Hilirisasi Bauksit Berpotensi Hemat Devisa Indonesia hingga Rp9 Triliun/Tahun

Aktivitas pertambangan bauksit. Foto: dok MI.

Hilirisasi Bauksit Berpotensi Hemat Devisa Indonesia hingga Rp9 Triliun/Tahun

Husen Miftahudin • 14 October 2026 13:36

Jakarta: Hilirisasi bauksit berpotensi menghemat devisa Indonesia sekitar Rp7 triliun hingga Rp9 triliun per tahun. Penghematan tersebut berasal dari berkurangnya kebutuhan impor alumina untuk mendukung produksi aluminium dalam negeri.

Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Komersial PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) Arif Haendra mengatakan, perusahaan kini dapat memenuhi kebutuhan alumina melalui pasokan domestik seiring berkembangnya hilirisasi bauksit.

"Sekarang dengan memiliki sendiri alumina maka kita tidak perlu impor. Itu sudah menghemat devisa kurang lebih Rp7 triliun sampai Rp9 triliun. Dengan Inalum sudah tidak mengimpor alumina," kata Arif dalam keterangan yang diterima di Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu, 14 Oktober 2026.

Inalum merupakan anggota holding industri pertambangan MIND ID. Sebelumnya, kebutuhan alumina untuk mendukung produksi aluminium perusahaan masih bergantung pada pasokan impor.

Ketersediaan alumina dari dalam negeri merupakan hasil pengembangan rantai industri yang menghubungkan penambangan bauksit, pemurnian menjadi alumina, hingga pengolahan lebih lanjut menjadi aluminium. Integrasi tersebut memungkinkan sumber daya mineral Indonesia dimanfaatkan sebagai bahan baku industri domestik sekaligus mengurangi kebutuhan impor.

Untuk memperkuat rantai pasok bahan baku aluminium, Inalum bersama PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengembangkan ekosistem hilirisasi bauksit–alumina–aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat. Kawasan tersebut mencakup enam proyek, terdiri atas lima proyek di lingkungan Grup MIND ID dan satu proyek milik PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo.

Pada sisi hulu, pasokan bauksit didukung satu izin usaha pertambangan (IUP) milik Antam dan enam IUP milik anak perusahaan Antam. Bijih bauksit tersebut menjadi bahan baku fasilitas Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) untuk diolah menjadi alumina yang digunakan dalam industri aluminium.

Pengembangan rantai pasok terintegrasi ini ditujukan untuk memperkuat ketersediaan bahan baku di dalam negeri dan mendukung keberlanjutan produksi aluminium nasional.
 


Moratorium Industri Nikel Jadi Opsi Kendalikan Kelebihan Pasokan

(Ilustrasi. Foto: dok MI/Angga Yuniar)

 

SGAR fase I produksi 1 juta ton alumina


Fasilitas SGAR fase I saat ini telah berproduksi dengan kapasitas mencapai 1 juta ton alumina per tahun. Dari kapasitas tersebut, sekitar 550 ribu ton dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan Inalum berdasarkan perjanjian jangka panjang. Sementara itu, sekitar 450 ribu ton lainnya ditujukan untuk ekspor.

Ketersediaan fasilitas pemurnian tersebut menjadi salah satu tahapan dalam membangun kemandirian pasokan bahan baku aluminium nasional. Selain memenuhi kebutuhan industri domestik, produksi alumina juga membuka peluang penjualan ke pasar internasional. Pengembangan ekosistem hilirisasi bauksit di Mempawah akan dilanjutkan melalui pembangunan SGAR fase II.

Arif mengatakan, studi kelayakan yang memenuhi persyaratan perbankan atau bankable feasibility study (BFS) untuk proyek tersebut telah selesai. Proyek selanjutnya akan memasuki tahap keputusan investasi akhir atau final investment decision (FID) dalam waktu dekat.

Pengembangan fase lanjutan diharapkan memperkuat kapasitas industri pengolahan alumina dan mendukung integrasi rantai pasok aluminium di dalam negeri.

Penguatan rantai industri bauksit–alumina–aluminium diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor sekaligus memperkuat basis industri aluminium nasional.

Ketersediaan bahan baku domestik menjadi salah satu faktor pendukung bagi industri pengolahan untuk meningkatkan daya saing. Aluminium juga digunakan dalam berbagai sektor, mulai dari manufaktur kendaraan listrik, konstruksi, transportasi, hingga kelistrikan.

Dengan pengembangan rantai pasok yang terintegrasi, pemanfaatan bauksit diharapkan dapat memberikan nilai tambah lebih besar bagi perekonomian nasional, sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan bahan baku industri di dalam negeri.

(Husen Miftahudin)