Wamenkeu: Hilirisasi Harus Naik Kelas, Indonesia Bidik Daya Saing Global

Wamenkeu Juda Agung menyampaikan sambutan dalam acara Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 di Jakarta. Foto: ANTARA/Bayu Saputra.

Wamenkeu: Hilirisasi Harus Naik Kelas, Indonesia Bidik Daya Saing Global

Husen Miftahudin • 13 October 2026 16:44

Jakarta: Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung mendorong pengembangan industri bernilai tambah tinggi melalui hilirisasi untuk memperkuat daya saing Indonesia di pasar global. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan pada aktivitas ekonomi bernilai tambah rendah sekaligus meningkatkan kompleksitas industri nasional.
 
Juda mengatakan, Indonesia perlu mengembangkan kemampuan pengolahan, desain, dan inovasi produk agar tidak hanya bergantung pada kepemilikan sumber daya alam.
 
"Kita harus bergerak dari sekadar memiliki sumber daya alam menjadi menguasai kemampuan mengolahnya. Dari memproduksi barang menjadi merancang dan mengembangkan produk bernilai tambah tinggi. Dari sekadar menjadi pasar bagi produk-produk global menjadi bagian penting dari rantai nilai global," kata Juda dalam Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 di Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa, 13 Oktober 2026.
 
Ia menjelaskan, hilirisasi dan industrialisasi merupakan bagian penting dari strategi pembangunan untuk meningkatkan kompleksitas ekonomi (economic complexity) Indonesia yang masih relatif rendah.
 
Kompleksitas ekonomi merupakan indikator yang menggambarkan keragaman kemampuan, pengetahuan, teknologi, dan keterampilan yang tercermin dalam produk yang dihasilkan suatu negara.
 
Menurut Juda, pengembangan industri perlu melampaui pengolahan bahan mentah. Indonesia juga perlu memperkuat produksi bahan baku antara berteknologi lebih maju dan manufaktur dengan nilai tambah tinggi.
 
Upaya tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan pasar Indonesia sekaligus menciptakan lapangan kerja yang membutuhkan keterampilan lebih tinggi.
 

 

Industri baterai dan kendaraan listrik jadi contoh

 
Juda mencontohkan perkembangan industri baterai di kawasan Weda Bay serta pembangunan pabrik kendaraan listrik BYD di Subang sebagai bagian dari perluasan basis industri nasional.
 
"Di Weda Bay, Presiden baru saja meluncurkan ekspor baterai senilai Rp180 triliun. Hal ini menunjukkan kemajuan Indonesia menuju produksi baterai dengan nilai tambah yang lebih tinggi. Sementara itu, pabrik BYD di Subang yang diresmikan September 2026 ini memperluas rantai industri kita ke tahap manufacturing kendaraan listrik. Kedua contoh ini menunjukkan semakin berkembangnya basis industri Indonesia yang berbasis pada sumber daya alam," ujar dia.
 
Juda menambahkan, peningkatan kompleksitas ekonomi menjadi salah satu tantangan bagi Indonesia untuk mencapai status negara berpendapatan tinggi. Karena itu, transformasi industri perlu disertai penguatan kemampuan sumber daya manusia (SDM), pengembangan teknologi, dan inovasi.
 
Pemerintah juga mendorong sejumlah prioritas pembangunan, antara lain hilirisasi, digitalisasi, penguatan inovasi, serta peningkatan ketahanan pangan dan energi.

Moratorium Industri Nikel Jadi Opsi Kendalikan Kelebihan Pasokan

(Ilustrasi tambang nikel. Foto: dok MI/Angga Yuniar)

 

APBN dan Danantara dukung transformasi ekonomi

 
Selain penguatan industri, Juda menekankan pentingnya pembiayaan produktif untuk menopang transformasi ekonomi. Pembiayaan tersebut diperlukan agar investasi dapat meningkatkan kapasitas produksi dan produktivitas nasional.
 
Dalam hal ini, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berperan membangun fondasi produktivitas melalui dukungan terhadap berbagai prioritas pembangunan. Sementara itu, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara diharapkan menjadi salah satu penggerak investasi strategis untuk mendukung pengembangan industri nasional.
 
Melalui sinergi kebijakan fiskal, investasi, pengembangan SDM, dan inovasi, Indonesia diharapkan mampu memperkuat posisi dalam rantai nilai global serta meningkatkan daya saing produk industri di pasar internasional.

(Husen Miftahudin)