Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Foto: ANTARA/HO - Kemenko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
Pemerintah Dorong Penguatan Daya Saing Lokal di Tengah Perang Ekonomi Global
Husen Miftahudin • 14 October 2026 13:41
Jakarta: Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mendorong Indonesia memperkuat daya saing nasional di tengah persaingan ekonomi global yang semakin ketat. Penguatan hilirisasi, industrialisasi, penguasaan teknologi, dan diversifikasi kemitraan dinilai penting untuk meningkatkan posisi Indonesia dalam perekonomian dunia.
"Indonesia harus mampu mengubah tekanan global menjadi peluang strategis. Kita perlu memperkuat hilirisasi, industrialisasi, penguasaan teknologi dan diversifikasi kemitraan agar memiliki daya saing dan posisi tawar yang semakin kuat," ujar AHY dalam keterangannya di Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu, 14 Oktober 2026.
AHY menilai persaingan antarnegara kini semakin bergeser dari ranah geopolitik menuju konfrontasi geoekonomi. Dalam situasi tersebut, instrumen ekonomi seperti tarif perdagangan, sanksi ekonomi, pembatasan teknologi, dan penguasaan rantai pasok semakin banyak digunakan untuk memperkuat pengaruh negara.
AHY merujuk Global Risks Report 2026 yang diterbitkan World Economic Forum (WEF). Menurut laporan tersebut, konfrontasi geoekonomi menempati posisi teratas risiko global jangka pendek, dengan 18 persen responden menempatkannya sebagai risiko utama. Konflik bersenjata antarnegara berada di urutan berikutnya dengan 14 persen.
Persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok menjadi salah satu faktor yang memengaruhi ketidakpastian ekonomi global. "Kita sedang menyaksikan perubahan mendasar. Perdagangan, teknologi, energi dan rantai pasok tidak lagi semata-mata menjadi instrumen ekonomi, tetapi juga alat tekanan dan perebutan pengaruh geopolitik," kata AHY.
Menurut AHY, fragmentasi geoekonomi berpotensi memengaruhi stabilitas perdagangan, investasi, dan pertumbuhan ekonomi. Namun, perubahan tersebut juga membuka peluang bagi Indonesia untuk mengambil peran lebih besar dalam diversifikasi rantai pasok global.
(Ilustrasi hilirisasi. Foto: dok MI/Angga Yuniar)
Hilirisasi dan industrialisasi tingkatkan nilai tambah
AHY menekankan Indonesia perlu meningkatkan nilai tambah sumber daya alam melalui hilirisasi dan industrialisasi. Upaya tersebut diperlukan agar Indonesia tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan mentah atau pasar konsumsi, tetapi juga berkembang menjadi pusat produksi dan inovasi bernilai tambah.
Penguatan penguasaan teknologi dan diversifikasi kemitraan strategis juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan daya saing serta posisi tawar Indonesia di tengah persaingan global. Dengan pendekatan tersebut, Indonesia diharapkan dapat memperluas perannya dalam rantai pasok internasional sekaligus memperkuat kapasitas industri nasional.
AHY juga mengatakan kesiapan domestik menjadi faktor penting dalam menghadapi perubahan ekonomi global. Hal itu mencakup penguatan infrastruktur, peningkatan efisiensi logistik, ketahanan energi, dan pembangunan sumber daya manusia (SDM).
Menurut dia, kekayaan sumber daya alam perlu diimbangi kemampuan untuk mengolahnya menjadi kegiatan ekonomi produktif. Karena itu, peningkatan kapasitas industri dan kualitas tenaga kerja diperlukan untuk mendukung penciptaan nilai tambah di dalam negeri.
AHY juga mengajak Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) menghasilkan kajian geoekonomi yang dapat membantu pemerintah mengantisipasi risiko serta mengidentifikasi peluang investasi dan kerja sama strategis.
"Daya saing bangsa tidak cukup ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam. Kita harus mampu mengubah sumber daya tersebut menjadi produktivitas, inovasi, lapangan kerja berkualitas dan kesejahteraan rakyat," kata AHY.