG Banjarwangunan 1, Kecamatan Mundu. Dokumentasi/ istimewa.
Setiap unit SPPG melibatkan puluhan orang dengan berbagai peran, mulai dari tim persiapan, memasak, pemorsian, hingga distribusi. Menariknya, seluruh tenaga kerja direkrut dari warga sekitar.
"Memang diwajibkan oleh BGN bahwa yang bekerja di SPPG tersebut wajib warlok (warga lokal)," ungkapnya.
Tak hanya membuka kesempatan kerja, aktivitas di sekitar dapur gizi juga membawa dampak bagi pelaku usaha kecil. Warung dan pemasok bahan baku ikut merasakan peningkatan aktivitas ekonomi.
"UMKM di sekitar juga tumbuh berkembang. Jangankan supplier yang berhubungan langsung dengan pengadaan bahan baku di dapur, warung sekitar pun juga berkembang karena relawan itu setiap hari membeli kopi, makanan atau sebagainya di sekitarnya," ujarnya.
Bagi sebagian warga, program ini bukan sekadar rutinitas baru, melainkan juga sumber penghasilan yang membantu menjaga keberlangsungan hidup sehari-hari.