Wakil Menteri Kesehatan Prof. Dante Saksono Harbuwono dalam peringatan World Patient Safety Day (WPSD) atau Hari Keselamatan Pasien Sedunia 2026 yang digelar di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON) Mahar Mardjono Jakarta, Selasa (29/9/2026). ANTARA/HO
Wamenkes Perintahkan Pengawasan Menyeluruh untuk Pasien PTM
Siti Yona Hukmana • 2 October 2026 12:27
Jakarta: Kementerian Kesehatan menegaskan pentingnya memastikan keselamatan pasien pada setiap tahapan pelayanan kesehatan. Khususnya, bagi pasien dengan penyakit tidak menular (PTM) yang memiliki titik-titik kritis yang dapat menimbulkan risiko keselamatan dalam perawatan jangka panjang.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Dante Saksono Harbuwono mengatakan perawatan pasien dengan PTM dapat berlangsung panjang dan kompleks. Dalam setiap tahapan, kata dia, terdapat hal-hal yang berisiko, mulai dari keterlambatan atau kesalahan diagnosis, kesalahan penggunaan obat, hingga risiko pasien jatuh maupun kesalahan identifikasi pasien.
“Keselamatan pasien harus hadir sepanjang perjalanan hidup pasien, terutama pada penyakit tidak menular yang memerlukan pengelolaan jangka panjang. Mutu dan keselamatan harus hadir di setiap titik pelayanan, mulai dari pencegahan, deteksi dini, diagnosis, pengobatan, hingga rehabilitasi dan perawatan jangka panjang,” ujar Dante di Jakarta, dilansir Antara, Jumat, 2 Oktober 2026.
Saat ini, kata Dante, lebih dari 96 persen rumah sakit terakreditasi oleh lembaga penyelenggara akreditasi yang ditetapkan Kementerian Kesehatan. Penguatan keselamatan pasien juga didukung melalui pemanfaatan teknologi digital.
Platform Satu Sehat membantu mendokumentasikan riwayat penyakit, hasil pemeriksaan laboratorium, dan pengobatan pasien. Sehingga, informasi kesehatan dapat tersedia secara lebih berkesinambungan ketika pasien berpindah layanan.
“Dengan dokumentasi informasi kesehatan yang lebih baik, kita dapat mengurangi risiko kesalahan akibat informasi yang tidak lengkap dan memastikan pelayanan berlangsung lebih berkesinambungan,” ujar Dante.
Selain penguatan sistem pelayanan, Dante menekankan pentingnya keterlibatan pasien dan keluarga sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan pasien. Pasien perlu memahami kondisi kesehatannya, mengetahui pilihan terapi yang tersedia, berani bertanya dan menyampaikan kekhawatiran, mengenali tanda bahaya, serta terlibat dalam pengambilan keputusan terkait pelayanan kesehatannya.
Sementara itu, keluarga berperan dalam mendukung kepatuhan pengobatan, memantau kondisi pasien, dan memastikan perawatan berjalan dengan baik.
Senada, Deputy Head of WHO Indonesia Tara Kessaram menekankan keselamatan pasien merupakan fondasi pelayanan kesehatan berkualitas, sekaligus bagian penting dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap sistem kesehatan. Dia menyampaikan secara global sekitar 1 dari 10 pasien mengalami bahaya atau cedera selama menerima pelayanan kesehatan, dan sekitar setengah dari insiden tersebut dinilai dapat dicegah.
“Keselamatan pasien harus dilindungi di seluruh rentang proses perawatan (continuum of care), mulai dari pencegahan, diagnosis yang tepat waktu dan akurat, pengobatan dan manajemen obat, rujukan, transisi perawatan, pemantauan jangka panjang, hingga dukungan perawatan mandiri,” ujar Tara.