Kabut Asap Kota Ambon Kiriman dari Papua dan Pulau Seram

Jembatan Merah Putih (JMP) Ambon diselimuti asap (ANTARA/Dedy Azis)

Kabut Asap Kota Ambon Kiriman dari Papua dan Pulau Seram

Silvana Febiari • 8 October 2026 15:47

Ambon: Kabut asap yang menyelimuti Kota Ambon, Maluku, dipengaruhi asap kiriman dari sejumlah wilayah lain, terutama Papua serta Pulau Buru dan Pulau Seram. Pasalnya, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Ambon belum masuk kategori keadaan darurat.

"Asap yang ada di Kota Ambon saat ini bukan murni berasal dari karhutla Pulau Ambon, tetapi merupakan kiriman dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Papua, sebagian besar di Papua, serta sebagian kecil di Pulau Buru dan Pulau Seram," kata Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Maluku Haikal Baadila, dilansir dari Antara, Kamis, 8 Oktober 2026. 

Menurut dia, kondisi karhutla baru dapat dikategorikan parah apabila kualitas udara memburuk hingga mengganggu aktivitas masyarakat, kesehatan, maupun transportasi.


"Kalau kualitas udara sudah parah, kemudian mengganggu transportasi, kesehatan dan lain-lain, baru kita anggap parah dan ada status tanggap darurat yang dikeluarkan oleh BNPB atau BPBD," ujarnya.

Dinas Kehutanan Maluku bersama instansi terkait terus melakukan pemantauan dan pencegahan untuk mengantisipasi meluasnya karhutla di wilayah tersebut. Pemantauan dilakukan setiap hari menggunakan citra satelit untuk mendeteksi titik panas (hotspot) di berbagai wilayah Maluku.

"Setiap hari kami melakukan pemantauan melalui citra satelit. Ada aplikasi yang dibangun Kementerian Kehutanan (Kemenhut) sehingga kita bisa melihat titik-titik hotspot di Maluku," jelasnya.

Selain pemantauan, upaya pencegahan dilakukan melalui sosialisasi dan kampanye kepada masyarakat di 11 kabupaten/kota serta patroli di wilayah yang memiliki potensi terjadinya karhutla.

Sejumlah daerah yang menjadi perhatian dalam pemantauan antara lain Kabupaten Buru, Seram Bagian Timur, Maluku Tengah khususnya wilayah Seram Utara, Seram Bagian Barat, serta Kepulauan Tanimbar.


Polisi bersama warga berupaya padamkan kebakaran hutan dan lahan di SBT, Maluku. ANTARA/HO-Polda Maluku


Kondisi geografis Maluku sebagai wilayah kepulauan menjadi salah satu tantangan dalam penanganan karhutla, terutama dalam mobilisasi personel dan peralatan menuju lokasi kebakaran.

Dia mengatakan pencegahan menjadi langkah penting untuk menekan risiko meluasnya kebakaran. Upaya tersebut dilakukan dengan meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak membakar lahan secara sembarangan.

Dishut Maluku terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait dalam memantau titik panas. Setiap titik panas yang terdeteksi ditindaklanjuti untuk mencegahnya berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

(Silvana Febiari)