Ajinomoto Ternyata Pegang Teknologi Penting di Industri AI, Ini Penjelasannya

Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com

Ajinomoto Ternyata Pegang Teknologi Penting di Industri AI, Ini Penjelasannya

Eko Nordiansyah • 30 September 2026 19:25

Jakarta: Ajinomoto, perusahaan Jepang yang dikenal sebagai produsen monosodium glutamat (MSG), ternyata memiliki peran penting dalam rantai pasok industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Peran tersebut berasal dari Ajinomoto Build-up Film (ABF), material isolasi yang digunakan pada substrat sirkuit semikonduktor berkinerja tinggi. Material ini menjadi salah satu komponen penting dalam pembuatan cip yang digunakan pada komputer hingga server pusat data.

Melansir situs resmi Ajinomoto, pengembangan ABF berawal dari penelitian perusahaan terhadap pemanfaatan kimia asam amino untuk resin epoksi dan material komposit sejak 1970-an. Penelitian tersebut kemudian menghasilkan material isolasi berbentuk film untuk substrat CPU.

ABF pertama kali diadopsi oleh produsen semikonduktor besar pada 1999. Sejak saat itu, material tersebut digunakan pada hampir seluruh CPU berkinerja tinggi dan terus dikembangkan mengikuti peningkatan kemampuan semikonduktor.

ABF berfungsi sebagai material isolasi yang memungkinkan pembentukan sirkuit berukuran sangat kecil pada substrat. Material tersebut membantu menghubungkan sirkuit elektronik berskala nanometer pada CPU dengan komponen elektronik berskala lebih besar.

Saat ini, Ajinomoto menyebut ABF telah menjadi material penting dalam pembentukan sirkuit pada substrat semikonduktor. Perkembangan teknologi tersebut membuat bisnis perusahaan yang awalnya lebih dikenal melalui produk makanan ikut masuk ke dalam rantai pasok industri teknologi global.


(Ilustrasi. Foto: Dok Ajinomoto)

Ikut kecipratan perkembangan AI

Perkembangan AI membuat kebutuhan terhadap cip dan infrastruktur pusat data meningkat. Kondisi tersebut turut menguntungkan sejumlah perusahaan di luar produsen cip, termasuk pemasok material yang dibutuhkan untuk memproduksi semikonduktor.

Dikutip dari The Japan Times, Ajinomoto menguasai lebih dari 95 persen pangsa pasar global material isolasi yang digunakan pada komputer pribadi dan server pusat data.

Bisnis ABF juga mencatat pertumbuhan laba signifikan pada tahun fiskal terakhir. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan bisnis makanan beku Ajinomoto yang mengalami penurunan akibat penarikan produk.

Chief Investment Officer Brompton Funds Laura Lau menilai bisnis film semikonduktor tersebut memiliki margin tinggi dan sulit disaingi. Bisnis itu juga dinilai menjadi salah satu pendorong laba Ajinomoto meski segmen makanan masih menjadi bisnis terbesar perusahaan berdasarkan pendapatan.

“Bisnis (semikonduktor) ini merupakan ‘bisnis dengan margin tinggi dan keunggulan kompetitif yang kuat, yang berperan sebagai mesin laba yang tangguh bagi Ajinomoto, meskipun bisnis bumbu dan makanan tetap menjadi yang terbesar dari segi pendapatan,’” kata Lau dikutip dari The Japan Times, Rabu, 30 September 2026.

Lau menjadi salah satu investor yang melihat peluang dari perusahaan di luar sektor teknologi yang ikut memperoleh keuntungan dari besarnya investasi AI. Brompton Funds membeli saham Ajinomoto pada Juli dan kembali menambah kepemilikannya pada Oktober.

Menurut dia, manfaat dari besarnya belanja AI kini mulai menyebar ke perusahaan yang berada di lapisan kedua dan ketiga dalam rantai pasok.

“Dalam beberapa kasus, hal itu masih terlalu dini,” kata Chief Investment Officer Integrated Partners Stephen Kolano mengenai sejumlah perusahaan di luar sektor teknologi yang berpotensi mendapatkan keuntungan dari tren belanja AI.

Bisnis ABF dilirik investor

Posisi strategis ABF turut menarik perhatian investor aktivis asal Inggris, Palliser Capital. Dikutip dari The Wall Street Journal, Palliser telah mengakumulasi saham Ajinomoto dan melihat adanya potensi lebih besar dari bisnis material semikonduktor perusahaan.

Palliser menilai Ajinomoto memiliki posisi kuat dalam rantai pasok AI karena dominasi perusahaan di pasar ABF. Investor tersebut bahkan mendorong Ajinomoto menaikkan harga ABF lebih dari 30 persen.

Menurut Palliser, kenaikan tersebut dinilai tidak akan memberikan dampak besar terhadap harga produk akhir. Pasalnya, biaya ABF disebut menyumbang kurang dari 0,1 persen terhadap harga jual cip seperti graphics processing unit (GPU).

Namun, Ajinomoto memilih pendekatan yang lebih berhati-hati. Perusahaan tetap mempertimbangkan masukan investor, tetapi mempertahankan fokus pada pertumbuhan bisnis jangka panjang dan hubungan dengan pelanggan.

“Kami telah secara bertahap mengembangkan bisnis kami dengan menciptakan nilai bersama para pelanggan kami,” tulis pihak Ajinomoto, dikutip dari Wall Street Journal, Rabu, 30 September 2026..

Harga ABF sejauh ini juga masih relatif stabil. Peneliti Taiwan Institute of Economic Research Shih Fang Chiu mengatakan kondisi tersebut terjadi karena belum terdapat kekurangan pasokan secara signifikan.

Namun, kondisi itu berpotensi berubah seiring perkembangan AI. Cip AI yang semakin besar dan kompleks membutuhkan substrat yang lebih canggih sehingga turut meningkatkan kebutuhan terhadap ABF.

Ajinomoto mulai meningkatkan kapasitas produksi dan merencanakan ekspansi tambahan untuk memenuhi pertumbuhan permintaan. Proyeksi industri menunjukkan kesenjangan antara permintaan dan pasokan substrat berpotensi semakin lebar hingga 2028.

Sejumlah produsen substrat juga menyebut kapasitas produksi untuk kebutuhan AI mulai mendekati batas maksimal. Kapasitas yang tersedia diperkirakan tidak mampu memenuhi seluruh permintaan pada 2027 apabila kebutuhan terus meningkat.

Kondisi serupa mulai terlihat pada perusahaan Jepang lainnya. Nittobo telah menaikkan harga material yang digunakan untuk kebutuhan AI seiring meningkatnya biaya dan terbatasnya pasokan.

Analis Citrini Research Jukan Choe menilai perkembangan tersebut dapat memberikan tekanan kepada Ajinomoto untuk menyesuaikan harga ABF.

“Ajinomoto perlu menemukan keseimbangan yang lebih baik antara mempertahankan reputasinya sebagai pemasok yang stabil dan jangka panjang, serta menyadari bahwa permintaan terhadap ABF meningkat jauh lebih cepat daripada pasokannya,” ujar Choe, dikutip dari Wall Street Journal, Rabu, 30 September 2026.

Dengan demikian, posisi Ajinomoto dalam industri AI tidak berasal dari pengembangan teknologi kecerdasan buatan secara langsung. Perusahaan berada di bagian rantai pasok melalui ABF yang dibutuhkan dalam pembuatan semikonduktor berkinerja tinggi. (Selsha Septifanie Gunawan)

(Eko Nordiansyah)