Kebut Pembiayaan ESG, Perempuan Didorong Terlibat dalam Keputusan Finansial

Vice President Sustainability PT TBS Energi Utama Tbk Karida Humaira Niode. Foto: Dok TBS

Kebut Pembiayaan ESG, Perempuan Didorong Terlibat dalam Keputusan Finansial

Eko Nordiansyah • 16 October 2026 10:25

Jakarta: Peran perempuan dalam mendorong praktik bisnis berkelanjutan semakin mendapat perhatian global. Di tengah tuntutan untuk menekan dampak perubahan iklim, profesional di bidang Environmental, Social, and Governance (ESG) kini juga dituntut untuk mampu menghubungkan agenda lingkungan dengan strategi bisnis dan keputusan keuangan.

Vice President Sustainability PT TBS Energi Utama Tbk Karida Humaira Niode mengatakan, pekerjaan di bidang ESG bukan sekadar memastikan perusahaan memenuhi standar keberlanjutan, tetapi juga mendorong isu iklim menjadi bagian dari keputusan bisnis, mulai dari investasi hingga pembiayaan.

Ia menilai perempuan perlu mendapat ruang lebih besar dalam pengambilan keputusan finansial, sehingga perannya di industri ESG tidak terbatas pada isu keberlanjutan saja. Karida berharap lebih banyak kesempatan bagi perempuan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan finansial bukan hanya membahas isu keberlanjutan.

“Di awal karier saya, pembahasan ESG sering kali berjalan terpisah dari keputusan bisnis. Saya melihat perempuan di sekitar saya lebih banyak dilibatkan dalam diskusi keberlanjutan, tetapi belum banyak mendapat ruang dalam pengambilan keputusan finansial,” ujar Karida, saat dihubungi wartawan, Jumat, 16 Oktober 2026.

Karida turut memimpin aspek ESG dalam fasilitas pembiayaan senilai USD15 juta untuk bisnis transportasi berkelanjutan melalui Electrum, anak usaha TBS. Fasilitas yang melibatkan Asian Development Bank (ADB), DBS Bank, dan Australian Climate Finance Partnership tersebut ditujukan untuk mendukung pengembangan transportasi rendah emisi.


(Deretan Women of the Future 50 Rising Stars in ESG 2026. Foto: Dok istimewa)

Masuk daftar 50 rising stars dunia di bidang ESG

Karida masuk dalam daftar Women of the Future 50 Rising Stars in ESG 2026, yang menyoroti 50 perempuan muda di dunia dengan kontribusi di bidang lingkungan, sosial, dan tata kelola. Karida tercatat sebagai satu-satunya perwakilan perempuan Indonesia dalam daftar tersebut.

Karida terpilih atas kontribusinya dalam menyusun salah satu rencana transisi iklim (Climate Transition Plan) korporasi pertama di Indonesia dan memberikan nasehat terkait ESG untuk transaksi pembiayaan campuran (blended finance) pertama di Tanah Air untuk sektor transportasi berkelanjutan. Inisiatif ini turut mendorong peralihan Indonesia dari transportasi berbahan bakar fosil.

Di tengah dominasi batu bara dan kesenjangan antara ambisi iklim dan implementasinya di dunia usaha, Karida berupaya mewujudkan target netralitas karbon dalam operasional perusahaan. Berbekal pengalaman di bidang konsultasi, teknologi iklim, dan ESG korporasi, ia menerjemahkan standar iklim global menjadi aksi nyata sesuai kebutuhan pasar negara berkembang.

Dorong peningkatan representasi perempuan di bidang ESG

Menurutnya, penguasaan keterampilan teknis seperti penghitungan emisi, penetapan harga karbon, dan pembiayaan transisi dapat membantu perempuan mengambil peran lebih besar. Ia juga mendorong program mentoring yang mempertemukan perempuan muda di bidang ESG dengan para pengambil keputusan keuangan, seperti direktur keuangan dan profesional pembiayaan.

“Representasi perempuan di bidang ESG seharusnya bukan sekadar membuat lebih banyak perempuan menyusun laporan. Kita perlu lebih banyak perempuan yang terlibat dalam merancang transaksi dan struktur pembiayaan. Beruntungnya di TBS, manajemen perusahaan sangat bersungguh-sungguh untuk mencapai netralitas karbon di 2030 dan melibatkan tim Sustainability,” kata dia.

TBS merupakan perusahaan yang sedang bertransisi dari bisnis baru bara di Indonesia menuju pengembang infrastruktur berkelanjutan di Asia. Di 2025, TBS telah mendivestasikan seluruh PLTU nya. Saat ini, bisnis TBS berfokus pada pengelolaan limbah di Singapura dan Indonesia, energi terbarukan, dan ekosistem kendaraan listrik.

Untuk mencapai netralitas karbon di 2030, TBS merupakan salah satu perusahaan pertama yang telah membuat Climate Transition Plan. Dalam laporan Energy Shift Institute, TBS menjadi salah satu dari dua perusahaan dengan progres diversifikasi paling nyata dengan 60 persen lebih pendapatan berasal dari non-batu bara dibandingkan dengan 13 perusahaan batu bara lainnya.

(Eko Nordiansyah)