Ilustrasi freepik
Psikolog Ungkap Cara Efektif agar Orang Tua Tak Lagi Membandingkan Anak
Putri Purnama Sari • 22 July 2025 10:29
Jakarta: Setiap tanggal 23 Juli, Indonesia memperingati Hari Anak Nasional sebagai pengingat pentingnya pemenuhan hak-hak anak. Bukan hanya hak untuk hidup dan belajar, tetapi juga hak untuk tumbuh dalam lingkungan yang aman secara emosional, sehat secara mental, dan penuh cinta tanpa syarat.
Setiap anak adalah individu yang unik dengan kekuatan, minat, dan kecepatan tumbuh yang berbeda. Namun, kenyataannya, banyak orang tua tanpa sadar membandingkan anak mereka dengan anak lain. Baik itu saudara kandung, teman sekelas, atau bahkan anak tetangga.
Meski sering dilakukan dengan niat baik, kebiasaan ini justru dapat menimbulkan dampak negatif yang signifikan pada perkembangan psikologis anak. Mengasuh anak tanpa membandingkan bukan berarti membiarkan anak tumbuh tanpa arah atau tanpa batasan.
Menurut Efnie Indrianie selaku Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga dari Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha, Bandung, yang dibutuhkan orang tua masa kini adalah perubahan cara pandang dan pola komunikasi terhadap anak.
Ia menekankan bahwa pola asuh yang sehat dan suportif dapat menjadi pondasi penting bagi anak untuk bertumbuh menjadi pribadi yang kuat secara mental dan percaya pada kemampuan dirinya sendiri.
| Baca juga: Ketahui, Ini 7 Kewajiban Orang Tua kepada Anak dalam Islam |
Cara Sehat Mengasuh Anak Tanpa Membandingkan
Berikut ini adalah pendekatan-pendekatan yang bisa dilakukan orang tua kepada anaknya1. Fokus pada Perkembangan Diri Anak Sendiri
Daripada membandingkan anak dengan orang lain, orang tua dianjurkan untuk membandingkan anak dengan dirinya sendiri di masa lalu.“Wah, kemarin kamu masih kesulitan mengerjakan soal pecahan, sekarang sudah bisa menyelesaikan lima soal sendiri! Hebat!”
Dengan pendekatan ini, anak belajar bahwa perkembangan adalah sesuatu yang bersifat pribadi, dan keberhasilan itu datang dari proses belajar dan kemajuan diri, bukan dari mengalahkan orang lain.
2. Akui Proses dan Usaha, Bukan Hanya Hasil
Sering kali orang tua terfokus pada nilai ujian atau penghargaan semata. Padahal, seperti dikatakan Efnie, apresiasi terhadap usaha jauh lebih penting untuk membentuk pola pikir anak yang tangguh.“Ibu lihat kamu rajin banget latihan piano minggu ini, kamu sangat disiplin!”
Pujian seperti ini mendorong anak untuk mencintai proses, bukan hanya mengejar hasil. Ini juga memperkuat konsep growth mindset, keyakinan bahwa kemampuan bisa tumbuh melalui latihan dan kerja keras.
| Baca juga: Apa Kata Masyarakat soal Hari Anak Nasional? Yuk Intip! |
3. Bantu Anak Mengenali Kekuatan dan Potensinya
Efnie menekankan pentingnya peran orang tua dalam membantu anak mengenali kekuatan pribadinya, bukan kekuatan orang lain yang dijadikan standar.“Kamu jago menyusun balok jadi bentuk kreatif. Kira-kira, kamu mau coba desain apa lagi besok?”
Pernyataan seperti ini memperkuat identitas dan rasa percaya diri anak. Ia akan tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya punya keunikan dan kemampuan yang bisa diasah.
4. Ajarkan tentang Keunikan Individu
Setiap anak punya jalur perkembangan yang berbeda-beda. Mengajarkan hal ini secara eksplisit bisa membantu anak merasa damai dengan dirinya sendiri.“Setiap orang punya waktu tumbuh yang berbeda. Yang penting, kita terus belajar dan berkembang.”
Dengan memahami bahwa keberhasilan tidak perlu datang bersamaan dengan orang lain, anak akan lebih fokus pada pertumbuhan pribadinya tanpa merasa tertinggal atau gagal.
| Baca juga: 5 Peran Penting Orang Tua dalam Memenuhi Hak Anak |
Menurut Efnie Indrianie, membandingkan anak secara terus-menerus sama halnya dengan menanam racun psikologis yang perlahan-lahan bisa menghancurkan rasa aman dan harga dirinya.
Anak-anak yang terus dibandingkan akan merasa bahwa mereka hanya berharga jika memenuhi standar orang lain. Padahal, setiap anak memiliki kekuatan dan waktunya sendiri untuk berkembang.
Di momen Hari Anak Nasional, Efnie mengajak orang tua dan masyarakat untuk merenung: Apakah kita sudah menjadi mata air yang menyuburkan pertumbuhan anak, atau justru menjadi tangan yang memaksa bunga merekah sebelum waktunya?
Anak akan tumbuh dengan lebih sehat secara emosional dan mental ketika mereka merasa aman, dicintai, dan dihargai tanpa syarat. Tugas orang tua bukan menciptakan anak yang sempurna menurut definisi orang lain, melainkan menemani proses anak menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.
Dengan pendekatan yang lebih empatik dan suportif, orang tua tak hanya membesarkan anak, tapi juga membentuk masa depan yang lebih sehat, baik untuk si anak, maupun bagi masyarakat secara keseluruhan.