Netanyahu Perintahkan Perluasan Operasi Militer di Lebanon

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Foto: Anadolu

Netanyahu Perintahkan Perluasan Operasi Militer di Lebanon

Fajar Nugraha • 30 March 2026 17:09

Tel Aviv: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, resmi memerintahkan perluasan operasi militer di wilayah selatan Lebanon.

Langkah ini diambil guna memperluas zona penyangga keamanan di tengah meningkatnya eskalasi regional antara aliansi Amerika Serikat-Israel melawan Iran.

Netanyahu menegaskan bahwa perluasan zona penyangga tersebut bertujuan untuk mengubah situasi keamanan di perbatasan utara Israel secara mendasar. Ia juga mengisyaratkan penerapan strategi militer yang serupa dengan operasi di Jalur Gaza.

“Saya baru saja memerintahkan untuk memperluas zona penyangga keamanan yang ada. Kami bertekad untuk mengubah situasi di utara secara mendasar,” ujar Netanyahu dalam pernyataan video dari Komando Utara.

Langkah ini dilakukan saat pasukan darat Israel mulai bergerak menuju Sungai Litani guna mengusir kekuatan Hezbollah. Ketegangan ini merupakan buntut dari serangan balasan Hezbollah pada awal Maret pasca-pembunuhan mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Perubahan Strategis di Lapangan

Koresponden lapangan melaporkan adanya peningkatan intensitas pertempuran yang signifikan dalam beberapa jam terakhir. Pasukan Israel dikabarkan telah mencapai anak sungai Sungai Litani di dekat al-Muhaysibat, sebuah pergerakan yang dinilai sebagai titik balik penting dalam konflik ini.

“Anak sungai yang telah mereka capai ini hanya berjarak beberapa ratus meter dari Sungai Litani yang sebenarnya. Ini akan berubah menjadi pertempuran besar,” lapor Obaida Hitto dari Al Jazeera.

Di sisi lain, situasi kemanusiaan di Lebanon terus memburuk. Kementerian Kesehatan Lebanon mengonfirmasi bahwa setidaknya 1.238 orang telah gugur sejak konflik meluas pada 2 Maret, termasuk 124 anak-anak. PBB juga mencatat lebih dari 1,2 juta warga sipil telah terpaksa mengungsi akibat serangan yang tidak kunjung mereda.


Serangan terhadap Jurnalis dan Personel PBB

Insiden mematikan juga menyasar jurnalis dan pasukan penjaga perdamaian. Pada Sabtu pekan lalu, sebuah serangan udara di kota Jezzine menewaskan tiga jurnalis saat sedang bertugas, yang memicu gelombang duka dan kemarahan di Beirut.

Prancis memberikan reaksi keras atas insiden yang menimpa awak media tersebut. Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, menekankan bahwa jurnalis tidak boleh menjadi sasaran dalam zona perang.

“Jika memang terbukti bahwa jurnalis yang bersangkutan disasar secara sengaja oleh tentara Israel, maka ini sangat serius dan merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional,” tegas Barrot dalam wawancara dengan France 3.

Sementara itu, Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) turut melaporkan gugurnya satu personel penjaga perdamaian akibat ledakan proyektil di dekat Adchit Al Qusayr. UNIFIL menyatakan tengah melakukan penyelidikan mendalam untuk mengungkap asal-usul proyektil tersebut.

“Setiap tindakan yang membahayakan personel pemelihara perdamaian tidak dapat diterima dan mengganggu upaya bersama dalam menjaga stabilitas,” tulis pernyataan resmi UNIFIL.

Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) mencatat bahwa pelanggaran terhadap hukum internasional dan keselamatan pekerja media terus meningkat, menambah daftar panjang korban dalam konflik yang kian kompleks di kawasan Timur Tengah tersebut.

(Hilda Kartika Barends)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)