Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan (kanan). Foto: Antara.
Perbaikan Situs dan Cagar Budaya Pascabencana Sumatra Ditargetkan Rampung Akhir Tahun
Anggi Tondi Martaon • 5 November 2026 15:26
Jakarta: Kementerian Kebudayaan menangani situs dan cagar budaya yang terdampak bencana Sumatra. Banyak cagar budaya yang mengalami rehabilitasi atau perbaikan.
“Sudah (dilakukan), sudah proses ini, banyak aktivitas (perbaikan) di tiga provinsi di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara,” ujar Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan Restu Gunawan dikutip dari Antara, Kamis, 5 November 2026.
Restu menambahkan, proses rehabilitasi berbagai situs dan cagar budaya yang terdampak bencana di Aceh dan Sumatra ditargetkan selesai tahun ini. Namun, Kementerian Kebudayaan tidak menutup kemungkinan perpanjangan waktu dalam proses perbaikan.
“Targetnya tahun ini selesai, tapi (kalau belum selesai), nanti tahun depan dilanjutkan lagi,” ungkap Restu.
Kementerian Kebudayaan tengah menyiapkan kelanjutan program pemulihan ekosistem budaya pascabencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Persiapan ini mencakup rencana perbaikan rumah maestro, penyelamatan cagar budaya dan manuskrip kuno, revitalisasi museum, serta rehabilitasi bangunan dan fasilitas kebudayaan yang terdampak bencana.
Kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkuat kesiapsiagaan terhadap risiko bencana pada masa mendatang. Hal itu dilakukan dengan menekankan anggaran rehabilitasi pascabencana mempertimbangkan kebutuhan konkret di lapangan.
“Sejak tahap persiapan, kita juga harus memikirkan langkah antisipasi yang sesuai dengan risiko di setiap lokasi, sehingga anggaran yang tersedia dapat memberikan manfaat nyata,” sebut Restu.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Lita Rahmiati, menjelaskan bahwa rencana pemulihan di Aceh mencakup sejumlah objek dan fasilitas kebudayaan yang meliputi perbaikan rumah maestro, rehabilitasi sarana kebudayaan, serta penyelamatan objek dan sumber pengetahuan budaya yang terdampak bencana.
Di Aceh, rencana perbaikan rumah maestro mencakup 112 unit yang tersebar di sekitar 18 kabupaten kota. Para maestro yang menjadi sasaran program antara lain Maestro Saman, Maestro Canang Ceureukeh dan Rapai Uroh, hingga Maestro Rapa’i Bandar Khalifah.
Persiapan rekonstruksi dan rehabilitasi fisik juga mencakup sarana dan prasarana pacuan kuda tradisional serta Rumah Peradaban Gayo di Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues.
Melalui rencana pemulihan tersebut, arena pacuan kuda diharapkan dapat kembali dimanfaatkan sebagai sarana olahraga tradisional, sementara Rumah Peradaban Gayo dapat mendukung kegiatan kebudayaan masyarakat.
Pada aspek pelindungan cagar budaya, rencana pemulihan mencakup 314 objek cagar budaya (CB) dan objek diduga cagar budaya (ODCB) terdampak bencana yang tersebar di 18 kabupaten kota di Aceh.
Persiapan revitalisasi museum juga diarahkan pada Museum Kota Langsa dan Museum Nurul ‘Ala di Kabupaten Aceh Timur, dengan rencana kegiatan berupa pengkajian koleksi, konservasi koleksi, dan penataan ulang tata pameran.