Gubernur BI Sebut Indonesia Punya Peluang Besar Kembangkan Ekonomi Syariah

Gubernur BI Destry Damayanti dalam pembukaan ISEF 2026 di Jakarta. Foto: ANTARA/Rizka Khaerunnisa.

Gubernur BI Sebut Indonesia Punya Peluang Besar Kembangkan Ekonomi Syariah

Husen Miftahudin • 14 October 2026 22:16

Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah (eksyar). Potensi tersebut ditopang besarnya populasi muslim di dalam negeri serta nilai-nilai universal syariah yang relevan bagi masyarakat global.

Dalam laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2025/2026, Indonesia bertahan di peringkat keempat dunia. Meski pencapaian tersebut patut diapresiasi, Destry menilai Indonesia perlu terus memperkuat pengembangan ekonomi dan keuangan syariah agar mampu memanfaatkan peluang pasar yang lebih luas.

"Dengan kita melihat skala yang lebih besar, maka peluang dari pengembangan ekonomi keuangan syariah ini akan sangat tinggi sekali. Jadi bukan hanya di negara yang berbasis masyarakat muslim, tapi juga negara-negara lain yang mungkin muslimnya terbatas," kata Destry dalam pembukaan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu, 14 Oktober 2026.

Destry menjelaskan, ekonomi dan keuangan syariah memiliki nilai-nilai universal yang dapat diterapkan secara luas, termasuk di negara dengan populasi muslim relatif kecil. Nilai tersebut mencakup inklusivitas, keberlanjutan (sustainability), dan keadilan (fairness).

Dari sisi inklusivitas, ekonomi syariah mendorong pembangunan yang memberikan kesempatan kepada seluruh kelompok masyarakat, termasuk dalam memperoleh akses terhadap layanan keuangan.

Sementara itu, prinsip keberlanjutan menekankan pentingnya menjaga alam. Adapun prinsip keadilan menggarisbawahi pentingnya pemerataan manfaat pembangunan agar dapat dirasakan berbagai kelompok masyarakat, bukan hanya golongan tertentu.

Menurut Destry, nilai-nilai tersebut juga relevan untuk diterapkan dalam beragam model bisnis, termasuk bisnis konvensional. Ia mencontohkan perkembangan ekonomi dan keuangan syariah di kawasan ASEAN. Selain Malaysia, Filipina dan Thailand juga dinilai semakin aktif mengembangkan sektor tersebut, terutama keuangan syariah.

"Ini tentu menjadi PR buat kita, karena kita sudah mempunyai basis yang kuat, tinggal bagaimana kita untuk bisa mendorong ke depan," kata dia.
 


Bappenas: Ekonomi Syariah Jadi Kunci Pertumbuhan saat Krisis Global

(Ilustrasi. Foto: dok Metrotvnews.com)

 

Rantai nilai halal tumbuh 5,5%


Dari sisi ekonomi syariah, rantai nilai halal di Indonesia tumbuh 5,5 persen secara tahunan pada triwulan II-2026, berdasarkan catatan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Pertumbuhan tersebut melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.

Sementara itu, dari sisi keuangan syariah, penerbitan green sukuk Indonesia sejak 2018 mencapai USD7,7 miliar di pasar global dan Rp108,9 triliun di pasar domestik per Juni 2026.

Meski demikian, Destry menilai porsi penerbitan green sukuk di pasar domestik masih relatif kecil dibandingkan dengan total penerbitan obligasi pemerintah. Kondisi ini menunjukkan masih terbukanya ruang untuk memperluas pasar keuangan syariah di Indonesia.

Destry juga menyoroti minat investor dari negara-negara nonmuslim terhadap instrumen keuangan syariah, termasuk dari Amerika Serikat dan Eropa. Menurut dia, minat tersebut antara lain didorong karakteristik green sukuk yang mendukung pembiayaan berkelanjutan.

Selain itu, produk keuangan syariah memiliki karakteristik berbasis aset dasar (underlying asset) yang dapat menjadi salah satu pertimbangan investor dalam memilih instrumen investasi. Melihat peluang tersebut, Destry mendorong para pemangku kepentingan memperluas variasi produk keuangan syariah untuk memenuhi permintaan pasar.

"Saya mengajak kepada para tokoh-tokoh, termasuk Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), mari kita bersama-sama merumuskan agar kita bisa menciptakan produk-produk keuangan syariah yang lebih bervariasi karena sebenarnya demand-nya itu strong sekali, permintaannya sangat banyak sekali," kata Destry.

Pengembangan produk yang lebih beragam diharapkan dapat memperluas basis investor, meningkatkan daya saing industri keuangan syariah, dan mengoptimalkan potensi Indonesia di pasar keuangan syariah global.

(Husen Miftahudin)