Gunung Dukono Meletus Dua Kali Beruntun, Muntahkan Kolom Abu Setinggi 950 Meter

Warga melihat abu vulkanik keluar dari Gunung Dukono yang terlihat di area bekas banjir lahar dingin Desa Mamuya, Kecamatan Galela, Maluku Utara. ANTARA FOTO/Andri Saputra/foc.

Gunung Dukono Meletus Dua Kali Beruntun, Muntahkan Kolom Abu Setinggi 950 Meter

Silvana Febiari • 2 November 2026 09:06

Halmahera Utara: Gunung Dukono yang terletak di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, dilaporkan dua kali letusan beruntun pada Senin pagi, 2 November 2026. Salah satu letusan memuntahkan kolom abu vulkanik setinggi kurang lebih 950 meter di atas puncak.

Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan erupsi pertama terjadi pada pukul 09:11 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 950 m di atas puncak atau berada pada ketinggian 2.037 m di atas permukaan laut.

"Kolom abu dari letusan tersebut teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal yang bergerak condong ke arah barat. Letusan ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 18 mm dan durasi gempa tercatat selama 38,57 detik," kata Lana, dikutip dari Antara.


Tak lama berselang, aktivitas vulkanik gunung api aktif tersebut kembali bergejolak. Gunung Dukono tercatat kembali mengalami erupsi pada pukul 09:53 WIT. Tinggi kolom abu pada letusan kedua ini tidak teramati secara visual akibat tertutup awan atau kabut.

Letusan kedua tersebut terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum yang lebih besar, yakni mencapai 31 mm, dengan durasi gempa selama 44,76 detik. Hingga saat ini, tingkat aktivitas Gunung Dukono masih berada pada Status Level II atau Waspada.


Gunung Dukono lontarkan abu vulkanik. ANTARA/HO- PGA Dukono

Badan Geologi mengeluarkan rekomendasi agar masyarakat di sekitar gunung serta para pengunjung dan wisatawan tidak melakukan aktivitas, mendaki, maupun mendekati Kawah Malupang Warirang dalam radius 4 kilometer dari kawah aktif.

Selain itu, Lana mengingatkan letusan disertai sebaran abu vulkanik secara periodik kerap terjadi dan arah sebarannya sangat dipengaruhi oleh kecepatan serta arah angin.

Oleh karena itu, masyarakat di sekitar kawasan terdampak diimbau untuk senantiasa menyediakan masker atau penutup hidung dan mulut. Tujuannya mengantisipasi ancaman bahaya abu vulkanik terhadap kesehatan sistem pernapasan.

(Silvana Febiari)